BERAPA JAM SUDAH

Berapa jam sudah aku menujumu
rel meregang panjang di jalur Pariaman
penurunan tajam di Kayutanam
dan suara air deras di aliran lembah Anai.

Aku ingin kasmaran yang lain,
dingin yang lebih dari terumbu di laut dalam:
“Aku kangen mata sipit peranakan Bukittinggi itu
jantung dengan detak entah kaum dari mana
tapi dari dialek itu jelas ganihnya air Payokumbuh.”

Berapa jam sudah aku menujumu
mata yang meneluh
mata yang akan membunuh pemburu bahasa
di kedipan yang sekali.

Aku tahu, kasmaran ini akan sebentar
seakan kuda pacuan patah kaki di putaran
yang belum selesai. Seakan membidik
punai terbang sebelum hinggap. Aku juga
akan usai, aku juga akan selesai dalam
sebuah sajak kiriman angin lembah, angin
penghabisan.

Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 22 Juli 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s