DI PAMANCUANGAN

Di Pamancuangan, karangnya terus membelah,
airnya terus meninggi.

Tapi bukan karena ragi tuak di sini aku mabuk, bukan
karena angin deras di sini aku kandas, bukan pula karena
tebaran aroma udang panggang di sini aku mengerang.

Aih, sudah kuburu kau di tiap pati santan gulai tembusu
tapi asin tangan itu saja belum kutemu. Sudah kusesap lapis-
serat dendeng mrica, tapi pedasnya terasa bukan yang itu.

Di Pamancuangan, Karangnya terus membelah,
airnya terus meninggi. (Pada apalagi kau mesti dicari?)

Sudah sekalian mambang berbadan belang, sekalian
hantu berantai siamang, sekalian jin dari seberang
aku suruh turut memainkan dendang kehilangan
tapi yang menyahut tak lain rebahan batang pisang.

Barangkali, sudah tersurat di suatu penanggalan hari
saat matahari turun sekaki, aku dibuat mati tersudu
dengan tangkai kerampang berdiri.
 
Oh, di Pamancuangan, mabuk ini benar tak akan sudah.

 

Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 22 Juli 2012
 
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s