BERKELAKAR SENDIRI, TERBENAM SENDIRI

berkelakar sendiri, hari-hari adalah keningku di pucuk senapan
dan kau pelatuk, kau geletar telunjuk, kau maut sedang berjaga

barangkali di kota ini, malam akan selalu abai dan seseorang
akan terus mencipta mantera untuk membiarkan lenyap seketika

kau berjaga untuk siapa? untuk lenganku, atau untuk sesuatu
yang memberi warna pada tiang, menara, juga ruang pekuburan?

berkelakar sendiri, hari-hari adalah mulut sepatuku yang nganga
aku belajar menjahit untuk sesuatu yang kelak akan terus sobek

seperti puisi, seuatu yang terus basi, atau samar asmara di antara
jarak yang merentang; isyarat ketakmengertian untuk pertanyaan

kita akan tua sendiri-sendiri, mati sendiri-sendiri, dan terbenam
sendiri-sendiri. dan kelak, kelak cuma kelakar untuk kematian

2011

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s