RATAP BAGINDO USMAN

Di alur peningkahan bunyi dendang akan selalu ada lagu kematian, anakku. Seolah aroma musim dingin selalu dihembus dari tiupan lubang saluang, dari lengking serunai orang pesisiran. Aku membangunkanmu, dari kedalaman tidur, dari pecahan tembikar hitam, dari lipatan tikar daun mensiang, dari tujuh lapis kain putih, dan siraman rampai pembuangan.

Bangun, bangunlah, di kejauhan selalu suara murai menyisakan tanda kehilangan, jeda yang tak lagi berjalan. Tapi sebuah tiang tinggi telah membentuk jejak dalam pada lingkar lehermu: aku paderi dari Rao, tigabelas tikaman pedang di hulu lembah Alahanmati, dan dua pelor kelereng sebelum pintu Amerongen. “Aku pamit, amak, ke ladang-ladang yang jauh dari ngilu ratap panjangmu itu…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s