DALAM IRINGAN SERENADE FRANCISCO TÁRREGA

Dramawan Ikranagara pada 2009 lalu menulis dan menyimpulkan bahwa naskah “Kereta Kencana” bukanlah terjemahan Rendra atas drama absurd “The Chairs” (1952) yang ditulis Eugene Ionesco, sastrawan Perancis kelahiran Romania. Melainkan, Rendra telah melakukan dialog intertekstual, dengan terminologi dalam wacana post-modern telah mengambil posisi kritis dan kreatif sebagai seorang The Reader atas “The Chairs”-nya Ionesco sekaligus menjadi The Writer dalam penghadiran “Kereta Kencana”.
Ikranagara juga melakukan perbandingan antara dua naskah tersebut mulai dari awal sampai akhir dan menemukan banyak sekali perbedaan, baik narasi, tata panggung, penyimpangan (digresi) cerita, atau wacana filsafat di dalam dua naskah tersebut. Tidak ditemukan statement absurd di akhir naskah “The Chairs” dalam “Kereta Kencana”. Pada naskah ”The Chairs” disebutkan bahwa drama ini tragic farce oleh Ionesco sedangkan ”Kereta Kencana” jika merujuk pada filsafat Barat mengarah pada wacana Eksistensialisme Berketuhanan (Theistic Existentialism). Ini tentu bukan jadi soal, tapi akan jadi sebuah pertimbangan dalam sebuah garapan pementasan. Termasuk pertimbangan dalam pementasan “Kereta Kencana” di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, pada Senin (11/6) malam lalu. Dengan pemain Muhammad Ibrahim Ilyas (kakek) dan Noni Sukmawati (nenek), disutradarai Asri Rosdi atas nama Sanggar Pasamaian.

Menunggu Kereta Kencana
Panggung nampak terang, seseorang pemusik duduk di atas kursi di antara properti di bagian kanan panggung. Pemusik tersebut memainkan gitar klasik dalam nomor Capricho Arabe, serenade Fracisco Tarrega, dan instrumen itulah yang membuka pertunjukan “Kereta Kencana” malam itu. Tampak panggung benar-benar penuh dengan properti yang ditutupi kain putih. Di tengah-tengah panggung, juga terbentang kain putih, seakan membentuk sebuah karpet yang akan membelah atau bahkan menghubungan peristiwa panggung. Memang, melihat bangunan panggung akan terbayang sebuah ruangan rumah yang besar. Dimana sebagian besar properti rumah tersebut tidak lagi dipakai, sehingga membuat pemiliknya harus menutupinya dengan kain. Di balik kain putih tersebut, bisa jadi adalah lemari pakaikan, lemari buku, meja, kursi,  mungkin vas bunga atau jambangan besar dan tinggi.
Beberapa saat, seketika serenade Tarrega selesai dimainkan, lampu pun mulai redup sampai panggung jadi gelap. Seorang kakek terlihat masuk ke panggung dan membuka beberapa properti yang ditutupi kain putih. Ia hanya menggunangan penerangan lilin, sehingga mulai terlihatlah kursi goyang, kursi santai, dan beberapa meja. Kemudian lelaki itu duduk termenung pada sebuah kursi di bagian kanan panggung. Tak lama setelah itu terdengar dentingan triangle berbunyi berkali-kali, seperti kesiur angin, sunyi, lantas terdengar sesuara menyahut: Wahai, wahai… Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu bergandengan, dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya. Wahai, wahai dengarlah…Tak lama setelah sesuara  itu hilang, muncul seorang nenek dari arah belakang panggung, ia mencari suaminya, dan mengira suaminya tersebutlah sesuara yang menyahut itu.
Si nenek mencari sambil terengah-engah dan menemukan suminya duduk termenung di salah satu kursi dalam panggung yang gelap itu. Dua orang tua 200 tahun usianya, yang baru dua hari lalu merayakan ulang tahun tersebut mulai mempertanyakan soal suara yang datang pada mereka. Suara yang dulu juga pernah datang pada mereka, angin bertiup kencang, ketukan pintu, “tapi kali ini ada tambahannya… suara orang berkata”, ucap si kakek.
Permainan “Kereta Kencana”, selayaknya dalam naskah, memang dipenuhi dengan dialog-dialog melankolik antara sepasang suami istri yang sudah 170 tahun hidup bersama dan tidak mempunyai anak. Hal itu pula yang menjadi salah satu beban psikologis yang akan menggiring jalan ceritanya. Bahkan sempat salah satu dialog si kakek menyatakan bahwa baginya, “kita balon berisi hawa… hawa yang hampa”. Meski si nenek yang selalu menetralisir beban psikologis si kakek yang sebenarnya juga ditanggungkan oleh dirinya.
Tapi bukan itu saja, ada soal lain yang silih berganti berdatangan pada dua orang tua tersebut. Soal maut, yang bagi mereka akan datang seperti kereta kencana 10 kuda 1 warna. Persoalan tersebut membuat mereka membicarakan hal-hal yang datang pada masalalu sehingga mendatangkan ilusi-ilusi panggung.
Melalui permainan yang sudah tertera dalam naskah, Noni Sukmawati dan Muhammad Ibrahim Ilyas berusaha menghadirkan sepasang orang tua yang berusaha menghibur diri dengan permainan badut. Di mana sang badut meminta kekasihnya untuk menjadi layang-layang, dan pola ini mungkin  menjadi penghiburan dalam pementasan tersebut. Tapi permainan tersebut pada akhirnya pun hanya sia-sia ketika dua orang tua tersebut kembali mengenang masa lalu. Ketika si nenek menyatakan si kakek memang pantas menjadi seorang “jendral”, sang kakek tidak berterima, dan hanya menganggap dirinya adalah seorang profesor yang terlupakan.
Memang dalam cerita naskah tersebut, si kakek seperti hadir sebagai seorang putra Prancis yang pada masanya adalah seorang yang memang penting di negaranya tersebut. Penyelesalan-penyesalan dan anggapan bahwa si kakek menganggap dirinya tidak berguna inilah yang menggiring permainan sampai akhir.
Selain pola permainan dua orang tua tersebut, hadir pula imaji-imaji melankolik antara dua orang tua yang ingin menunjukkan rasa cintanya dengan melayani pasangannya melalui penyuguhan minuman dan makanan. Tapi ini benar-benar imaji, khayalan belaka. Juga pada waktunya peristiwa tersebut tetap berhulu pada kerinduan dua orang tua akan hadirnya seorang anak. Hadir imaji-imaji tentang seorang anak yang menjadi bagian penting juga dalam peristiwa pementasan tersebut.
Sampai pada akhirnya, dua orang tua tersebut merasa “kereta kencana” sudah hampir tiba waktunya menjemput mereka, muncul tokoh-tokoh fiktif yang bertamu ke rumah mereka. Tokoh-tokoh yang hanya ada di dalam kepala dua orang tua tersebut. Tokoh-tokoh yang lahir dari peristiwa-peristiwa yang sebelumnya menjadi persoalan bagi dua orang tersebut. Dan semua tokoh yang hadir adalah peting-petinggi besar kenegaraan.
Dua orang tua tersebut berusaha menyambut orang-orang penting yang datang ke rumah mereka, mempersilahkan tokoh fiktif itu duduk, dan berdialog dengan mereka. Sampai pada akhirnya si nenek menyuruh si kakek berpidato di depan tamu yang hadir di rumah mereka itu dan salah seorang dari tokoh fiktif itu menyuruh si kakek untuk berpidato dengan menggunakan kata “anak-anakku”, saat itulah bebena perasaan si kakek kembali muncul. Kembali si kakek seakan memperlihatkan ketakberdayaannya akan hidup. Bahwa setiap orang bisa saja terlupakan.
Bagian ketika tamu-tamu tersebut berdatangan ke rumah dua orang tua tersebut adalah puncak dari peristiwa panggung. Sampai pada waktu tokoh-tokoh fiktif tersebut pergi dan sepasang orang tua tersebut kembali mempertanyakan kesiapan diri masing-masing soal maut yang akan menjemput, mungkin sebentuk kereta kencana dengan 10 kuda 1 warna. Sampai pada akhir pun dua orang tua ini menghadirkan dialog-dialog melankolik, sebagaimana halnya naskah tersebut.
Panggung Penuh Properti
            Memang dalam naskah “Kereta Kencana” tak ada kejelasan soal bagaimana bentuk panggung yang akan menuntun permainan dua orang tua tersebut. Akan tetapi dari banyak literatur yang saya dapat seusai pementasan, tak banyak yang menghadirkan panggung dengan properti sebanyak pementasan yang disutradarai Asri Rosdi tersebut. Sebagian besar kelompok teater yang memainkan naskah tersebut selalu menggarap panggung minimalis. Tapi enatah kenapa malam itu panggung seakan penuh dengan benda-benda yang sebagian besar seakan hanya untuk kepentingan visualisai panggung tapi tetap tidak digunakan dalam pementasan.
Satu bagian simbol di belakang panggung, seakan menunjukkan juga benturan pemaknaan terhadap naskah yang dengan setting luar negeri tersebut. Misalnya, di bagian belakang panggung ada kubus merah yang dibalut kain putih. Kubus yang disusun tersebut hadir seakan berbentuk pola Rumah Gadang lengkap dengan gojongnya. Atau barangkali ini kesalahan tafsir mata saja ketika melihatnya. Properti-properti lain yang berserakan di panggung sebagian besar tidak berkepentingan bagi motif permainan dua aktor dalam pementasan tersebut.
            Muhammad Ibrahim Ilyas dan Noni Sukmawati, seperti terlihat malam itu berusaha untuk menghadirkan permainan sebagaimana mestinya. Mereka berusaha hadir sebagai dua orang tua yang berumur 200 tahun dan sudah 170 tahun bersama. Barangkali, dua aktor tersebut sudah meghadirkan pola baru untuk karakter mereka, mereka tidak lagi menghadirkan hanya persoalan tubuh dan fisik 200 tahun, tapi lebih pada beban psikologis peran mereka.
            Dua aktor tersebut berusaha terus mengimbangi naskah yang memang pada dasarnya bukanlah sesuatu kelaziman. Meski pada beberapa saat ada motif permainan yang terkadang membuat penonton merasa ada yang janggal. Tapi itu mungkin lebih pada persoalan mengimbangi properti yang ada di panggung. Semisal pada akhir pementasan tersebut, seusai tamu-tamu imajiner pulang dari rumah kedua orang tua tersebut, si kakek menggulung kain putuh yang menjadi titik pusat dari panggung. Motif ini seakan sengaja mendatangkan efek tratrikal. Pada hal, kain tersebut, sebagai sebuah simbol sebuah jalan menuju ‘moksa’ atau ‘gerbang maut’, ‘jalur penjemputan kereta kencana’ akan mereka lewati kembali.

Pada bagian lain, kita tentu tidak lagi ragu pada keaktoran Muhammad Ibrahim Ilyas dan Noni Sukmawati. Tak ada lagi yang patut diperbincangkan soal kemampuan akting dua pemain lama tersebut. Hanya saja, mungkin waktu dan segala kesiapan yang belum sempurna, tentu menjadi harapan mereka juga. Teater tentu adalah gairah bagi mereka, adalah kerinduan, sehingga membuat mereka kembali pada panggung yang sudah lama tidak mereka isi dengan permainan.***

Dimuat di Harian Haluan, Minggu, 22 Juli 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s