DI RUMAH KOPI

—dengan Irma W. Syafril

Di ruangan ini, gelas sewarna jintan, meja dengan aroma
tisu terbakar, pesanan latte. Seakan de Flore tempat Sartre
menyeruput kopi dan mengutuk hidup secara prosaik.

Kita bercakap tentang 1.000 tahun peradaban kopi
bertanya apakah ruangan ini ‘kafe’, ‘café’, atau ‘eafé’?

Lantas, kutirukan beberapa larik Baltsa ke telingamu
sebuah nomor Latin, Aspri mera ke ya mas….

Duduklah tenang. Aku ingin mencatat berapa kilometer
kecepatan angin, mencatat kelembaban udara, lantas
mereka-reka berapa dalam sedetik denyut jantungmu
ketika kubacakan sajak cinta. “Sebuah saja,” kataku
“aku sebuah, aku juga seulah,” balasmu.

Dan aku sadar kita serupa, kita sama bayangkan haru-biru
saluang Sawir mengiringi melankolik soprano Baltsa.

2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s