KASMARAN PROSAIK

 

Di ambin ini, apabila kota terbakar, terbakarlah. Di ambin
ini apabila kota membeku, membekulah. Tapi setelah
Overture 1622 itu dimainkan seorang pemusik dalam
ritme kesepian akut akan membunuh dirinya berkali-kali.
Seperti seorang pesulap berpakaian sopan menjadikan
meja sebuah pertunjukan teater dalam lakon tragik.

Dan sepasang kartu sulap bergambar hati sirah membara
akan menghukum aku, barangkali tidak kamu. Dengan
diktum bahwa setelah segelas kopi pukul 10 malam ini
habis, malam seterusnya akan mengendapkan diri dalam
temperatur udara dengan thermo yang tak beranjak dari
garis terbawah biru. Dan malam adalah sihir prosaik,
malam adalah sihir bahasa antik, dan kamu sihir cantik.

Lantas sulap prosaik sudah, dalam gerutu aku bacakan
sajak Abdul Hadi yang tak semua baris bisa kuingat, sajak
yang tak akan sedikit pun kau tahu, sajak yang tak akan
seorang pun di ruangan itu mengerti, bahwa musim tak
hanya beranjak dari ledakan garam di udara. Musim juga
beranjak dari gelombang rambut dan mata coklatmu yang
gemar memburu—musim yang akan menyudahi sajakku.

“Kau tahu, apa kata Marx sebelum mati?” katamu. Kulihat
di kedalaman dadamu ribuan kunang-kunang berkerumun
menghimpun cahaya lalu terbang memusar ke langit kota,
lantas terbakar di udara. Di ambin ini, apa yang terbakar,
terbakarlah. Di ambin ini, apa yang terbunuh, terbunuhlah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s