KE PULAU AIR

Aku tempuh kau ke Pulau Air. Malam dalam getar udara
sempurna, malam dalam suara pesakitan kerbau yang
patah pinggang, danmalam seakan tuntas membetulkan
gerak-ayunan ombak di pantai jauh. Duh, gerak-ayunan
ombak tenang bersibantun tapi aku masih dalam mabuk
bertahun.

Dalam begini aku dengar genta pedati, dari lebuh jauh
sebentar timbul sebentar tenggelam. Angin jadi mati
jalanan sepi berjaga, orang-orang terus bersembunyi
dalam buai kasmaran dendang pengelana. Aku tempuh
kau, mata teduh di mana mantra tukang teluh melulu
bikin gaduh.

Tapi pohon angsana sepanjang jalan menurunkan
daun-daun muda, aku rasa terbenam di Pulau Air, adakah
sebuah lagu lama akan membuat isi dada bergetar serupa?
Adakah sehimpun pantun akan menyihir nikmatnya patah-
bercinta? Aku menyarumu dalam lagu, aku menyamunmu
dalam pantun, sampai jantung-hatimu turut santun.

Di Pulau Air, malam dengan sepi yang lain. Barangkali
tuah pedendang mahir; ada yang terus dibuai tapi tak
sampai, ada yang dihela tapi tak kunjung bersua. Aku akan
terus menujumu, membahasakanmu, sampai bikin mata
padam, bikin getar jantung terperam.

 

Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 22 Juli 2012

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s