TAK SAMPAI-SAMPAI

Kupiuh dendang terbaik itu, Sabai
di atas kereta terakhir
sebelum corong-corong toa stasiun mengurangi gemanya
pulang dihimbaukan berulang-ulang
lampu-lampu pudur teratur
dan jam malam membikin ingatan jadi pandir. Baca lebih lanjut

Iklan

PUISI DAN GAIRAH SEBUAH KOTA

Catatan ini dibuat untuk agenda diskusi Octofest 2017, 23 Oktober 2017, di Mataram, Lombok. Berangkat dari tawaran Kiki Sulistyo untuk membicarakan hubungan puisi dan proses penulisan puisi dengan kota. Saya memulai dari persentuhan saya dengan Padang. Melanjukan dengan contoh beberapa puisi dan peristwa puisi yang ditulia oleh beberapa penyair tentang kota. Tulisan ini hanya pembacaan awal untuk kemudian akan dilanjutkan kembali pembicaraannya di Padang dengan riset yang diupayakan lebih lengkap. Banyak karya-karya tentang kota di Indonesia yang tidak dapat saya runut dalam makalah ini. Mudah-mudahan mendapat pemakluman dari pembaca sekalian. Salam hangat.

Sila unduh pdf:

PUISI DAN GAIRAH SEBUAH KOTA

OBITUARI LEON AGUSTA: SEMUA SUDAH DIMAAFKAN, SEBAB KITA PERNAH BAHAGIA (DAN MAKALAH LAINNYA)

Makalah ini dibacakan saat “Diskusi Kamis: Warisan Sastra Indonesia” dalam program LIFEs (Literature & Ideas Festival Salihara) 2017, Kamis, 12 Oktober 2017, Pukul 19.00 – 21.00 WIB. Sesi ini membicarakan sastrawan Indonesia yang meninggal dua tahun belakangan (2015-2017). Dalam sesi ini dibicarakan pula mengenai Gerson Poyk oleh Berto Tukan dan Korrie Layun Rampan oleh Hasan Aspahani.

….

Sila unduh:

Esha Tegar Putra, Semua sudah dimaafkan

 

Terima kasih Rebecca Kezia dan Alpha Hambali sudah memberikan soft-file tulisan beberapa pembicara dalam prgram “Diskusi Kamis: Warisan Sastra Indonesia”. Kecuali Heru Joni Putra yang ingin memperbaiki kembali tulisannya dengan beberapa penambahan data, berikut saya bagikan tulisan Berto Tukan, Ni Made Purnama Sari, dan Hasan Aspahani:

Berto Tukan – Gerson Poyk: Pengembara Satir dari Rote

Hasan Aspahani – Korrie Layun Rampan dan Lengang Daerah Perpuisian

Ni Made Purnama Sari – Hamsad Rangkuti dan Rupa-rupa Rekaan yang Menjadi

 

 

 

PUISI-PUISI BAHAN DISKUSI PERPUISIAN MUTAKHIR SUMATERA BARAT DI KOMUNITAS SENI INTRO, PAYAKUMBUH (SABTU, 13 JUNI 2009)

Puisi-puisi berikut didiskusikan dalam agenda “Perpuisian Mutakhir Sumatera Barat”, 13 Juni 2009, di Rumah Gadang Komunitas Seni Intro, Payakumbuh. Tercatat 35 nama, dengan beragam puisi-puisi yang dikumpulkan oleh tim kurator. Puisi-puisi tersebut dipilih oleh tim kurator dari beberapa terbitan media massa (beberapa di antaranya dikirimkan oleh penulis untuk kemudian dipilih) rentang tahun 2005 – 2009. Kita dapat melihat sebaran puisi-puisi, beberapa media di antaranya, kini ┬átidak lagi menyediakan kolom puisi, atau media tersebut sudah tidak ada lagi.

Sila diunduh (pdf):

PUISI DISKUSI PERPUSIAN MUTAKHIR 2009