DI HADAPAN KEDAI NASI

Di hadapan kedai nasi
kota sudah demam 36o C
harum dendeng bakar, rendang setengah jadi, daun asam disangai
di atas pagu, dan potongan koran berisi sajak seorang penyair tua
tentang kangen pada masa muda: ketipak kaki kuda, angin pulau seberang
mengirim gumpalan garam, harum rempah dari gudang-gudang tepi muara
suara lintasan kereta bara…

Baca lebih lanjut

OSLAN DI FREKUENSI 92.4

sarinah

Di frekuensi 92.4 FM, RRI Pro 4 Padang, suatu Senin pagi di awal tahun 2015 (antara Januari dan Februari) suara Oslan Husein mendendangkan lagu yang baru saya dengar. Siaran radio di frekuensi yang khusus menyiarkan lagu-lagu Minang ini memang gemar saya dengar dari tape mobil apabila mengantar dan menjemput istri di kantor. Dan di Senin pagi, yang tanggal persisnya saya lupa itu, adalah Senin pagi yang benar-benar membuat saya penasaran. Saya memptertegas volume suara tape dan menghapal beberapa lirik lagu Oslan tersebut untuk kemudian saya lacak. Beberapa kata dalam lagu yang didendangkan Oslan itu saya simak baik-baik, saya reka-reka, saya perkirakan bagian mana yang menjadi judulnya.

Baca lebih lanjut

PULANG KAMPUNG #2

Tanah Jao
Rantau rancak sadonyo mamuji
Kotonyo santiang, balabuah batembok
Balampu tak baminyak

Oi liek pulo
Malang untuang oi urang dagangnyo
Sen ciek haram kok basuo
Dompet lah barisi jo aia mato

Laruik sanjo
Laruik sanjo hati den kok ibo
Bak kami nanko alah rindiah pauik
Manahan tumbok baju

Alah marengkak
Galang-galang ndak manginyam nasi
Hanyo ubi dapek pambujuaknyo
Litaklah paruik, den piciangkan mato

“Tanah Djao” Vocal Elly Kasim diiringi The Step, ciptaan N.N

 

Kalau kau pulang hari raya, bertemu kawan sapamainan, salapik-sakatiduran, satu hal yang paling dihindari adalah jangan sampai turut manyukek-an angok. Saya tidak tahu istilah puitik manyukek-an angok ini munculnya sebab apa. Tapi yang jelas istilah itu menyakitkan, berdekatan dengan mahajan tuah, kau memperlihatkan-mempertontonkan-menceritakan kepiawaian, kemahiran, dan segala yang ada padamu pada kawan di hadapanmu.

Kau bisa bayangkan, yang di-sukek (bambu besar penakar ukuran padi—bukan untuk beras) itu angok (napas), yang ditakar itu adalah hidupmu. Tapi saya meyakini juga istilah tersebut yang membawa perantau modern berkirab dari kampung halaman. Saya mengistilahkan perantau modern, berbeda dengan perantau dengan pola yang diceritakan Elizabeth E. Graves dalam buku Asal Usul Elite Minangkabau Modern. Bukan perantau yang pergi dari kampung halaman sebab di kampung-kampung mereka tidak mempunyai lahan subur yang bisa mereka garap untuk berladang dan bersawah. Bukan perantau yang pergi, meninggalkan anak-istri di kampung selama setahun, lalu pulang pada lebaran tiba, dan begitu seterusnya. Konon, kabarnya pola merantau seperti ini memang sudah ditinggalkan sejak gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) diluluh-lantakkan oleh tentara pusat.

Hari ini saya percaya, istilah manyukek-an angok selain menyakitkan, akan menjadi kekuatan bagi mereka yang gigih. Istilah tersebut jadi rotan pelecut bagi mereka yang merasa galeh-nya dibeli oleh kawannya, oleh lawan bicaranya. Maka ia pergi pula ke rantau, berharap ketika ia pulang, orang tidak bisa lagi manyukek-an angok-nya, galeh-nya tidak bisa lagi dibeli orang. Maka satu pertanyaan muncul lagi di kepala saya: mengapa kau merantau?

Jika di tahun 2003, saya akan menjawab pertanyaan tersebut, dengan beberapa jawaban: ingin orang-tua saya naik haji seperti orang tua si anu, ingin membangun rumah bagus untuk orang tua seperti si anu, menyekolahkan adik-adik saya seperti si anu menyekolahkan adiknya, mengirimkan ponsel pada semua anggota keluarga seperti si anu, mengirimkan televisi 32 inci seperti si anu, mengirimkan pemutar vcd lengkap dengan pelantam besar seperti si anu mengirimkan pada keluarganya (pemutar vcd yang bisa memasukkan tiga vcd sekaligus, konon pemutar vcd tersebut dibeli murah pada tahun 1998 pasca ketusuhan di jakarta), dst. Itu semua untuk keluarga, lalu saya, mengapa saya merantau? Kau tahu, ketika si anu turun dari mobil sedan memakai 501 dan memperlihatkan merek yang sengaja dibikin berlebih oleh perusaan garmen tersebut, lalu sepatu Puma Ferrari merah menyala, dua dompet kulit tebal dimasukkan ke masing-masing saku depan, benar-benar gagah betul. Yang pasti, si anu sedang mencari bunga kampung, dan tentu saja ia akan bisa menikung siapa saja, termasuk menikungmu. Itu motivasi saya. Segala motif berdasarkan si anu!

Tapi “nasib adalah kesunyian masing-masing”, kata Engku Chairil, saya sebagaimana orang kampung saya percaya betul mengenai hadist “sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah berdagang”, ternyata satunya adalah saya. Saya sudah mencoba “sekolah alam rantau” sebagaimana orang kampung saya itu, jadi penunggu bofet jamu, berjaga di kedai nasi, berjualan plastik, tapi entah mengapa tidak ada jalan niaga membentang di depan saya. Yang ada, hampir tiap malam saya turut minum Intisari, Anggur Putih, dan paling mantap itu VSOP di Bandung. Saya tidak gesit berdagang dan ketakutan terbesar saya adalah induk semang merugi. Satu jalan ternyata dibentangkan pada saya, jalan yang seperti tokoh “Orang Padang” dalam sinetron Bajaj Bajuri (saya lupa namanya).

Dan tahun ini saya pulang ke kampung. Saya tetap merasa pulang hari raya adalah pulang yang berbeda, sebab semua anggota keluarga pulang, saya bertemu adik-adik saya. Meskipun orang bilang rantau saya cuma di belakang pagu dapur, cuma selemparan batu, memicing mata saja sampai ke kampung (sebab Padang – Solok dekat dan kawan-kawan mengolok begitu), saya tetap merasa pulang berhari raya berbeda dengan pulang-pulang yang lain. Dan saya tetap memahami konsep rantau adalah bertolak dari rumah ibu, berkirab dari kampung, mencari peruntungan. Dan dalam pandangan orang Minang, bukankan Padang juga daerah rantau? Meskipun masih sebentang pesisiran (utara dan selatan). Yang pasti, dari hari ke hari, motif merantau seperti 2013 lalu telah lama berpiuh, menukik ke arah lain.

Saya pulang, tidak ada kegelisahan sebenarnya di kampung, seperti kegelisahan materil yang dikabarkan orang-orang rantau. Kecuali padi kena hama, panen gagal, dan jalanan kampung yang tidak lagi tersentuh perbaikan oleh pemerintah (jalan itu diperbaiki hanya ketika kampung mendapat jatah jalur Tour de Singkarak). Jalan yang kian hari kian buruk dilewati dari pagi hingga malam oleh truk-truk perusahaan tambang yang mengangkut cadas bukit dari arah Paninggahan. Rumah-rumah terus berdebu tiap kali dibersihkan dan orang-orang yang selalu takut anak mereka terkena infeksi saluran pernapasan.

Kini, saya membenarkan apa yang dikatakan kawan saya, seorang penyair yang memilih tinggal di kaki Singgalang, di daerah Pandaisikek sana. Di kampung, jika azan subuh berkumandang kau tinggal turun dari rumah, mandi, ke surau, lalu menghabiskan pagi di lepau dengan segelas kopi dan ketan goreng pisang. Kau tinggal memilih kapan pergi ke sawah, siang kembali lagi ke lepau, ke sawah lagi, dan ketika senja datang kau pulang melihat anak-istri. Ke lepau lagi sehabis magrib menonton berita di televisi dan turut berkomentar tentang suhu perpolitikan negeri ini. Turut berkomentar, mengumpat-ngumpat, dan tentu tidak akan pernah didengar.

PULANG KAMPUNG #1

Mande baladang di rumpun pisang
Jalan mamutuih ka Labuah Tarok
Taragak bana badan nak pulang
Kapa nan indak namuah mambaok
Dek ringgi sayuik di saku denai
Ka naiak kapa diambek urang….

(“Taragak” vokal Elly Kasim, iringan Orkes Kumbang Tjari, Ciptaan Masroel Mamudja)

Sitinjau Lauik

Sitinjau Lauik

Di Nagari Atar, Kecamatan Padang Gantiang, Kabupaten Tanah Datar, sebuah tugu (monumen) berbentuk mesin photocopy didirikan beberapa tahun silam oleh perantau nagari tersebut. Sebuah lambang bahwa mesin tersebut telah membawa kebaikan. Konon, di rantau, sebagian warga Nagari Atar adalah pengusaha percetakan, mereka hidup berbekal mesin photocopy, mencari peruntungan hidup dengan usaha penyalinan dokumen. Monumen photocopy didirikan dan seakan menjadi lambang bahwa rantau dengan bermodalkan mesin yan ditemukan fisikawan Amerika Serikat, Chester Carlson, pada tahun 1936 tersebut adalah sebuah pilihan untuk “bertarung” di rantau. Warga Nagari Atar, melalui monumen tersebut, seakan mengukuhkan diri dan menampakkan identitas perantauan mereka.

Jalur dagang, perniagaan, memang salah satu titik tuju etnis Minang di jalan rantau. Tidak perlu heran, seperti warga Nagari Atar, mereka menampakkan identitas perantauan mereka dengan lambang mesin photocopy. Karena memang pola perantauan warga sebuah nagari di Minangkabau melalui jalur niaga seperti regenerasi dan mereka dididik di “sekolah alam rantau”. Beruntung memang, bagi sebagian perantau membawa modal dari kampung, dan sebagian lagi hidup dan belajar dari satu persinggahan ke persinggahan lain. Mereka belajar di satu bidang perniagaan dan mematangkan bidang tersebut.

Tidak mengherankan, jika kedai nasi Kapau di Kramat, Jakarta, hari ini dipegang oleh generasi ke tiga. Tidak mengherankan juga jika hampir semua perentau dari sebuah warga nagari di Minangkabau mengambil jalur perniagaan yang sama. Di kampung saya, belasan tahun lalu, hampir semua perantau berdagang jamu. Jika anda sekalian melihat atau pernah mampir di depot-depot jamu sekitar Semarang, Yogyakarta, Bandung, Solo, dll. Saya bisa memastikan mereka adalah warga kampung saya. Beberapa tahun lalu, warga perantauan dari kampung saya tersebut juga melakukan ekspansi besar-besaran ke daerah Sumatera (di luar Sumatera Barat). Sebagian lagi mereka mendirikan kedai nasi, kita mengistilahkan dengan Warung Nasi Padang. Di Makassar, sebuah rumah makan dengan nama “27 Provinsi” barangkali juga owner-nya sudah generasi ketiga. Di Yogyakarta, selain kedai nasi dengan nama sederhana (tidak sesederhana harganya) itu dimiliki orang kampung saya. Duta Minang contohnya, mungkin anda sekalian pernah mampir makan di sana? Sebagian kecil lagi perantau dari kampung saya berdagang rempah dan bumbu.

Di wilayah Jabodetabek, rata-rata mereka berdagang plastik. Mereka menyebar dari pasar-pasar tradisional hingga pasar modern. Di Pasar Blok M, Pasar Mayestik, Pasa Tebet Barat dan Timur, Pasar Blok A, dan saya bisa memastikan mereka ada di seluruh pasar di Ibukota Jakarta. Mereka seperti retail yang jika anda mendirikan tidak perlu mengurus izin dan hak paten pada perusahaan pe milik nama. Beberapa tahun belakangan, orang kampung saya gemar berdagang jus, hampir semua perantau, yang mempunyai kedai plastik mendirikan kedai jus. Mereka akan girang bersyukur apabila hari panas berdengkang dan murung apabila hujan turun. Dan ini baru satu nagari dengan identitas perantau di Minang (Sumatera Barat), berapa nagari ada di Sumatera Barat? Lebih kurang 877 (lembaga pemerintahan menyebut kelurahan).