KAYA SIMBOL, MINIM EKSPLORASI (PEMENTASAN “MATA SUNYI” TEATER RUMAH TEDUH)

“Lampu padam lagi,” seorang lelaki berumur kira-kira 40 tahun menyahut seorang perempuan yang duduk di kursi jauh di belakangnya. “Seperti biasanya,” perempuan itu menjawab. “Kau belum tidur,” sahut laki-laki itu lagi. “Seperti biasa,” jawab perempuan sembari mengatakan, “tidurlah, hujan turun sampai pagi.” Lelaki itu pun berteriak, “dingin”. Lantas ruangan tempat si laki-laki dan perempuan itu duduk jadi riuh karena musik. Lebih riuh dari musik berawal lamban yang mengiringin percakapan dua orang itu.

Ruangan itu seperti ruangan club malam. Selain kursi berjauhan tempat si laki-laki dan perempuan duduk, di bagian sudut kanan ada tiga tabung terbuat dari plastik transparan yang di dalamnya masing-masing ada perempuan sedang menari. Seorang disk jockey (DJ), di antara tabung itu terlihat dengan lincahnya mengolah musik dari turntable dan menghasilkan bunyi musik elektronik yang mengatur ritme penari. Sesekali penari itu mengikuti ritme, sesekali tidak, seolah perempuan di dalam tabung itu mempunyai dunianya sendiri di luar musik.

Tapi suasana tersebut bukanlah di club malam, melainkan di panggung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Jumat (20/4) lalu. Suasana yang dibangun dalam pementasan “Mata Sunyi” karya Marhalim Zaini, sutradara Eka Satiawan, produksi ke 27 Teater Rumah Teduh Unit Kegiatan Seni Universitas Andalas. Aktor utama, si laki-laki (Feri Irawan) adalah seorang buta dan si perempuan yang disahut itu adalah istrinya, Ella (Ikka Klamazetta). Serta penari-penari dan DJ di panggung tersebut adalah bangunan suasana untuk pementasan tersebut. Suasana yang seakan-akan berada pada dunia di dalam ‘hasrat’, dunia yang bukan benar-benar ada di ruangan dialog antara sepasang suami istri tersebut melainkan di dalam dirinya. Atau tidak, itu adalah hasrat, dari sebuah kesepian akut yang ditanggungkan sepasang suami istri tersebut.

Dari awal memasuki pementasan tersebut penonton sudah dihadirkan dengan iriangan musik dari seorang DJ (Harry kurniawan). Musik yang sebenarnya adalah hasil permainan komputerisasi digabungkan alat musik organ yang dibentuk sedemikian rupa di panggung hingga terlihat seperti turntable. Dan DJ, seolah siasat dalam pementasan menghadirkan pemusik ke atas panggung.

Jika pementasan dibandingkan dengan suasana naskah “Mata Sunyi” yang ditulis oleh Marhalim Zaini tersebut, banyak sekali perombakan yang dilakukan oleh sutradara. Dan secara keseluruhan, usaha tersebut adalah siasat untuk naskah yang boleh jadi digolongkan sebagai naskah ‘kamar’. Naskah tersebut penuh dengan percakapan puitik dengan suasanaya melankolik, yang jika tidak disiasati dan dimainkan apa adanya akan terasa sangat monoton—akan hanya ada percakapan puitik dari sepasang suami istri yang kesepian.

Tapi tidak begitu dari pementasan tersebut. Dihadirkanlah beberapa penari, tiga orang bermain konstan di tabung dan dua orang bermain secara dialogis, seorang DJ, dan lampu kerlap-kerlip seakan panggung itu diusahakan menjadi club malam. Kesemuanya itu adalah siasat bagi naskah yang awalnya boleh jadi digolongkan naskan ‘kamar’. Meski usaha tersebut tidak sepenuhnya utuh.

Pementasan tersebut pun bercerita tentang sepasang suami istri yang dirajam kesepian selama tujuh tahun usia perkawinan mereka. Si suami buta seorang yang dianggap misterius oleh si istri bernama Ella yang sejatinya seringkali disebut sebagai “penyair”. Tapi siapah yang lebih sepi, si suami atau si istri? Dan tarik-menarik dialog kesepian inilah yang terjadi di panggung. Di satu sisi, si suami tak pernah mengungkapkan keinginannya pada si istri akan tetapi mempertanyakan soal cinta. Di sisi lain si istri juga mempertanyakan cintanya, sedangkan dari tujuh tahun usia perkawinan mereka tak sekalipun si suami menjalankan tugasnya selaknya suami; memberikan nafkah lahir dan batin.

Percakapan demi percakapan puitik hadir, beberapa aforisma-aforisma penyair seperti Octavio Paz dan Derec Walcottt membayangi percakapan dua orang aktor tersebut. Percakapan mereka pun seakan percakapan dua orang intelektual yang membicarakan soal sejarah manusia, puisi, politik, terutama soal cinta dan kesepian akut.

Meski di dalam pementasan tersebut ada gairah yang dibangun sebagai siasat untuk membuka jalan bagi naskah ‘kamar’ yang putik di atas pentas, tapi beberapa bangunan permainan di panggung kurang mendapat eksplorasi. Misalkan pada tiga orang penari di dalam tabung transparan. Pada klimaks pementasan tersebut, tuntutan seorang istri pada suami yang tidak menafkahinya secara badani, tak ada eksplorasi lebih pada bagian tersebut.

Bisa jadi, tiga penari di dalam tabung akan mendapat tafsir yang berbeda seketika penari tersebut dengan tubuhnya bisa membangun ruangnya seakan ‘janin’ yang hendak dan ingin ‘dikeluarkan’, tapi tidak juga dikeluarkan. Atau bisa jadi penari tersebut dijadikan ‘gairah seksual’ dari seorang istri dalam kesepiannya akan sentuhan si suami. Tapi boleh jadi, semuanya serba boleh jadi dalam tafsir, begitu pula seketika sutradara memberi tafsir untuk naskah tersebut.

Hal yang utama, dari pementasan “Mata Sunyi”, adalah sambutan penonton. Setidaknya ratusan penonton datang memberi apresiasi. Tim manajeman Teater Rumah Teduh melakukan lagi usaha untuk menjadikan teater sesuatu yang bisa dihidupi secara bersama di balik persoalan keluhan biaya produksi. Dengan tiket yang dijual seharga 5.000 rupiah, meski tidak akan mencukupi, mereka mampu menjaring dan meyakinkan penonton bahwa sebuah pementasan teater layak untuk ditonton dengan mengeluarkan sedikit uang: setidaknya hal itu akan membantu menghidupi teater.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s