KASMARAN PROSAIK II

Berapa jam sudah aku menujumu. Rel meregang panjang
di jalur Pariaman, gelap penurunan tajam di Kayutanam,
dan suara air deras di aliran lembah Anai.

Aku ingin kasmaran yang lain, dingin yang lebih dari
terumbu di laut dalam. “Aku kangen mata sipit
peranakan Bukittinggi itu, Rani. Jantung dengan detak
entah kaum mana, tapi dari dialek itu jelas ganihnya
air Payokumbuh.” Berapa jam sudah aku menujumu,
mata tukang teluh, mata yang akan membunuh
pemburu bahasa di kedipannya yang sekali saja.

Aku tahu kasmaran ini akan sebentar. Seakan kuda
pacuan patah kaki di putaran yang belum selesai, seakan
membidik punai terbang sebelum hinggap, aku juga
akan usai.

Aku juga akan selesai dalam sebuah sajak kiriman angin
lembah, angin penghabisan, angin yang akan diamuk
bersama gelombang gadang di tepi pantai terjauh.

Berapa jam sudah aku menujumu. Di pendakian
Panjang yang tak mesti aku bahasakan, diri dan sajakku
akan diamlantas membenam sendirinya. Dan bahasa
telah sudah, kalimat pemburu kalah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s