BAHASA PENOLAKAN DESLENDA

PERTUNJUKAN “TARI LATAH” KOREOGRAFER DESLENDA

Adorno, filsuf sekaligus kritikus budaya massa di Eropa, pernah menuliskan ketakutannya dalam sebuah telaah berjudul The Culture Industry (1991). Ia mengatakan dampak menyeluruh industri budaya secara massal salah satunya adalah anti-pencerahan, di mana pencerahan dalam pandangan industri budaya adalah dengan hadirnya dominasi teknik progresif, menjadi sebuah penipuan massal dan diubah menjadi alat untuk membelengggu kesadaran. Pencerahan tersebut, menghalangi perkembangan mandiri (manusia), sebagai individu-individu bebas yang menilai dan memutuskan secara sadar untuk diri mereka sendiri.

Ketakutan Adorno mengenai industri budaya massa tersebut, barangkali bisa ditemukan pemaknaannya dalam pertunjukan tari pada perayaan 21 Tahun Galang Dance Company (1991-2012), di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa malam (12/6) lalu. Pada perayaan tersebut, dua karya koreografer Galang Dance Company, Deslenda dengan penulis naskah Mahatma Muhammad ditampilkan. Masing-masingnyan karya berjudul “Negeri Budaya Latah” dan “Tari Latah”.

Dalam leaflet menjelang pertunjukan, pertunjukan “Negeri Budaya Latah” tertulis monolog tari, akan tetapi setelah menonton pementasan tersebut kiranya lebih mendekati pada performing art yang merupakan fragmen dari tema besar “Latah” (dengan huruf kapital)—atau bagian, sandingan, pertautan. Sederhananya, pertunjukan tersebut tidak terdiri dari seorang yang menari, atau seorang yang mengucapkan dialog, melainkan dua pemain (Deslenda dan Desi Fitriani) ikut melancarkan dialog meski hanya sesekali. Walau pembatasan tentang tari telah terkaburkan melalui penggabungan dari lintasan-lintasan karya seni pertunjukan (tari, teater, pembacaan puisi), tetap saja tari mempunyai dudukan yang jelas. Tulisan ini, tidak mengacu pada pertunjukan “Negeri Budaya Latah”, melainkan “Tari Latah” yang seolah menjadi perwakilan dari tema “Latah”  dalam bentuk tari yang utuh.

Tafsir “Latah” dalam Tari

Tujuh orang penari (Rahmy, Febby, Nurrahmania, Intania, Annisa, Merry, Riana) hadir dari permulaan sampai akhir pertunjukan “Tari Latah”. Pada awal pertunjukan mereka muncul, tiga di antaranya dari atas meja di bagian kanan (belakang) dan empat lainnya di posisi kiri (tengah) panggung. Masing-masing dari mereka memakai pakaian serba merah, dengan baju terusan longgar, serta celana galembong (celana pakaian silat dan randai) yang didesain untuk mendukung pertunjukan tersebut.

Lampu dengan warna normal mengiringi gerak para penari tanpa efek pencahayaan dari alat-alat lain dengan musik-musik khas tataan Susandra Jaya. Tampak dari pola pergerakan pertunjukan, bahwa tari tersebut berjalan dengan pengelompokan, tiga-empat. Sesekali pola tersebut terpecah seiring pergerakan tari, menjadi pola dua-dua-dua-satu. Masing-masing pola tersebut dalam tempo pertunjukan menghadirkan pemaknaan-pemaknaan tertentu. Dimulai dari satu kelompok yang seakan penjadi panduan pergerakan dari kelompok lain untuk mengikuti pola pergerakkannya. Dari hal inilah simbolisasi dari tema “Latah” tersebut mulai bisa dibaca; yang satu (minoritas) mengikuti yang lain (mayoritas); atau yang lain bisa jadi mengikuti yang satu karena sesuatu hal yang dianggap populer. Pola pertunjukan tersebut seakan menggambarkan “masyarakat” dan kecendrungan konsumsi tingkat tingginya, di mana “masyarakat” akan mengikuti segala sesuatu yang dianggap tengah populer (trend).

Iklan-iklan di televisi pun menjadi sasaran penafsiran dari pertunjukan tersebut. Sebagaimana iklan, dengan visualisasi dan bahasa tekstualnya, menuntut dan dapat menarik seseorang agar dapat membeli sebuah produk budaya massa dan itu memang tujuan. Sementara itu, tujuh orang penari, yang masih muda belia dengan usia yang boleh jadi kurang dari 20 tahun seakan menjadi perwakilan dari masyarat konsumtif di dalam pertunjukan tersebut.

Perempuan muda dan iklan, sebagaimana di dalam “Tari Latah”, merupakan isu yang sangat penting dan sering dibicarakan dalam kajian cultural studies. Pada umumnya perempuan muda kerap didefinisikan sebagai kelompok konsumen utama dalam produk iklan. Hal ini diungkapkan juga oleh Stacey (1994) yang mengatakan bahwa perempuan adalah subjek sekaligus objek dalam pertukaran budaya (produk iklan), dengan cara-cara yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi kepatuhan. Iklan seakan menekankan perempuan sebagai konsumen dan menitik beratkan pada kontradiksi-kontradiksi tentang konsumsi kaum perempuan.

Beberapa bahasa pengungkapan iklan di telvisi pun tak luput dari kata-kata yang keluar dari mulut masing-masing penari yang sedang melakukan pergerakan. Kata-kata tersebut sesekali terdengar seperti celoteh, gumaman, gerutu, atau diucapkan dengan gaya sengau atau gaya populer. Di bagian ini, jelas disimbolkan bahwasanya media, melalui iklan dengan pengetahuan dan realitas yang dibangunnya, merupakan bagian dari penentu bahasa (gaya, ungkapan, kosakata) yang digunakan masyarakat. Tidak hanya bahasa pengungkapan iklan, bahasa pengungkapan yang populer diucapkan oleh kaum muda Minangkabau pun sesekali hadir dan diucapakan oleh beberapa penari.

Adakalanya dalam pola gerak pertunjukan “Tari Latah”, tingkat penerimaan terhadap budaya populer dan konsumerisme masyarakat yang tidak tanggung-tanggung tersebut, seakan menemukan counterculture. Semacam penolakan-penolakan kecil melalui penghadiran berbagai pola gerak; gerak yang satu melawan gerak yang lain; atau yang satu melawan karena tidak ingin mengikuti yang lain. Atau melalui gerak-gerak pola permainan randai, yang memberi simbol pertahanan satu kebudayan sebagai penghambat pola kebudayaan populer.

Akan tetapi counterculture tersebut dihadirkan melalui ketidak-berdayaan seseorang dalam melawan pola konsumerisme budaya massa; dihadirkan penari-penari yang berjatuhan; dihadirkan penari-penari yang bergulingan atau digulingkan oleh yang lainnya; dihadirkan penari yang tak sanggup menaiki meja tempat pertama kemunculannya. Di sela pola-pola gerak tersebut muncul semacam “kekerasan simbol”, kekerasan yang dalam istilah Bourdieu adalah bentuk kekerasan yang halus dan tampak diterima secara salah. Kekerasan simbol, melalui wacana iklan yang dihadiRkan dalam pertunjukan seakan menggambarkan bahwa kekerasan tersebut berlangsung di dalam berbagai aktivitas keseharian yang mungkin dianggap dan diterima sebagai aktivitas yang berterima dalam masyarakat, tanpa melakukan kritik terhadapnya.

Secara garis besar, setidaknya wacana budaya populer dihadirkan oleh Deslenda dalam “Tari Latah”. Selaku penonton dalam pementasan tersebut, kita seakan disuguhkan pernyataan bahwa di dalam masyarakat dewasa ini telah muncul persoalan-persoalan kultural semacam itu. Persoalan tersebut terutama mengenai televisi dan khususnya iklan, melalui tanda (sign) dan citra (imagine) yang ditampilkan telah mempengaruhi persepsi, pemahaman, bahkan tingkah laku masyarakat. Yasraf Amir Piliang membahasakan persoalan ini sebagai realitas palsu yang diberikan iklan, ada jurang apa yang ditampilkan dalam sebuah produk dengan realitas produk sesungguhnya. “Tari Latah” pada akhirnya seolah memperi pertanyaan selanjutnya pada kita: adakah kita (masyarakat) tau dan sadar?

Penari Muda Energik

Harus diakui, untuk menghadikan gerak tari dari koreografi Deslenda, tujuh orang penari dalam “Tari Latah” seakan menghadirkan stamina yang berlebih pada pementasan malam itu. Lebih kurang 45 menit, tujuh penari belia dengan usia yang bisa ditaksir kurang dari 20 tahun, melakukan gerak dengan tempo yang hampir secara keseluruhan tertata dinamis melalui musik. Energi dari penari tersebut terlihat konstan, bertahan, dan tidak berkurang di tiap-tiap pola perubahan struktur tari. Meski tidak ada gerak-gerak akrobatik, akan tetapi “Tari Latah” berusaha menggabungkan pola pemikiran melalui balutan pemaknaan besar untuk kata “Latah”, melalui media tubuh tujuh perempuan muda belia.

Tujuh orang penari dalam “Tari Latah” seakan memunculkan “kekuatan baru” untuk Galang Dance Company yang sudah berumur 21 tahun, yang pada malam itu juga berganti menjadi Galang Performing Art. Dan akhir kata, sembari menunggu pementasan tari yang akan ditampilkan Deslenda melalui Galang Performing Art pada produksi berikutnya, saya kutipkan potongan kalimat dari penyair W.H. Auden: Dance till the stars come down from the rafters. Dance, Dance, Dance till you drop….

Esha Tegar Putra, penyair, penikmat seni pertunjukan.

 Dimuat harian Padang Ekspres, Minggu 17 Juni 2012  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s