PERNAH ADA SEBENTUK AJAL

Sesudah gerombolan anjing menyalak sahut-bersahut itu
kutemukan dua malaikat telanjang menanggalkan sayap
dan gemetaran diam-diam dalam matamu.

Seketika itu, kecuali warna lumut pada dinding batu
kota telah mengubah wajahnya jadi hitam kelabu.

Dan dalam matamu, dua malaikat saling menikamkan pisau
udara membuat garis ke angkasa untuk setiap titik tikaman.

“Pernah ada sebentuk ajal, seperti ciuman terakhir
yang asal,” kudengar salak gerombolan anjing meninggi
seperti kutukan sepi yang timbul-tenggelam di pergantian hari.

Tapi pada malam selalu ada pejalan mendustai diri di tepi-tepi
gedung yang mengeluarkan lagu perang penghabisan, lagu yang
mengirim sederet ledakan pada tampuk jantung ke hulu hati.

“Pernah ada sebentuk kematian pelan, seperti pelukan
dilepas diam-diam,” kecuali kekosongan abadi, angin siut
hanya matamu membuat gerakan liar dalam malam.

2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s