“DERING TELPON DI KAMAR 204”

Di salah satu sudut bar lantai dua Hotel Labersa, Kamis (27/10) malam, kira-kira pukul 11.00 WIB. Kami duduk berlima sambil berbicara tentang banyak hal. Saya, M. Aan Mansyur, Zaim Rofiqi, Gunawan Maryanto, penyair peserta Korea Asean Poet Literarture Festival (KAPLF) II dari Indonesia. Dan seorang lagi bernama Maung Day, penyair Burma (Myanmar) yang barangkali seusia saya. Maung tak sadar bahwa malam itu adalah malam terakhir saya untuk mengikuti kegiatan KAPLF, saya tak mengatakan padanya, tapi yang lainnya tahu.

Kami berlima bercerita, mengingat-ingat, bisa jadi mereka ulang apa saja yang telah di lakukan penyair-penyair dari berbagai negara setelah tiga hari kegiatan dikemudikan oleh Rida K Liamsi. Malam yang melankolik dengan iringan musik sendu. “The time has come, that we must be apart, the memory is still in my mind. But you have gone…” di telinga saya masih terngiang sepasang penyanyi bar melagukan tembang lawas berjudul “Why Do You Love Me” dari grub musik Koes Plus tersebut.

“Apakah kau senang ketika Raudal Tanjung Banua menulis lantas membacakan sajak untuk orang-orang di negaramu?” Saya mengulang pertanyaan yang siangnya sudah saya tanyakan pada Maung. “Ya, saya tidak menyangka, ternyata ada yang membikinkan sajak untuk kami,” sambut Maung. Barangkali, pikiran saya dan Maung malam itu sama, tentang suara-suara yang diungkapkan penyair dalam puisinya meski dalam batasan teritorial yang berbeda.

Di pikiran saya terbayang tokoh kemerdekaan Burma, Aung San, terbayang kudeta militer Ne Win (1962), terbayang gerakan protes terbayang protes para biksu (2007) sampai pada tahap kekerasan dan penyegelan pagoda—terbayang juga Aung San Suu Kyi yang ditangkap. Bisa jadi, di kepala Maung juga berkelebat Indonesia, gelombang protes 1998, berita tentang korupsi berkepanjangan—bisa jadi Maung juga telah membuat sajak untuk Indonesia, sperti Raudal membuat sajak untuk orang-orang di negaranya?

Aan Mansyur dan Gunawan Maryanto pun bertanya tentang kegiatan Maung. Tentang bagaimana kesusastraan berkembang di sana. Sampai pada persoalan apakah buku-buku sastra dunia mereka dapatkan dengan mudah. “Saya bisa mendapatkan sajak Octavio Paz, Pablo Neruda, sampai pada novel ‘Seratus Tahun Kesunyian’ karangan Gabriel Garcia Marquez, ‘Ayat-ayat Setan’-nya Salman Rusdie, dan lainnya. Tidak hanya dari buku, dari internet juga,” jawab Maung. Ia pun mengatakan dirinya ikut serta dalam beberapa penerjemahan karya dunia tersebut ke dalam bahasanya.

“Oh, bukankah huruf yang kau gunakan mirip dengan huruf yang kami pakai di Jawa?” Gunawan berungkap sembari memperlihatkan kartu namamya yang tertera huruf palawa pada Maung. “Benar, ini mirip sekali,” jawab Maung.

Zaim pun malam itu menyarankan pada Maung untuk ikut menerjemahkan karya-karya penulis Hungaria. “Ada undangan, beasiswa, bagi siapa saja yang menerjemahkan karya Hungaria,” kata Zaim yang juga merupakan penerjemah dan pernah diundang ke Hongaria tersebut. “Cheers….”, sesekali di sela perbincangan Gunawan dan Zaim berucap itu. Lantas kami pun mengangkat gelas yang berisi sedikit bir.

Malam semakin naik, sekira dua jam perbincangan, tidak panjang memang. Seiring pertunjukan musik melankolik diusaikan, kami juga usai berbincang, beranjak ke kamar masing-masing. Sebab esok paginya (28/10), saya harus bagun pagi sekali lantas pamit dari Acara KAPLF II. Sementara Aan, Gunawan, Zaim, dan Maung juga harus bangun pagi sekali untuk bersiap ke acara panel diskusi buku “Sound of Asia: Malay as World Heritage” di pustaka Soeman HS, Pekanbaru.

Manajemen baik, apresiasi baik

Pulang sehari lebih cepat dari Pekanbaru, dari agenda KAPLF II (Korean Asean Poet Literary Festival), tidak berarti harus pulang dengan ingatan yang kurang. Bukan sekadar sanjungan, tapi saya merasa semua menyambut kedatangan saya—tentu untuk seluruh undangan KAPLF II—ke Pekanbaru, ke tiap-tiap lokasi kegiatan yang telah disiapkan.

Dering telpon di kamar saya (dan Aan Mansyur) terdengar tiap pukul enam pagi. “Hallo, silahkan bangun, mandi, dan sarapan. Jam tujuh kita harus segera berangkat ke lokasi kegiatan…”, kata petugas hotel dan terkadang suara akrab seorang panitia perempuan yang kabarnya adalah redaksi di harian Riau Pos—saya memanggilnya (kakak) Novi.

“Kalian jangan keluyuran, isitrahat, susah mengurus penyair,” kalimat Novi masih teringiang di telinga saya. Hampir setiap malam, setiap jeda acara, jadwal makan, ia akan mengingatkan. “Kalian itu tanggung jawab kami, kalau kenapa-kenapa gimana?” Novi seolah membaca isi pikiran saya yang menyatakan: “Penyair kok dikekang begini. Dasar jutek!”

Tapi jadwal acara benar-benar padat. Panitia berkeinginan untuk tidak memusatkan acara di Pekanbaru saja. Mereka mengharapkan isi pikiran melalui karya yang dibawa oleh penyair dari berbagai negara di Asia tersebut bisa dinikmati (dan berbagi) sampai ke pelosok daerah Riau; dinikmati oleh petinggi pemerintahan, orang-orang perusahaan, seniman, masyarakat umum, meski awam sekalipun terhadap sastra. Misalkan pada hari pertama acara (25/10), di area PT Chevron, Universitas Lancang Kuning, di kediaman Gubernur Riau. Semuanya menyambut hangat peserta KAPLF II dengan beragam apresiasi. Orang-orang sakai di area Chevron pun ikut menyuguhkan tarian khas mereka dan memainkan Lukah Gilo. Murid-murid sekolah menengah dan mahasiswa menyguhkan musik dan tarian Melayu, sampai gubernur Riau unjuk kebolehan dalam pembacaan sajak.

Juga di hari kedua, Rabu (26/10) jadwal padat karena perjalanan panjang ke Istana Siak dengan menyusuri sungai. Saya, dan pastinya peserta lain ikut hibuk dalam keramah-tamahan masyarakat di sana. Bukan dalam persoalan ‘apa’ dan ‘berapa’ yang diberikan, tapi sambutan hangat, keinginan untuk bergagi khazanah kesenian dan kebudayaan mereka (Melayu) pada undangan KAPLF.

Di sebuah ruangan bagian belakang istana Siak, saya dan beberapa undangan dari lain baca sajak dan esai. Pemangku adat, perwakilan instansi pemerintah, abdi istana, siswa dan masyarakat umum pun menyambut hangat. Bisa jadi mereka tak paham betul soal apa yang kami berikan, tapi apresiasi yang baik tetap mereka berikan. Di sana pun saya menyaksikan tari zapin secara langsung untuk pertama kalinya, makan bajamba, dan mendengar musim alat pemutar kuno yang dinamakan ‘komet’.

Dan hari ketiga, Kamis (27/10), hari terakhir saya mengikuti KAPLF II, kami berangkat ke situs candi Muara Takus. Perjalanan panjang dengan bus yang selalu dipandu oleh seorang guide. Perjalanan melelahkan itu terhapuskan oleh bayangan masa lalu di lokasi situs, terhapuskan oleh sambutan masyarakat, terhapuskan oleh keunikan pembacaan karya oleh beberapa penyair.

Malam di hari ketiga itulah, di salah satu bagian bar hotel Labersa, kami duduk berlima dan berbicara tentang berbagai hal. Saya, Aan Mansyur, Gunawan Maryanto, Zaim Rofiqi, dan Maung. Malam dimana kami sehabis menyaksikan babakan dari libretto dari novel “Bulang Cahaya” karya Rida K Liamsi di Anjungan Seni Idrus Tintin. Malam di mana saya akan terus mengingat keseriusan agenda KAPLF II, mengingat apresiasi dari semua unsur yang membuat kegiatan tersebut terselenggara, mengingat karya-karya penyair yang hadir dari berbagai negara—yang tidak tersentuh di catatan perjalanan ini satu persatu.

“Kamu hubungi nomer ini 0812xxxxxxxx, dia akan mengantarmu pagi ke bandara…” pesan pendek Novi masuk dini hari. Saya tahu, ia dan panitia lain, bisa jadi belum tidur untuk mempersiapakan acara paginya.

Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi ingat dering telpon di kamar 204, sajak-sajak dalam bahasa asing, perjalanan yang diiringi mobil patroli, gulai ikan patin, jagung bakar di anjungan Idrus Tintin. Saya jadi ingat getaran Jefri Al-Malay saat baca sajak, saya ingat Khan Phoung penyair perempuan Vietnam yang menari bersama, Kho Hyeng Ryeol presiden persatuan penyair Korea itu membaca esainya dengan penuh haru, ingat Maong Day dan kesannya terhadap sajak Raudal. Saya ingat, meski potongan-potongan ingatan yang memendam nama-tempat-waktu tak saya tuliskan dicatatan ini satu-persatu.***

Esha Tegar Putra, kelahiran Solok 29 April 1985, peserta KAPLF II dari Indonesia (Padang).

Iklan

4 thoughts on ““DERING TELPON DI KAMAR 204”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s