MENCARI PUTI BUNGSU

Pada air tenang dalam talam itu
kembali aku cari tubuhmu

kulihat sebuah dusun tersibak dari balik kabut pagi
barangkali itu kota tersumbul seusai asap berhari-hari

lenguh seekor babi hutan diterkam anjing pada bagian leher
gerung truk-truk tua pengangkut pasir pada pendakian kesekian

Baca lebih lanjut

LENGGO GENI KEPADA CINDUA MATO

Telah aku himpun berpuluh lesung berikut alu, Kakanda
ketika tiga malam berturut-turut
murai memekik di tandan buah kelapa
dan bengkalai kain selesai kubakar
sudah jadi abu, sudah berupa debu
lesung dan alu kubuat berbunyi bertalu-talu
hingga tanah membikin lindu
lenganku berharap segera terkait tulang belikatmu
rambutku berkibaran sudah sementara angin kosong tiada menderu
entah mambang dari gunung mana
entah hantu dari lembah mana
membikin gerak jantung ini kian menggila.

Baca lebih lanjut

MONOPOLIS & TUBUH PANGGUNG

DSC_2440 - ed

Pertunjukan teater Komunitas Seni Hitam Putih berjudul Monopolis (Sabtu, 25 Maret 2017) lebih terlihat seperti sebuah usaha untuk “mempertanyakan” kembali tema Helateater Komunitas Salihara 2017 mengenai teater non-verbal (teater tubuh). Apakah non-verbal hanya dimaksud untuk teater tanpa kata-kata, tanpa dialog, dan seutuhnya mengandalkan dramaturgi tubuh? Atau malahan ketika bagian dari pertunjukan tersebut tidak lagi menggunakan kata-kata dan dialog, tubuh malah hadir secara verbal?

Baca lebih lanjut

RAISYA, YANG MELAWAN DENGAN RATAP

Dalam catatan Parada Harahap (lihat saduran ulang Suryadi, Leiden, dalam Kilas Balik: Poligami di Minangkabau Dari Pantai ke Pantai: Perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan Maart – April 1926, dituliskan bagaimana lazimnya orang-orang beristri banyak (poligami). Ia menyebutkan bahwa adat (di Minangkabau) meluluskan orang untuk beristri hingga empat, dan kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh banyak orang, dan sebagian menganggap bahwa beristri (atau kawin) hingga berkali-kali adalah tanda kemegahan dan kemahsyuran. Bahkan ada yang mengganggap beristri banyak sebagai pencaharian (mata pencarian), karena kerap antara istri pertama, kedua, atau ketiga, berlomba-lomba untuk menyenangkan hati si suami setiap pulang ke rumahnya, dengan menyediakan makanan yang lezat-lezat termasuk memberikan uang. Dengan keadaan yang demikian, maka pihak suami menjadi manja, dan menganggap perempuan jadi perkakas kerja dan untuk menyenangkan hati saja.

Baca lebih lanjut

PUISI INDONESIA: DARI “MODERNISME” HINGGA “POSMODERNISME”

Dalam era modernitas ilmu pengetahuan dianggap kategori pokok yang mengatur dan menyatukan narasi-narasi lokal. Sains dianggap tunggal (metanarasi) yang memayungi sub-sub ilmu lain. Dua narasi besar (grand-narratives) muncul pada era modernitas, sejak tahun 1700-an, telah muncul untuk melegitimasi ilmu pengetahuan. Lubis (2014:131) menjabarkan bahwa narasi tersebut, pertama, adalah kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan dapat membawa umat manusia pada kemajuan (progress). “Mitos politik” ini menjustifikasi sains sebagai alat untuk pembebasan dan humanisasi. Narasi kedua, menurut Lubis, bersifat filosofis dengan menggambarkan bahwa “subjek” yang sadarlah yang memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan itu. Sebagai reaksi terhadap peran keyakinan dalam menentukan kebenaran dalam abad Pertengahan, para pemikir modern menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh dipengaruhi oleh nilai religius atau kepentingan pribadi ilmuwan. Ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, dengan demikian ilmu pengetahuan harus dijauhi dari bias subjektivitas, nilai moral atau kepentingan tertentu di luar pengetahuan itu.

Baca lebih lanjut

14 TAHUN NIRWAN DEWANTO

Ketika Nirwan mengirim pesan melalui WA (WhatsApp), mengucap pamit, tidak lagi menjaga halaman sastra Koran Tempo, saya mencari-cari kembali kliping puisi saya yang dimuat pertama kali di Koran Tempo. Saya tidak menemukan klipingan tersebut, tapi saya ingat, bulan April 2007, puisi saya dianggap lulus dalam pembacaan Nirwan dan dimuat setelah dua tahun berturut-turut mengirimkan karya. Puisi tersebut empat judul “Jalan Puisi 2”, Jalan Puisi 4”, “Jalan Puisi 8”, “Jalan Puisi 12”, bersamaan dimuat dengan puisi Kak Ida (Nurwahida Idris).

Dua tahun tidak dimuat menimbulkan pertanyaan, “kenapa tidak dimuat?”, dan lulus seleksi Nirwan juga menimbulkan pertanyaan, “kenapa sampai dimuat?”. Senior dan dosen saya di kampus—waktu itu saya mahasiswa tahun kedua di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas—mengatakakan bahwa Nirwan sangat selektif dalam memilih karya dan “menumbangkan” pembacaan Nirwan bukan berarti pencapaian tapi dera dalam proses kreatif. Dalam artian, kata senior saya, barangkali karyamu jelek dan karena kamu sudah terlalu sering mengirim lantas dimuat. Atau barangkali puisi belum baik benar, tapi akan terus membaik, jika kamu merawat proses perpuisianmu dengan baik. Saya juga diejek (sambil bercanda) oleh salah seorang dosen, ia berkata “puisimu dimuat Nirwan karna dilaluan hantu (kebetulan, dibantu hantu), dan barangkali cuma sekali ini dimuatnya”. Dosen yang terus-terusan mengejek saya tersebut, Ivan Adilla, malahan mentraktir saya selama seminggu karena puisi saya dimuat itu.

Selanjutnya setelah April 2007 itu puisi-puisi saya kembali dimuat—tentu tidak setiap pengiriman karya dimuat. Komunikasi saya dengan Nirwan juga terjalin dengan baik beberapa tahun sesudahnya. Jika diingat, selain saran dan masukan diberikan Nirwan terhadap perkembangan perpuisian saya, diskusi seputar kesusastraan di Sumatera Barat dan beberapa daerah lain Indonesia, ia juga menerima keluhan saya dari persoalan skripsi sampai kehilangan laptop.

Soal kehilangan laptop, mungkin selain penjaga halaman sastra, Nirwan juga terbiasa dan sudah siap mendengar keluhan pribadi pengarang yang karyanya dimuat—atau yang beginian saya sendiri yang mengalami. Pada waktu, tahun 2008, setelah beberapa hari puisi saya dimuat, saya mengirim pesan pendek ke ponsel Nirwan dan mengatakan bisakah honor saya dikirim cepat karena saya kehilangan laptop—laptop orang pula saya pinjam. Lantas Nirwan memberikan nomer ponsel bagian keuangan Koran Tempo dan dia meminta saya bersabar atas kehilangan itu. Seingat saya, jika tidak persis, dia bilang, “Saya juga pernah mengalami kehilangan barang sewaktu mahasiswa, Bung. Bersabarlah”.

“Bung,” memang begitulah Nirwan setahu saya memanggil orang-orang muda. Dengan panggilan itu saya dan rekan-rekan serasa tidak berjarak. Baik ketika bercanda dan berdiskusi serius. Saya secara pribadi, sampai hari ini, melihat dan memperhatikan bagaimana Nirwan memposisikan diri sebagai penjaga halaman sastra. Tidak ada kata “senioritas” atau pamuncak, ia selektif, dengan pembacaan yang menurut saya bersih dari unsur-unsur di luar karya. Saya pun secara pribadi, dari tahun 2007 selalu mengirimkan surat elektronik dengan bahasa resmi kepada seorang redaktur, apabila mengirimkan karya ke Koran Tempo, meskipun besoknya saya bertemu dengannya—kecuali sekali, Desember 2016.

Banyak hal lain sebenarnya, secara pribadi, di luar bagaimana posisi Nirwan sebagai redaktur sastra dan hubungan perkawanannya dengan rekan-rekan muda di Sumatera Barat. Dua kali sudah saya mengundangnya datang ke Padang. Pertama sewaktu diskusi buku puisinya Buli-Buli Lima Kaki, di tahun 2009. Saya berkata, bahwa komunitas saya tidak punya uang untuk membiayai ongkos dan penginapannya di Padang. Tapi ia berupaya mencari jalan kedatangannya sendiri. Sesampai di Padang, di luar agenda diskusi, Nirwan sempat bertanya persoalan bagaimana kami (saya dan rekan-rekan di Komunitas Kandangpadati) menulis? Ia bertanya soal fasilitas komunitas kami. Saya bilang, kami punya dua komputer (kalau tidak salah Pentium II) yang kadang-kadang sering ngadat, dan kami bergiliran menulis karya dan tugas kuliah. Kami bergiliran menulis mengunggu rekan-rekan lain tidur. Seingat saya, waktu itu ada sembilan warga kandangpadati menulis karya sastra. Nirwan bilang, dia akan memberikan satu laptopnya untuk kami dan beberapa buku, asalkan barang-barang tersebut akan dijadikan milik komunitas dan tidak dikuasai secara pribadi. Waktu itu saya tidak dapat menjamin akan menjaga barang-barang yang akan ia berikan pada kami. Saya dan rekan-rekan urung menerima pemberiannya.

Kedatangannya kedua di Padang dalam rangka Padang Literary Biennale tahun 2014. Kami memintanya untuk memberikan kuliah umum. Saya dan rekan-rekan di Padang juga tidak mempunyai uang untuk membiayai ongkos dan penginapannya. Tapi ia mengupayakan kedatangannya sendiri dan mencarikan jalan untuk kami. Saya dan rekan-rekan juga tidak perlu susah-susah harus menemaninya selama di Padang dan menyediakan ini dan itu. Pagi-pagi kerjaaannya menyewa sepeda di hotel tempat menginap dan berkeliling-keliling di sekitaran kawasan kota tua Padang. Seringkali ia juga jalan kian-kemari sendiri.

Kesusastraan di Indonesia, yang kadang orang-orang di dalamnya terlalu gampang menduga-duga dan menuduh seseorang, sosok Nirwan memang tidak luput dari itu. Tapi berdiskusi dengannya secara pribadi menjauhkan saya dari dugaan-dugaan itu. Nirwan selektif, ia membebaskan pembacaannya dari bias tetek-bengek lain di luar karya. Satu hal yang saya ingat lagi, di sebuah hari Kamis tahun 2009, tiga hari sebelum karya saya ditayangkan, tiba-tiba ia menelpon. “Bung, benarkah ini kata-kata yang kau maksud dalam puisimu?” lantas ia membacakan penuh satu puisi saya dan mengoreksi kata per kata. Saya jadi kelimpungan dibuatnya dikarnakan ada dua kata yang salah tulis. Ia membetulkan, dan bilang, “penyair kok salah tulis gini…”.

Nirwan juga berupaya memberikan kabar sehari sebelum pemuatan karya dan sempat lelah atas usahanya tersebut saya pikir. Tahun 2009, ia juga pernah mengirimkan surat ke seluruh penulis-penulis yang mengirimkan karya ke alamat ktminggu@tempo.co.id, dengan memberi kabar bahwa penulis yang karya-karyanya akan ditayangkan di Koran Tempo akan dikabarkan sehari sebelum pemuatan via pesan pendek—langsung dari dia ke ponsel penulis. Tapi barangkali usaha Nirwan itu tidak sampai setahun. Barangkali banyak hal yang membuatnya tidak meneruskan itu.

Dan kini, di penghujung tahun 2016, empat belas tahun setelah ia menjaga halaman sastra Koran Tempo, ia mengucapkan pamit. Saya mengucapkan terima kasih telah menyeleksi puisi saya beberapa tahun belakangan. Dua hasil seleksinya di Koran Tempo turut saya alihkan menjadi judul dua buku puisi saya, “Dalam Lipatan Kain” tahun 2015 (dimuat Koran Tempo, Minggu, 16 November 2014) dan “Sarinah” tahun 2016 (dimuat Koran Tempo, 29 Maret 2-15). Terima kasih, Nirwan Dewanto, sudah menjadi contoh penjaga halaman sastra yang baik!