HALLO, CINTA YANG JAUH DI MATA

Di kamar ini
ada bayangan senja pada muara,
perahu laju, perahu yang begitu laju.
 
Bunyi tampuk batang jambu yang patah satu-satu
dan sekabung sonet basi, bekas cinta tahun lalu.
 
Aku merasa hidup terus begini.
Bangunlah harilalu. Bangunlah dan berlalu.
(Sementara haridepan masih seperti
pakaian bulan kemarin tergantung begitu
di paku pintu)
 
“Hallo, Cinta yang jauh di mata. Kau masih
yang itu, masih yang begitu?”
Barangkali di sini, di kamar ini,
aku akan tunai menebakmu.
 
Pada sesak kipas angin,
pada piuhan udara yang itu-itu saja,
atau pada ruas-ruas loteng serta gaung langit-langit
—yang serupa stalagnit
mengisap terang cahaya—
loteng yang terus membangun ruang
untuk gerungan dan serak batuk.
 
“Hallo, Cinta yang jauh di mata. Kau sebagai
haridepan atau harilalu?”
Aku merasa selesai di sajak ini. Di kamar ini
bayangan perahu laju, perahu yang begitu laju. 
 
 

Iklan

4 thoughts on “HALLO, CINTA YANG JAUH DI MATA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s