AMBIL SELENDANG

Di panggung kayu itu,

pangung malam di mana kita ambil sepasang selendang.

Dendang jadi semanis ukiran pada tepi dinding bendi

serasa angin lengkisau menghimbau, serasa lengkisau menyihir risau.

“Ambil selendang, Uda. Bawa menari agak ke tepi.” Aku tahu, berkali sepi terbunuh di sini. Seperti garik kaki balam di pucuk ampalam, tergetah pikat tengah malam, pucuk dengan getar waktu melulu masam. Aku tahu, seperti menganyam daun pandan terbuang. Tikar akan jadi, dan orang-orang akan duduk menghela badan.

“Lagu itu, gerak ombak. Tarian itu, kita dihempas terus ke tepi.” Dan ambil selendang, bawa menari, sebelum hari tua, tulang rusak, daging serasa rurut. Ambil selendang, sebelum malam padam dan sepi mati akan bangun sendiri. Aku akan pamit, aku akan pamit dari tarian ini, dari dendang ini, dari ayunan jumbai selendang ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s