KASMARAN PROSAIK III

Di pelataran teater arena, aku menikmati angin dingin
Padangpanjang dengan jantung setengah lumpuh, setengah
lagi pura-pura baru habis sembuh. Kasmaran yang benar-
benar utuh, tanpa lagu hujan jatuh, tanpa juru sembuh. Dan
tubuhku serasa lemari pendingin yang senantiasa merawat
lebam di bagian dada serta tukak parah di bagian lambung.

Terlalu lembab udara di sini, radang tenggorokan, jeans butut,
jaket tertumpah cat akrilik, sepasang kasut merah bikinan
pengrajin Cibaduyut—sobek di tepi tanpa kaus kaki. Aku
merasa doa yang pantas, dan tak akan pernah terkabulkan
malam ini adalah berharap jatuh sarung tangan dari langit.

Aku menikmati kabut turun pelan, mengingat beberapa sonet
basi, sonet yang serasa baru bila dirapal dalam dingin begini.

“Tapi apakah sebenarnya yang membuat kita takhluk pada
hal begini?” Seperti kutukan, terkadang aku merasa angin yang
begini akan membuatku karam, aku merasa cinta yang begini
akan membuatku sudah—atau tak akan pernah bisa sudah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s