KAMI SALING BERBALAS SURAT (1)

Surat ini ditulis pada seseorang perempuan (On Jan 25, 2012, at 10:56 PM), ketika hasrat ingin menulis surat dengan gaya seperti yang ada dalam roman zaman lalu. Dan surat itu pun akhirnya berbalas (On Jan 26, 2012, at 1:26 PM):

Surat saya:

Adinda, pautan hati, obat badan pelerai demam…

Adinda, hamba orang biasa belaka. Kalau dibiar, hamba akan hanyut sendiri, terbenam sendiri, tentulah harus adinda yang membuat aku terus berpaut ke hati adinda. Seperti kapal sebelum berlayar di Teluk Bayur, ombak gadang datang, tidak dipaut, dia akan dihempas terombang-ambing.

Aku bingung, adinda. Keadaan begini membuat kita serasa kembali ke zaman lampau. Ketika pantai Padang di hari Minggu masih banyak yang menyilau. Orang-orang itu, si laki-laki memasang sapu tangan segitiga di saku baju katunnya. Dan si perempuan layaknya orang dulu, berkebaya, itu hari Minggu hari plesiran. Bertemulah kita di sana, di antara kaum kasmaran itu.

Balasan surat untuk saya:

Kakanda Esha yang terkasih,

Mengenal kakanda tak dapatlah kukatakan bagaimana perasaan dalam kalbuku waktu ini; tak dapat kuceritakan betapa senang hatiku, melainkan Tuhan yang lebih mengetahuinya.

Telah lama kucita-citakan pertemuan yang sedemikian ini; baru sekarang kuperoleh. Wajah kakanda tiada hilang barang sekejap pun dari ingatan. Semakin lama kita tak bertemu pandang makin kelihatan dalam kalbu, makin nyaring kedengaran bunyi suara dan makin bertambah nyata segala tingkah laku kakanda.

“Anak Cina bermain wayang
Anak Keling bermain api
Jika siang terbayang2
jika malam menjadi mimpi”

“Terbang melayang kunang-kunang
Anak balam mati tergugur
Jatuh ke tanah ke atas kembang
Kembang kuning bunga cempaka
Jika siang tak dapat senang
Jika malam tak dapat tidur
Pikiran kusut hati pun bimbang
Teringat kakanda juga”

Besar hati adinda menerima surat ini. Kakanda janganlah merawan hati, takkan sampai hati adinda membiarkan kakanda karam seorang.

“Dari Medang ke pulau Banda
Belajarlah ke Bintuhan
Tiga bulan di kandung bunda
Jodohlah ada pada tuan”

“Meletus gunung dekat Bantan
Terbenam pulau dekat Jawa
Cinta jangan diubahkan
Jika putus, sambungkan nyawa”

Terimakasih, balasan suratmu bagus sekali. Ternyata ada kesamaan cara pula kita dalam berkirim surat (Esha Tegar Putra)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s