PROTES 860 KILOMETER, DARI CHIANG RAI MENUJU BANGKOK

Pelbagai usaha dilakukan oleh para petani di berbagai belahan dunia untuk mendapatkan hak-hak demi pencapaian kesejahteraan hidup mereka. Mulai dari melawan sistem kekuasaan pemerintah, memutus jeratan gurita perusaan raksasa yang dirasa merugikan petani, sampai melakukan kerjasama baik dengan pemerintah dan perusahaan tersebut, atau kerjasama dengan lembaga-lembaga luar negeri yang menyuarakan kepentingan para petani.

Pengalaman Wirat Promson (53) dari daerah Ban Sammanmit, provinsibagian Chiang Rai, Thailand Utara, merupakan salah satu contoh perjuangan mewujudkan kesejahteraan petani. Selasa malam (10/7) seusai agenda hari pertama “Lokakarya Agraria Internasional” jelang konferensi dan seminar internasional mengenai “Implementasi Pembaruan Agraria di Abad 21”yang diadakan Serikat Petani Indonesia (SPI), Wirat yang merupakan delegasi perwakilan dari Thailand meceritakan pada Haluan,bentuk-bentuk perjuangan yang dilakukannya bersama dengan kelompok petanidi Thailand Utara.

Didampingi Jason Lubanski, peneliti yang sudah 20 tahun berada di Thailand Utara dengan studi kasus “Land is Life: A Policy Advocacy Case Study of the Northen Thailand Land Reform Movement”, Wirat mulai bercerita dari pembentukan federasi Northen Peasant Federation (NPF) dikarenakan krisis ekonomi yang melanda negerinya di tahun 1997 dan kemudian meluas menjadi krisis finansial di Asia. Di tahun itu banyak investor yang mempunyai lahan-lahan garapan meninggalkan daerah karena krisis ekonomi. Orang-orang kota kembali ke desa dan bingung memikirkan apa yang akan mereka kerjakan, sementara banyak lahan tertinggal bekas investor yang bisa digarap untuk produksi pertanian.

NPF tersebut dibentuk dari jaringan 430 organisasi petani dari 9 provinsi di daerah bagian Thailand Utara dengan tujuan untuk pengambil-alihan lahan milik investor atau milik pemerintah yang terbiar begitu saja karena tidak digarap lagi. “Petani Thailand butuh tanah untuk memproduksi hasil pertanian,” kata Wirat sembari memaparkan bahwa di Thailand terdapat 120 juta rai (1 hitungan ray kira-kira 1/6 hektar) tanah peruntukan bagi masyarakat.

Jika dihitung, menurut Wirat, dari 60 juta penduduk Thailand, kebijakan peruntukan tanah 2 hektar untuk 1 orang penggarap akan cukup, akan tetapi kebijakan tersebut tidak dijalankan oleh pemerintahan mereka sehingga petani di Thailand menyewa lahan pada petani-petani kaya. “Sudahlah miskin, hasil pertanian belum jelas, mereka harus menyewa pada tuan tanah,” katanya.

Persoalan itulah yang membuat NPF mulai melakukan pengambil-alihan lahan tanah terlantar. Umumnya, mereka mengambil-alih lahan mulik investor luar negeri yang dibeli bukan untuk lahan produksi melainkan untuk investasi dan terbiar begitu saja. Juga lahan-lahan milik pemerintah yang tidak produktif. “Bahkan ada lahan milik investor yang sudah 20tahun terbiar, itu kami usahakan pengambil-alihannya”, jelas Wirat.

Tentu pengambil-alihan tersebut tidak dilakukan dengan mudah dan menuai konflik dengan pihak pemerintah dan ivestor. Petani-petani tersebut seringkali melakukan protes dan demonstrasi dari daerah Thiland Utara hingga ke Bangkok yang jaraknya mencapai 860 km. Banyak petani-petani yang akhirnya ditangkap, didiskriminasi, dan dipenjarakan. Bahkan, menurut Wirat, sebagian petani yang melakukan protes sampai diciduk ke lahan pertaniannya. “Kami bersukur jika ditangkap melalui proses persidangan, masih untung, bisa menyuarakan perjuangan di peradilan,” kata Wirat.

Pesakitan itu tidak menyurutkan perjuangan petani untuk mendapatkan hak-haknya. Mereka ingin mengubah kebijakan pemerintah yang dirasa tidak berpihak dan tiga poin tuntutan pun diajukan terus pada pemerintah. “Kami mengajukan agar pemerintah membuat kebijakan mengenai Land Bank (Bank Pertanahan),Land Tax (Pajak Tanah), Community Land Title (Sertifikasi Lahan Kolektif), sebagai perimbangan dalam penggarapan tanah dan tidak merugikan berbagai pihak,” jelas Wirat.

Tiga poin di atas diajukan agar pemerintah dapat meminta para tuan tanah dan investor dapat membayar pajak sesuai dengan luas lahan kepemilikan lahan mereka. Meski di Thailand sudah ada perundang-undangan yang mengurus soal pertanahan, akan tetapi masyarakat petani menganggap tidak terimplementasikan dengan baik. Selain itu, berhubungan dengan persoalan investor, melalui tuntutan tersebut petani berharap dapat melakukan reclaim tanah investasi yang tidak produktif. Termasuk persoalan sertifikasi lahan kolektif, agar tidak terjadi jual-beli lahan secara perorangan, dan agar lahan tersebut tidak lagi menjadi komoditas. “Tiga tuntutan tersebut sekarang sedang diimplementasikan. Pada 21 Juni yang lalu sudah ada negosiasi dengan pemerintah, dan disetujui dalam 45 menit negosiasi, ini aneh,” tutur Wirat.

Optimis Tuntutan Dilaksanakan

Mulai dari konvoi kendaraan bermotor sejauh 860 km mencapai Bangkok, protes sekitar 2.000-an petani, sampai tidur di rumah anggota parlemen sudah dilakukan para petani di daerah Thailand Utara. Akan tetapi negosiasi atas tiga usulan petani tersebut menuai keanehan menurut Wirat. “Apakah ini hanya sekedar disetujui dan tidak diimplementasikan?” kata Wirat sembari memperlihatkan foto-foto protes mereka.

Wirat menceritakan, sebelum periode pemerintahan sekarang, melalui kekuasaan partai demokrat sudah ada penyetujuan tentang implementasi tiga permintaan petani dan sudah dibuat 35 project di 35 daerah. Bahkan Wirat mendapat tugas project di bagian Community Land Title dan para petani sudah mempunyai kantor  khusus di bawah naungan Perdana Mentri Thailand. “Tapi sewaktu pergantian penguasa, semuanya tak tentu arah, pemerintahan baru tidak mengatakan ya tidak mengatakan tidak untuk apa yang telah disetujui pemerintahan lama,” katanya, “jika didesak terus, jawab pemerintah, itukan kebijakan pemerintah yang lama dan project tersebut sekarang tak tentu arah kebijakannya” tambah Wirat mengenai kekecewaannya.

Akan tetapi Wirat dan kelompok federasinya optimis mengusahakan tiga tuntutan tersebut pada pemerintahan sekarang. Meski beberapa bulan lalu sudah disetujui, akan tetapi penyetujuan tersebut terkesan alakadarnya.

Sejauh ini, hasil perjuangan Wirat dan sekitar 200-an orang kelompok tani di sekitar daerahnya dalam hal pengambil-alihan tanah sudah mencapai kira-kira 2.000 hektar. Tanah tersebut sebagian dibagi-bagi untuk garapan personal yang ditanami padi, pisang, pepaya, dst. dan sebagian lagi dijadikan tanah organisasi (logistik perjuangan). “Untuk kelompok kami tentu itu sudah cukup sejahtera,” kata Wirat. Tetapi masih banyak petani lain yang miskin dan belum mendapatkan lahan garapan yang menjadi pikiran untuk optimis pada poin-poin pengajuan tuntutan mereka bisa dijalankan oleh pemerintah mereka secapatnya.

Persoalan lain muncul dalam perjuangan petani tersebut, yakni datang dari kelompok-kelompok petani lain yang bercuriga dengan Community Land Title yang sudah didapatkan oleh beberapa kelompok tani. “Petani lain takut, tanah yang sudah didapat secara komunal akan dijual ke investor, pada hal kita ingin pengakuan saja dari Comunity Land Title tersebut, ini jadi semacam kecemburuan” kata Wirat sembari menjelaskan usaha mengkomunikasikan agar tidak terjadi perpecahan antara kelompok petani terus mereka usahakan.

Wirat percaya, dalam waktu dekat tuntutan mereka akan segera disepakati dan dijalankan oleh pemerintah agar petani-petani di Thailand, khususnya di Thailand Utara dapat hidup makmur dari lahan mereka. “Tentu petani kami tidak akan menunggu, tapi melanjutkan perjuangan dengan berbagai cara untuk mendapat hak-hak yang sudah selayaknya didapat,” katanya. Wirat merasa senang, menjadi delegasi dari Thailand Utara untuk agenda konfrensi yang diadakan SPI dan dapat berbagi tentang perjuangan mereka pada petani dunia, khususnya Indonesia. Ia yakin, kata “optimis” penting dalam perjuangan mencapai kesejahteraan petani dunia.***

Laporan Esha Tegar Putra, Harian Haluan, Jumat, 13 Juli 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s