PUISI, FANTASI TEKS VISUAL

Puisi, saya ingin mendahului gejala kebahasaan dengan puncak estetika cemerlang tersebut melalui kutipan Octavio Paz dalam esainya di buku The Other Voice: Essay on Modern Poetry (1991). Bahwasanya, dalam tradisi modernitas dan pemberontakannya, puisi menduduki tempat yang utama, sentral, dan sekaligus eksentrik alias aneh. Dikatakan sentral karena sudah sejak awal ia merupakan bagian yang esensial dari arus besar kecaman dan subversif yang berlangsung dari abad ke-19 dan ke-20.

Paz beranggapan, bahwa puisi suatu bentuk pengecaman skandal modernitas di antara revolusi dan agama, puisi merupakan ‘the other voice’ (suara lain) karena ia adalah hasrat-hasrat dan visi-visi. Ia berada di dunia yang lain dan di dalam dunia ini, tentang hari-hari pada masa lampau dan pada hari-hari sekarang. Tapi Paz tentu berbicara dalam tatanan perpuisian Eropa dan Amerika yang kesejarahannya dianggap cemerlang dalam khazanah kesusastraan dunia. Dengan itu, Paz leluasa mengurai persoalan puisi dan mitos, puisi dan revolusi, atau puisi dengan gejala kebahasaan yang ditumpanginnya; ia leluasa membicarakan kesejarahan perpuisian dari zaman ‘kelam’ sampai modernitas; ia leluasa membicarakan dari Soledades karya Gongora, Primero Suena karya Sor Juana Ines de la Cruz, Diviva Comedia karya Dante, sampai puisi-puisi Rilke, Yeats, Eloit, Whitman, Neruda, dst.

Tapi bagaimana dengan perpuisian Indonesia? Pelbagai literatur kesusastraan membahas, di satu sisi anggapan ke arah pencarian pola estetika baru dikatakan berkembang, di sisi lain anggapan pencarian tersebut dikatakan sebagai bentuk kegagalan; gagal menciptakan kesejarahannya sendiri dan gagal pula menjadi ‘epigonis’ yang ‘baik’ untuk melanjutkannya sebagai suatu bentuk ‘kepemilikan’.

Pelbagai usaha pencarian bentuk dari puisi berpola ‘tradisional’ sejenis pantun, gurindam, soneta dilakukan para penyair. Sampai pada perpuisian modern yang (masih) dianggap ketertinggalan dan hibuk dalam lirisme.
Sebuah ulasan Hasif Amini—dalam kumpulan 70 puisi Goenawan Mohamad, 2011—menyatakan perpuisian generasi mutakhir di Indonesia seakan tersisip diksi dari hingar-bingar dunia modern. Perihal ini, bisa diteruskan melacaknya, tidak hanya soal ‘diksi’ yang ‘tersisip’ tapi pola pencarian estetika bentuk dan kelahiran puisi itu sendiri saling ambil-memberi dengan dunia modern.

Istilah tersisip diksi dari hinggar-binggar dunia modern tersebut ditemukan juga oleh Arif Bagus Prasetyo dalam telaahnya berjudul Tamsil Tentang Zaman Citra (2007), tapi dalam genre karya sastra yang berbeda, yakni cerpen. Berbeda genre pun, proses pencarian dalam penciptaan karya sastra di Indonesia tetap bertolak pada zaman yang melakoninya. Jika Hasif berbicara dalam istilah tataran “modern”, Arif bahkan melesat dengan istilah “pascamodern”.

Arif mengungkapkan, pada abad digital ini, tiap detik dunia digempur oleh citra yang datang-pergi silih-berganti dengan agresivitas dan intesnsitas tinggi. Invansi citra kini telah makin jauh menembus teritori realitas. Dengan kapasitasnya melesatkan imaji tanpa batas, citra mampu memanipulasi realitas, atau bahkan menggantinya dengan realitas rekaan yang lebih “real”, lebih meyakinkan, lebih otoritatif. Ia menafsirkan bahwa tapal batas antara “sungguhan” dan “bohongan”, bukan saja semakin kabur, tapi juga tidak relevan lagi. Menjadi penghuni dunia pada zaman citra berarti hidup dalam sebuah kebudayaan yang didominasi gambar, simulasi visual, streotipe, ilusi, reproduksi, imitasi dan fantasi. Masyarakat pascamodern dewasa ini dihidupi dan menghidupi rezim budaya citra, dengan visual sebagai panglima.

Proses peciptaan karya di mana kultur visual menguasai kehidupan masyarakat pada abad ini, ditemukan Arif dengan sampel cerpen Nukila Amal, dalam kumpulan cerpen Laluba (Pustaka Alvabet, 2005). Cerpen tersebut ‘didekatkan’ dan ‘dibaca’ melalui komposisi karya grafis seniman besar Belanda, Maurits Cornelis Escher. Proses penciptaan ini, semacam transformasi dari teks seni visual ke teks sastra, yang bisa jadi baru di Indonesia—proses pembacaan kritis sastrawan atas ini sangat terbatas karena akses dan keterpahaman terhadap karya seni rupa.

Begitu juga dengan beberapa puisi Nirwan Dewanto, dalam buku puisinya Buli-Buli Lima Kaki (Gramedia, 2010), merupakan transformasi dari karya-karya seni rupa (lukisan, instalasi, foto, karya visual modern) Indonesia dan Dunia dari beragam genre; semisal Agus Suwage, Sigmar Polke, Ugo Utoro, Marx Ernes, Elfriede Lohse-Wachter, Edvear Munch, Kadek Muniarsih, Andi Warhol, Reza Abendini, Anish Kapoor,Mao Xuhui, Sindudarsono Sudjojo, Gregorius Sidharta Soegijo.

Adapun pola tersebut, ‘terbaca’ dan bisa ‘ditemukan’ juga dalam buku kumpulan puisi terbaru M. Aan Mansyur, tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita (motion publishing, 2012), yang beberapa puisinya merupakan transformasi teks visual dari foto Jamie Baldridge.

M. Aan Mansyur dan Jamie Baldridge

Duapuluh tiga (23) judul puisi di dalam buku kumpulan puisi M. Aan Mansyur termutakhir tersebut (bagian satu; hal. 3 – hal. 25) ditulis sebagai “puisi-puisi yang lahir dari foto jamie baldridge”. Aan, selaku penyair, membuka teks-teks puisi tersebut untuk ditafsir pembaca dengan atau tidak, didampingkan atau tidak, melalui hipogram (teks asal) yakni foto-foto Jamie Baldridge.

Jamie Baldridge (1975 – …) adalah seorang profesor fotografi Universitas Louisiana di Lafayette (Amerika Serikat). Ia mendapat BFA di bidang fotografi, karya foto serta tulisan-tulisannya bisa ditemukan di berbagai antologi dan buku pertamanya The Everywhere Chronicle diterbitkan oleh 21 Editions, salah satu penerbitan buku ternama di dunia dalam bidang seni rupa. Richard Goodall, seorang kurator di Manchester’s Richard Goodall Gallery (Inggris) menyatakan bahwa Baldridge merupakan seorang visioner, seorang seniman yang imajinasinya tidak mengenal batas.

Dalam karyanya, Baldridge mengkombinasikan teologi, sastra dan fotografi. Ia mengekspolasi individu soliter dan teraniaya oleh nasib tak terelakkan sehingga membentuk semacam kritik terhadap kejenuhan masyarakat modern. Karya-karya foto-ilustrasi tersebut hasil kerja fotografi digabungkan dengan editan teknologi modern sehingga menghasilkan cerita grafis dan surealis. Baldridge dianggap “seorang jenius imajinatif”, melalui tema-tema yang menggambarkan kontemplasi dan surealisme ‘tingkat tinggi’. Gaya dalam karyanya juga disandingkan dengan seniman foto-surealis dan ilusi optik Lousiana lain seperti JK Potter dan Clarence John Laughlin, seorang seniman akhir dalam cacatan kesejarahan surealis.

Karya-karya itulah yang menjadi hipogram dari buku puisi mutakhir M. Aan Mansyur di bagian “puisi-puisi yang lahir dari foto jamie baldridge”. Si Penyair tidak mengubah secara tematik (judul) foto-foto di dalam puisi-puisi, akan tetapi dalam proses transformasi teks si penyair seakan membebaskan diri dari segala keterikatan dalam mengeksplorasi wacana visual foto ke dalam wacana di dalam gejala kebahasaan. Maka hadirlah puisi-puisi transformasi dari teks visual Jamie Baldridge, semisal “call to journey”, “dainty phyletic”, “chaos counter”, “on reading ovid”, “babylon”, “balancing gibraltar”, “a hig wid from damascus”, “a confluence of arbitrary ideas”, “the 55th parallel”, dst.

Sebuah teks seni, dalam jenis apapun, tidak berdiri dengan sendirinya, dan merupakan bangunan dari relasi-relasi antar teks. Kristeva, seorang pengkaji intertekstual mengatakan bahwa setiap teks merupakan mozaik kutipan-kutipan, sekaligus penyerapan dari teks-teks yang lain. Hal tersebut terjadi lintas seni, dalam artian, mozaik kutipan-kutipan dapat ditelusuri korelasinya meskipun jenis teks seninya berbeda, atau merupakan aktualisasi proses transformasi lintas genre. Implikasi semacam ini ditemui di berbagai proses reaktualisasi berbagai jenis karya seni, semisal puisi ke lukisan, tari ke lukisan, foto ke cerpen, dll.

Dalam proses penciptaan, usaha untuk mentransformasikan sebuah karya seni ke karya dalam bentuk dan muatan yang berbeda sering diistilahkan dalam beragam terminologi: terispirasi, diadaptasi, disadur, digubah, dimodifikasi, direproduksi, dire-make, direartukulasi dan direaktulisasi. Beragam terminologi tersebut menciptakan artian atau pengertian bahwa usaha melakukan transformasi tersebut bisa dikatakan bermula dari acuan, sadar atau tidak sadar. Akan tetapi terminologi untuk usaha tersebut tidak sepenuhnya menjadi keterwakilan, tingkat keterpengaruhan, atau eksplorasi dan beragam pertimbangan lain dari hasil sebuah karya—jikapun hasil transformasi—telah jadi dan bersuara untuk karya itu sendiri.

Karya fotografi Jamie Baldridge adalah ‘diri’ sendiri dalam tatanan visualisasi dan ‘sesuatu’ yang membangunnya. Begitu juga puisi-puisi M. Aan Mansyur, ia juga berdiri sendiri dan ‘bersuara’ dengan caranya sendiri. Sebuah proses penciptaan karya sastra, baik puisi, tak dapat disangkal, disengaja atau tidak akan menangkap moment estetik selayaknya sebuah ‘ilham’. Dan catatan ini, adalah bagian kecil dari sebuah pembacaan yang bisa berlanjut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s