PERKARA MALAM RABU

yang berperkara dengan jarak, bersiasat dengan pintu, berkerabat dengan sepi, bersahut dengan maut, dan segala yang merasa sedarah-seperut dengan bahasa: ini sajak dibikin malam rabu, malam dengan suara balam di batang jambu, suara yang mengidap bau kayu hangus sepanjang jalan muaro sijunjung, jalan di mana bau garam pada rambut si peragu tertikai bau getah gaharu.

yang paham dengan malam rabu, kamis, baik sabtu: sedang aku di sini, di pusat angin – di pusar ingin- pusat dengan bangunan berbilah bambu (kerlip bermacam lampu) sepadat bunyi besi padu: dan nyatanya, mesti badan jauh diputus selat dihampang pulau, sajak terus membahasakan getar gendang tasa yang membahana dari suam jantungmu, suam jantung sirah kelabu.

yang berjaga pada waktu. aku telah mempersiapkan penanda buat tanggal, hari, dan bulanku sendiri, semisal: masjid dan gereja penanda jumat dan minggu, batu penanda jam 1, terompah (dan segala yang sepasang) buat jam 2, romeo-juliet jam buat 11-12, serta geriap kaki hujan dan biji salju untuk bulan berakhiran –ber.

ini sajak dibikin malam rabu, laku dari bahasa jarak-bahasa si peragu. sekeras aku memberi tanda bagi kau, tetap saja aroma tengkuk dan punggung yang melulu lepas berkejaran. oh, yang berperkara dan berjaga di kata ‘jarak’, aku mengamini kau sampai siut dalam basah kabut di penghabisan malam rabu.

Bandung, 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s