TRANCENDANCE, PERJALANAN MELIHAT DIRI

PERTUNJUKAN TARI KOREOGRAFER SHERLI NOVALINDA

“Trancendance”, bagi koreografer Sherli Novalinda (30), merupakan sebuah per­jalanan melihat diri melalui tari. Sebuah ungkapan kecin­taan terhadap Sang Maha Pencipta, bagaikan kerinduan sufistik yang terus berputar. Dan melalui “Trancendance”, Sherli memaknai perjala­nannya sejauh ini dalam dalam bidang tari yang diper­tunjukan di Gedung Teater Utama Taman Budaya Suma­tera Barat, Jumat (11/5) malam lalu.

Mungkin saja “Trancen­dance” pemberian makna baru untuk istilah “transcendence” dalam filsafat, di mana Sang Maha Pencipta melebihi alam semesta itu sendiri, melebihi ilmu pengetahuan itu sendiri, sehingga manusia harus men­cari, menggali, dan memaknai lebih dalam dan jauh tentang segala sesuatu yang ada di muka bumi ini.

Dalam Islam, para sufistik juga menghubungkan konsep besar perihal memaknai itu semua, terhadap seni, juga terhadap pencarian dan usaha untuk mendekatkan diri de­ngan Sang Maha Pencipta. Misalkan pada konsep “kete­nangan hati” (sawh) dan “kemabukan” (sukr), dan taha­pan ini dikatakan juga pen­carian dalam tahapan ektase seperti yang dilakukan oleh seorang sufi sekaligus penyair besar Islam Jalaluddin Rumi (1207-1273) dalam tarian yang diistilahkan dengan Semazen atau Sema; sampai saat ini tarian seperti ini di negeri Barat lazim juga dise­but The Whirling Dervishes.

Tapi tidak semua panda­ngan Jalaludding Rumi dengan tarian Sema tersebut digarap sepenuhnya oleh Sherli Nova­linda dalam tarian kontem­porer “Trancendance”. Melalui panggung dengan artistik dipenuhi simbol-simbol Islam, enam orang penari (Mhel Dancer, Yesriva Nursyam, Arif Ficaeerz, Rhini, Rafika Hida­yat, Deri Sukaik), seseorang (Fauzi), dan narator puitik (Tya Setyawati), Sherli meng­hadirkan visualisasi gerak dari pencariannya sejauh ini terha­dap seni di dalam Islam.

Trancendance: Seni dalam Islam

Pertunjukan tari kontem­porer tersebut berlangsung kurang-lebih satu jam. Di panggung, pada awal per­tunjukan, telah berdiri properti dari kayu yang dibuat seperti sekat-sekat ‘hijab’; pembatas ruang shalat antara laki-laki dan perempuan. Terdapat dua sekat di bagian tengah pang­gung, satu dengan ukuran kira-kira180 x300 cm, satunya lagi 150 x 300 cm. Masing-masing sekat tersebut, yang lebih tinggi berdiri di depan yang lebih rendah dengan jarak 100 cm.

Di antara sekat-sekat inilah, para penari, seseorang, dan narator puitik menun­taskan pertunjukan dari awal sampai akhir. sekat-sekat ini seakan menjadi titik pusat penentu pertunjukan tari, terlebih dengan titik cahaya panggung yang lebih terang memusat di ruang antara dua sekat tersebut.

Musik pembuka dimulai dalam irama khas Timur Tengah dan senandung-senan­dung sufistik. Seorang penari, tampak memulai gerakan-gerakan layaknya ketika seseo­rang melakukan penyucian diri dari hadas sebelum me­mu­lai shalat, yakni gerakan wuduk. Gerakan tersebut kemudian diikuti penari-penari lain yang seperti saling sahut-menyahut untuk melakukan pola yang gerakan yang ber­beda.

Semua penari dalam balu­tan pakaian (celana panjang dan baju sebatas siku) katun berwarna abu-abu tampak sama di panggung. Hanya saja, selendang yang terikat di kepala mereka menjulai panjang sampai ke lantai membedakan melalui warna.

Seiring dengan gerakan para penari yang seolah orang sedang melakukan wuduk tersebut berlanjut di panggung, efek pencahayaan infocus dari depan panggung mulai dima­inkan. Efek tersebut seperti hujan, ataua barangkali garis putus-putus yang sesekali berhenti sehingga menda­tangkan efek ‘henti seketika’ di sela-sela pergerakan penari.

Pola wuduk tersebut pun berganti dengan pola gerakan orang sedang melakukan shalat seiring waktu pertun­jukan. Tapi pola tersebut tidak selengkap laiknya orang sha­lat. Hanya saja tampak jelas bahwa penari sedang menun­jukan gerakan seseorang muslim yang sedang menunai­kan ibadah wajib lima kali sehari. Sesekali terdengar dengus nafas yang disenga­jakan, mulai dari seorang penari, sampai semua penari mendenguskan nafasnya di atas panggung. Beberapa hentakan kaki menjadi petan­da peralihan gerak.

“Trancendance” digarap dalam gagasan yang benar-benar bercerita. Ada plot, meski tidak linear, tapi peris­tiwa melingkarinya. Bisa jadi peristiwa tersebut terjadi di ruang shalat; masjid, mushala, surau, atau ruang shalat pribadi seseorang. Pasalnya, ‘seseorang’ yang bukan penari tiba-tiba datang membuat sebuah jeda pada gerakan penari. ‘Seseorang’ tersebut, berpakaian layaknya ustadz, melirik penari yang seketika terhenti seperti patung ketika ‘seseorang’ tersebut muncul. Agaknya,mulai dari awal pertunjukan, ‘seseorang’ ter­sebut muncul sebanyak tiga kali.

Bentukan visual panggung dari tubuh penari dan per­mainan selendang yang men­julai sampai ke lantai mendo­minasi bagian tengah pertun­jukan. Di bagian ini, selendang tersebut seakan berbicara bagaimana masing-masing penari menuju puncak ‘kema­bukan’ yang menjadi tujuan dari ‘ketenangan hati’ seseo­rang dengan Sang Khalik. Selendang dengan kain serat yang lentur tersebut dibentuk sedemikian rupa, semisal diputar, ditarik, disalem­pangkan, ditutup ke wajah, dengan gerakan dilakukan perseorangan atau secara bersama. Selendang warna-warni tersebut seakan men­jadi simbol di mana ‘keber­bedaan’ akan tetap membu­tuhkan pencarian hakiki ketika berhadapan dengan Sang Khalik.

Di bagian tengah pertun­jukan, muncul seorang yang darwis yang menarikan tarian Sema. Ia muncul dan menari seorang diri di tengah-tengah panggung. Berbeda dengan darwis yang biasa dilihat pada The Whirling Darvishes, meski berpakaian putih longgar tapi tidak mengenakan peci tinggi melainkan selendang yang diikatkan seperti sorban. Gerakannya penari tersebut sama dengan tarian Sema, meski tidak dalam putaran yang lama dan tidak berpusat pada satu tempat, melainkan mencari ruang-ruang ‘kosong’ di panggung. Ia mulai berputar dari ruang di antara dua sekat ke luar melalui celah pada sekat dan berputar dari depan panggung. Lantas mengelilingi sekat-sekat.Sampai penari itu sendiri menjatuhkan dirinya pada satu titik.

Bagian tari Sema ini pun mempunyai simbol tertentu bagi seorang darwis, di mana sebelum penari tersebut mulai berputar, ia akan menyi­langkan kedua tangganya di dada sebagai simbol “Ke-Esa-an” Allah SWT dan “Tauhid”. Saat berputar, penari tersebut merentangkan kedua tanggan­nya, yang kanan menengadah ke atas sebagai simbol peneri­maan dan penghambaan juga kesiapan menerima anugerah dari Sang Khalik. Sementara tangan kiri menghadap ke bawah, lantas beralih dari kanan ke kiri melalui jantung sebagai simbol dalam mene­rus­kan nikmat spiritual yang diberikan Sang Khalik pada manusia melalui “matahati”.

Pada bagian akhir pertun­jukan muncul juga efek ‘kejut’ yang datang dari infocus dari arah depan panggung. Di mana, muncul cahaya yang perlahan memunculkan tulisan arab de arah sekat yang sebelumnya sudah ditutup dengan kain putih. Pada tulisan tersebut, setidaknya mempu­nyai inti, bahwa terdapat keindahan seni di dalam Islam. Sementara tulisan tersebut lengkap, seseorang penari memainkan gerakan di antara cahaya tulisan tersebut. Selain itu, di bagian akhir pertunjukan, muncul juga seorang narasi yang mem­beritanda pada seluruh ele­men pertunjukan bahwa tarian sudah menuju puncaknya. “Aku memandang cahaya sampai aku sendiri menjadi cahaya,” bagian dari narasi yang diucapkan narator dalam senandung.

Permainan lain, seperti pengalihan sekat kecil dari belakang ke arah depan dan sekat tersebut dibentuk sede­mikian rupa pun terjadi di bagian akhir. Di dalam sekat yang dibentuk segi empat semua penari membawa lam­pion yang dari dalamnya muncul pancaran cahaya kalig­rafi. Pada bagian inilah, kondisi ekstase keseluruhan penari tersebut menemukan puncaknya. Semua penari seperti orang-orang sufi yang sedang  berdzikir dan mela­fadzkan Hu Allah… Hu Allah… Hu Allah… Mereka seakan berusaha untuk menghi­lang­kan semua persoalan duniawi dan memusatkan diri dan ruhya pada Sang Khalik: Allah SWT. Dan pementasan pun diakhiri pada bagian ini.

Trancendance: Hening yang “Menggerakkan”

“Islam begitu hidup karena menjadi sudut pandang dan muara kreatif,” kata Edi Suisno yang merupakan pemer­hati tari dan Dramaturgi KataTari. Ia menjelaskan bahwa Ke-Islaman adalah energi yang menginspirasi bagi banyak kreator yang bergerak tidak mengenal kata putus.

“Di tahun 1990-an, lahirlah alunan gerak teaterikal dalam hentakan spiritual yang sarat zikir melodius. Tahun itu adalah tahun-tahun yang menjadikan panggung sebagai ‘dunia muhassabah’ bagi seorang muallaf yang bernama Miranda Rizang Ayu,” jelas­nya.

Selain itu, Edi Suisno juga menjelaskan, bahwasanya Gusmiati Suid di salah satu fragmen reportoar “Api Da­lam Sekam”, ritmis “Tupai Jan­jang” dijadikan kerangka pengulangan “Shalawat dan tuntunan kalimat Tauhid. “Bagi koreografer Sherli Nova­linda, setiap inci gerak yang ia susun adalah ekspresi kerinduan transenden, seba­gaimana kerinduan seorang Miranda pada suatu jenjang yang melahirkan keadaan ‘hening’, suatu keadaan yang mencapai ‘taksu’, di mana Rabbi adalah sumber kecin­taan yang tak terkalahkan oleh apapun dan siapapun,” katanya tentang pementasan “Trancendance”.

“Hening, merupakan kon­sep dalam garapan ini. Dalam keadaan ‘hening’ kita bisa merenungi hal-hal lain di antara diri kita dan Sang Pencipta,” kata koreografer Sherli Novalinda. Baginya, Islam sendiri sumber pencip­taan yang sangat luas, dan bisa dimaknai dalam berba­gai sudut pandang dalam kesenian. “Saya melihat Islam itu sangat indah, termasuk di dalam membuat sebuah tari, banyak hal-hal yang bisa dimaknai lebih dalam dalam Islam itu sendiri,” kata Sherli.

Pemberian judul “Tran­cendence” sendiri bagi Sherli memang bukan sesuatu yang mudah. Butuh banyak referen­si, perenungan, dan disukusi sampai garapan pementasan tari tersebut diberikan judul itu. “Secara pribadi, ini adalah pemaknaan dari sebuah perja­lanan,” jelas Sherli bagi pementasan-pementasan tari yang sudah dimulainya sejak tahun 2003; “Senjakala Mu­sim” (2003); “Setelah Ini Apa?” (2003); “Tubuhkubutuh” (2004); “Don’t” 2005; “Women At Women” (2005); “Ketika Kimono Kubuka” (2005); “Sense of Light” (2006); “Ling­gan Zapin” (2007); “The Bodies of Malay” (2009). Setelah “Trancendance”, ia bersikukuh akan tetap melakukan proses karya selanjutnya, karena ia telah memilih ‘mengkoreografi’ hidupnya. Dan “Trancend­ance”, bisa jadi akan menjadi pe­man­tik pertunjukan tari dengan garapan menarik lainnya.***

ESHA TEGAR PUTRA

Dimuat harian Haluan, Minggu, 13 May 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s