SULUK

Di kamar ini, aku suluk

di kajiku yang baru sebatas betis putih gadis Payokumbuh
tak beranjak dari dada sejuntai pepaya ranum orang Palinggam.

Di kamar ini, aku suluk, selain kitab tentang nasi putih,
ikan asin gosong, serta seduhan kopi tanpa gula tebu,
segalanya kubenam dalam-dalam.

Selalu saja saat malam naik, dua di antara tujuh

lampu damar dengan api yang seolah hidup segan padam tak mau
mengabaikan dingin berlarut dalam bola mataku.

Dan di luar, di kejauan yang tidak sebentar,
angin deras bersahutan tegak-rebah
suara burung hantu, kodok hujan, dan jangkrik batu, pedih melulu.

“Aku lecut kau tiga kali
sebelum kau lancarkan kaji,” kalimatmu
bangkit sementara aku berusaha menjalin lidi pohon enau
dan meraut tulang ikan pari sampai benar-benar licin.

“Ini lidi, buat pelecut
bagi setiap tukang jalinnya,” tetap kajiku
tak beranjak dari betis, tak berjarak dari dada.

Dalam kamar,
dalam sulukku, kuhisap dalam aromamu.

“Dari tangan Tuhan, kecuali jarak dan waktu,
selebihnya telah kita rebut dan kita sajakkan,”
dalam suluk, aku dan malam berulang saling melecut diri.

2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s