PAGI GIPSI

Di atas timbunan Tašlihan
kau tepuk rebana
kau dendangkan Djelem Djelem.

Pagi dengan dingin tertahan
angin lamban membentur dinding batu lama
memutar debu sisa berabad pembakaran tulang kuda.

Tapi di atas timbunan Tašlihan
kecuali pelancong dengan rambut tertabur bau rakija
mulut berisi baklava dan terkagum pada pandai bejana
tak ada lagi rombongan karavan tiba.

Djelem Djelem terus kau dendangkan
tepuk rebana dari kulit domba mengimbau masa lampau
mengimbau hantu legiun hitam penggorok kabilah berdarah harimau
mengimbau segala derau, biar ngendap dalam perasan daging anggur
biar lesap bersama asap dari bumbung dapur.

Dan pagi
gipsi,
jalanan
niscaya memberi,
dendang
membikinnya lapang.

 

Sarajevo, Agustus 2018

SARAJEVO, 23 TAHUN PASCA PENGEPUNGAN

IMG_3154 - Copy

Salah satu jalan di Sarajevo

Dua jam menaiki pesawat dari Ataturk Airport (Istanbul, Turki) ke Sarajevo International Airport membuat mata saya kelimpanan. Pukul 19.20 waktu Istambul, kota itu masih terang ketika pesawat lepas landas dan Sarajevo juga masih belum gelap betul ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat, pukul 20.20 waktu Sarajevo. Waktu Sarajevo mundur satu jam dari Istanbul dan lima jam dari waktu di Padang (WIB). Jauh hari sebelum melaksanakan program residensi penulis Indonesia dari Komite Buku Indonesia (KBN) yang bekerjasama dengan Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, saya sudah memasang aplikasi perpedaan waktu dunia, termasuk prediksi cuaca, dan saya mengetahui matahari baru akan tenggelam penuh pukul 21.00 waktu Sarajevo.

 

Baca lebih lanjut

ENJOY SARAJEVO!

IMG_3336

Vijecnica/Sarajevo City Hall

Di Sarajevo, lonceng gereja berdentang-dentang beberapa kali dalam satu jam, lantunan suara azan terdengar mengalun dari menara-menara masjid setiap waktu salat akan masuk. Musim panas seakan tidak berarti apa-apa bagi kota yang pernah mengalami masa pengepungan terlama dalam sejarah dunia modern dunia–pengepungan selama 1.414 hari dari tahun 1992 sampai 1995. Hujan turun tidak menentu. Suhu bergerak antara 12 C sampai 28 C. Musim panas seperti bukan benar-benar musim panas di Sarajevo.

Baca lebih lanjut

FORUM PENYAIR MUDA: SEBENTUK EMBRIO

Tulisan ini merupakan catatan saya setelah mengikuti Temu Penyair Empat kota di Yogyakarta, 2006.

“Kawanku yang baik, terima kasih untuk pemberianmu, sebuah antologi puisi berjudul Herbarium yang kau kirimkan kepadaku beberapa jam lalu. Ah, sudah terlalu lama aku tak mencermati perkembangan puisi dengan baik; mataku seakan kian rabun saja terhadap munculnya generasi-generasi baru kepenyairan kita.” Begitulah ucapan dari Muhammad Al-fayyadl ketika membacakan makalahnya yang berjudul “Kitab Murung Sendu: Surat Imajiner (kepada) Seorang Pembaca” pada pembukaan acara forum penyair muda 4 kota di Taman Budaya Jogja. Seketika itu Taman Budaya Jogja tengah didatangi oleh puluhan “penyair muda” yang terdiri dari 4 kota; Jogja, Denpasar, Bandung dan Padang (Sum-bar), dan para penggiat sastra dari berbagai daerah lain yang menyaksikan peluncuran dan bedah buku antologi puisi 4 kota (Herbarium).

Baca lebih lanjut

PERKARA LAMA YANG TAK PERNAH SELESAI (“MEMBACA” SAJAK PERKARA LAMA GUNAWAN MARYANTO)

Tulisan ini merupakan periode awal saya belajar menulis puisi dan artikel, tahun 2007. Tidak disunting dan dihadirkan sebagaimana versi awlanya.

Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, gitar dan lagu-lagu, Oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu (perkara lama; fragmen satu)

Baca lebih lanjut

MENGAJAK SABAI

Kembali ke arah selat, Sabai.

Sebelum kota ini membuat tumitmu

terus membentur pembatas jalan.

Kota ini akan terus menghitung dengkur

Dibuatnya kita mimpi berlari di antara kedai-kedai pakaian

menelusuri gang-gang sempit

dengan suara-suara mesin jahit terus menderu

dan akan terus ada ratap pukimak mengharu-biru itu.

Kita akan terjaga, akan terus dibuat terjaga

Dengan pandangan mata menghampang rumah-rumah tinggi

tiang-tiang tinggi, jalan-jalan membenam-meninggi.

Kita dibuat terjaga di meja makan dengan hidangan pagi

menghadapi ayam goreng potong empat

gulai ikan karang dengan insang membiru

dan bau kulit sepatu lama direbus dalam panci.

Kembali, sebelum mambang belang lima

penunggang hantu kuda jantan tak bermoncong

dan tak berpinggang itu tiba dari masa lalu

merampas selimut tidur hingga pakaian dalammu

merebut buku tata cara membuat kerang saus padang

dengan sampul bergambar pisau

dan sendok goreng menyilang, kesukaanmu itu.

Ke arah selat, Sabai

mari ke ruang di mana tidur

tidak dihitung dari berapa kali kita mendengkur.

Depok, 2017

Dimuat di Koran Kompas, 7 April 2018