PERIHAL BERTAHAN DARI “KEMATIAN”

CATATAN ULANG TAHUN KE-25 TEATER LANGKAH FIB

Noni Sukmawati terengah-engah sebelum menaiki pang­gung kecil di ruangan studio Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand karena melewati sera­tusan lebih penonton. Ia berdiri mencari posisi tepat pada pencahayaan cerlang di bagian kanan panggung. Ia menatap sebentar ke arah penonton, lantas membuka sedikit cerita soal pendirian Teater Langkah sambil mengipas-ngipaskan sehelai kertas berukuran A4 ke arah lehernya; kertas tersebut bertuliskan puisi yang akan dibacakannya.

Hari Kamis (24/5), me­mang sudah sore pada saat Noni Sukmawati menaiki panggung. Tapi panas-ber­deng­kang di dalam ruangan masih serasa siang. Pasalnya, di dalam ruang studio beru­kuran kira-kira 8 x 20 meter tersebut tak ada penyejuk ruangan, udara sesak, pengap, hadirin duduk berdesa­kan meleseh menghadap pang­gung.

“Teater Langkah ini ber­diri tahun 1986, tapi baru aktif pada tahun 1987, dulunya hanya bernama Teater Fakul­tas Sastra,” katanya Noni Sukmawati, dosen kajian drama di Jurusan sastra Indonesia FIB Unand. Ia berusaha mengingat, menga­pa–apa– an siapa saja menyo­al teater mahasiswa yang sedang dalam perayaan ulang tahun ke-25 tersebut. “Dulu­nya, teater ini tidak pernah kehilangan isu, selalu ada saja yang dibicarakan. Ivan Adila, Syafril T, Zuriati, Yusriwal, Irmansyah, Zurmailis, Yusril, setidaknya orang-orang terse­but pernah menjadi pemikir di Teater Langkah. Pada generasi berikutnya, muncul orang-orang seperti S. Metron M sampai pada generasi Sudarmoko yang saat ini masih bersetia menemani kawan-kawan,” lanjut Noni sembari mengingat-ingat terus nama-nama yang memang sepertinya kabur karena ingatan dan tidak adanya catatan lengkap.

Setelah membuka sedikit sejarah, seingatnya, Noni Sukmawati lantas memba­cakan sebuah sajak yang dipersem­bahkannya khusus untuk agen­da ulang tahun ke-25 Teater Langkah dan ka­wan-kawan dari berbagai komunitas yang ada di dalam ruangan.

Hari Kamis tersebut ada­lah hari terakhir, agenda pamuncak, dari rangkaian acara “Monolog Satali” dalam rangka perayaan ulangtahun Teater Langkah ke-25. Pada hari tersebut, selain Noni Sukmawati, beberapa ma­hasiwa yang merupakan ang­gota dari teater yang sedang berulangtahun dan beberapa perwakilan teater kampus di Padang ikut mempersem­bahkan ‘kado’ berupa monolog, panto­mim, atau pembacaan puisi.

Mereka yang ikut memper­sembahkan ‘kado’ antara lain, Budi Nando (Monolog “Nya­nian Jaiman”/Teater Lang­kah), Hadi Gustian (Monolog “Mayat Terhormat”/Ranah Teater), Wildan A (Monolog “Mulut”/Cermin Comunity), dan Delvi Yandra (“Silhuet Mode On”/ Teater Rumah Teduh). Selain itu, S. Metron M, sutradara Ranah Teater dan juga salah seorang yang sering mendampingi anggota Teater Langkah dalam ber­diskusi, dari masanya berku­liah sampai ulang tahun teater tersebut yang ke-25, ikut mempersembahkan ‘kado’ khusus.

Dalam empat hari pera­yaan tersebut, tak banyak memang yang bisa diharapkan dari kelompok teater maha­siswa yang dikatakan tua dan bisa bertahan dalam keseja­rahan teater mahasiswa di Sumatera Barat itu. Bisa jadi harapan tersebut hanyalah: bertahan untuk tetap ada! Banyak memang teater-teater kampus yang tidak bisa berta­han dikarenakan berbagai sebab, perihal ini juga dice­ritakan Noni Sukmawati, sembari menyebutkan nama-nama teater kampus yang pernah berdiri lantas ‘mati’.

Tapi,selain ‘mati’ atau lenyap begitu saja, ada juga teater kampus yang bertumbuh tanpa disangka. Tapi dalam usia Teater Langkah yang ke-25 apakah cukup dengan harapan “bertahan untuk tetap ada”?

Bisa jadi dalam usianya kini Teater Langkah tidak ada persoalan lagi dalam hal keaktoran atau proses produk­si. Tapi pada kenyataannya beberapa tahun belakangan proses produksi tersebut terhambat dan tak ada tersiar proses tersebut ke masyarakat penonton teater di Sumatera Barat, khususnya. Terakhir, dalam lima tahun belakangan, proses produksi teater yang utuh tersebut yang bisa diton­ton adalah “Anak Lanun” (2010 dan 2011) karya/sutra­dara Pinto Anugrah mantan ketua teater langkah periode 2006-2007. Juga pada Festival Teater Remaja Sumatera Barat muncul pementasan “Lawan Catur” (2011) disut­radarai Budi Nando, ketua Teater Langkah periode 2010-2011. Selebihnya, hanya pe­men­tasan-pementasan dengan garapan ‘setengah utuh’ yang muncul pada kegiatan di sekitar Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Unand.

Beberapa tahun bela­ka­ngan, Teater Langkah juga tidak lagi muncul pada haja­tan-hajatan teater mahasiswa di luar daerah semisal Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temu Teman), Festival Tea­ter Mahasiswa Nasional (Festa­masio), dst. mendampingi teater-teater mahasiswa dari Padang yang akhir-akhir ini gencar melakukan pementasan teater dalam agenda perte­muan tersebut. Terakhir, pada bulan Oktober 2011, ratusan mahasiswa dari pulu­han teater mahasiswa,dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul, berdiskusi, dan pentas di Pekanbaru selama beberapa hari. Di ratusan mahasiswa tersebut ada puluhan perwakilan teater-teater kampus dari Padang; Rumah teduh (Unand), Oase (UNP), dan anggota teater dari STIKIP PGRI yang pada waktu itu belum ada nama; minus Teater Langkah. Padahal, jika menelisik kesejarahannya, baik penggiat Teater Langkah dan khususnya Fakultas Sas­tra dengan segala keterbata­sannya pernah berulangkali mengangkatkan agenda Perte­mu­an Teater Eksperimental Mahasiswa Nasional (PTE­MN) dan sanggup ‘menarik’ kelompok-kelompok teater dari berbagai daerah untuk bertandang.

Romantisme, Mencari Kese­jarahan

Menyebut gairah pada masa-lalu dengan menga­baikan perubahan kini jatuh­nya tentu pada romantisme. Akan tetapi, kini Teater langkah adalah milik pelaku-pelaku teater kampus yang aktif bergiat. Mereka berhak memutuskan tindakan-tida­kan terbaik yang dirasa penting dalam proses berteater di lingkungan kampus.

Sudarmoko, salah seorang dosen di Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand yang juga merupakan salah seorang yang pernah bergiat di Teater Langkah menjelaskan bah­wasanya perihal persoalan proses di Teater Langkah akan dipulangkan pada peng­giat-penggiat teaternya sendiri. “Dengan segala keterbatasan yang ada di kampus, semoga kawan-kawan terus mela­kukan proses berteater,” kata Sudar­moko pada akhir agenda  pera­ya­aan ulangtahun terse­but.

Barangkali, keterbatasan yang dimaksudkan tersebut, di­tujukan agar penggiat teater ti­dak berkeluh-kesah dalam per­soalan minimnya ruangan, dana yang sedikit, atau tidak adanya regenerasi, tapi lebih pada persoalan spirit bertea­ter dengan ‘gaya’ mahasiswa. Istilahnya, “tidak kayu jenjang dikaping, tidak rotan akarpun jadi”,bisa jadi hal-hal yang seperti itu yang pernah mem­buat Teater Langkah dulunya pernah sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan teater ma­hasiswa.

Satu hal yang paling pen­ting, dalam usia ke-25 tahun, teater langkah tidak mempu­nyai sebuah catatan penting (sekadar refleksi atau kalei­dos­kop) yang bisa menjadikan patokan untuk melihat apakah maju-berhenti-atau mun­durnya kelompok teater terse­but. Kini, tidak dapat dirujuk, sudah berapa pementasan dari awal berdirinya teater tersebut? Sudah berapa ba­nyak naskah yang dilahirkan dari penulis-penulis di sana? Atau berapa banyak koleksi naskah-naskah dalam bank datanya? Catatan semacam ini barangkali penting, jika ingin terus merujuk pada sejarah dan tidak ingin proses produksi ‘sebelum hari ini’ nantinya tidak lagi dapat dirujuk dan dipelajari sebagai patokan oleh penerus teater nantinya.Dan tentunya, penon­ton teater Sumbar, khususnya ratusan tamu yang selama empat hari (21-24 Mei) da­tang pada perayaan ulang­tahun Teater Langkah me­nung­gu pementasan-pementasan dari Teater langkah selanjutnya.

 ESHA TEGAR PUTRA

Dimuat di harian Haluan, Minggu, 27 May 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s