SURFIVAL, DOMINASI RANTAU DALAM GARAPAN FILM

PANJAGO KAMPUANG - POSTER 1.0Bagaimana, saya selaku penonton ‘aktif’, memperlakukan film dalam tahapan kuratorial? Pertanyaan ini menjadi persoalan yang terus saya kembalikan pada diri sendiri ketika hendak menghadapi film-film hasil seleksi awal dari penyelenggara Sumbar Film Festival (Surfival) berdasarkan sarat ketentuan yang sudah mereka terakan pada formulir pendaftaran. Laku kuratorial tentu tidak saja hanya sekadar ‘memilah’, menata, atau menentukan hasil para kreator, melainkan juga melakukan pembacaan wacana bahkan mencari benang merah isu-isu apa saja yang berkembang dalam sebuah karya.

Baca lebih lanjut

PAMERAN KHAZANAH MINANGKABAU DALAM MANUSKRIP DAN KARYA INTELEKTUAL: PENGUATAN DATA SENI DAN BUDAYA

IMG_6752

Barang-barang milik sastrawan A.A. Navis (koleksi keluarga A.A. Navis)

Tidak mudah melakukan pendataan kembali, apalagi mengumpulkan, buku-buku para penulis dari Sumatera Barat atau penelitian yang berkaitan dengan basis kultural Minangkabau. Mulai dari buku karya sastra, penelitian sejarah dan budaya, memoar, hingga biografi dan autobiografi tersebar kian-kemari dan tidak ada satu lembaga yang mempunyai data lengkap atau mengoleksi buku-buku tersebut. Tidak hanya itu, makalah-makalah diskusi atau seminar seni dan budaya berikut dengan catatan penting dari diskusi atau seminar yang pernah diadakan di Sumatera Barat sulit untuk diakses kembali.

Baca lebih lanjut

SUBURBIA DAN KEGAGALAN MEMBACA TUBUH TRADISI

“Tubuh tradisi harus dipulangkan pada asalnya. Apa manfaat mengadakan pertunjukan dengan kerangka tradisi di ekosistem urban bagi pemilik kerangka tubuh tradisi itu sendiri?” Pernyataan sekaligus pertanyaan itu, meskipun tidak persis benar, diungkapkan seorang pelaku teater pada seorang direktur festival di ruang komentar media sosial. Saya menyimak, dan hanya bisa menyimak, perdebatan mereka yang berangkat dari dua perspektif.

Baca lebih lanjut

KOTA PUITIK, KOTA DARI DALAM PIKIRAN

padang_javasche-bank-en-wh-greve-memorial

Monumen De Greve, di depan Museum BI kini (di kaki jembatan Siti Nurbaya)

Di mata saya, Kota Padang selalu puitik, tapi pikiran saya juga terus dibikin lelah memandang beberapa ruang kota tersebut. Saya gemar berjalan di antara reruntuhan loji-loji tua di mana kopi dan segala rempah rempah kiriman dari dataran tinggi Minangkabau pernah dihimpun sebelum dinaikkan ke kapal-kapal dagang di Bandar Muaro Padang. Dalam sebuah catatan sejarah, di tahun 1790, sebanyak 2.000 pikul kopi pernah dinaikan ke kapal-kapal dagang. Terdengar fantastis memang, tapi di loji-loji mana kopi tersebut disimpan sebelum dinaikkan ke kapal? Saya hanya dapat mengela napas.

Baca lebih lanjut

PAGI GIPSI

Di atas timbunan Tašlihan
kau tepuk rebana
kau dendangkan Djelem Djelem.

Pagi dengan dingin tertahan
angin lamban membentur dinding batu lama
memutar debu sisa berabad pembakaran tulang kuda.

Tapi di atas timbunan Tašlihan
kecuali pelancong dengan rambut tertabur bau rakija
mulut berisi baklava dan terkagum pada pandai bejana
tak ada lagi rombongan karavan tiba.

Djelem Djelem terus kau dendangkan
tepuk rebana dari kulit domba mengimbau masa lampau
mengimbau hantu legiun hitam penggorok kabilah berdarah harimau
mengimbau segala derau, biar ngendap dalam perasan daging anggur
biar lesap bersama asap dari bumbung dapur.

Dan pagi
gipsi,
jalanan
niscaya memberi,
dendang
membikinnya lapang.

 

Sarajevo, Agustus 2018