SEPERTI DALAM PANTUN TUA

Seperti dalam pantun tua,
pertemuan kembali itu
senasib nasi basi ditanak kini,
pengulangan itu
serupa kerak kering terjemur buat digoreng esok hari.

Tapi pantun baru sekadar pemikat,
Kita mesti menarik-ulur
seakan saling bersauh layang-layang
yang patah pinggang,
duh, angin terus memiuh sedang bingkai setengah utuh.

Seperti dalam pantun tua,
Hari terus disihir bahasa hingga hitam kelat
atau sirah kelabu gurah.

Kasmaran semasam ampalam muda
kita dustai juga manis rasanya.

Tapi begitulah,
dalam mengobat nasib,
sebenar hitam mesti diputihkan juga
sebenar keras mesti dilunakan juga.

dan sekararam-karamnya amuk bercinta,
di penutup pantun,
kita mesti berusaha menampakkan muka girang
meski di dalam, raung jantung makin memanjang.

2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s