SAJAK SENTIMENTIL

Di Padang, aku bayangkan langit terus basah,
bulan gigil di bawah hujan, dan potongan sajak
yang melulu ditulis dalam lembab udara.

Aku orang datang, dari pembagian dunia ketiga,
ingatanku lebih melankolik bila gerimis turun
dibanding siut sunyi pada mulut senapan.

Aku tak benar paham bahasa orang-orang:
tentang warna desember, salju di tiang jembatan,
suara burung pelatuk di pohon oak, guguran daun
arbei hanyut sepanjang sungai, blues-jazz-satnight
di lantai dansa, atau sebuah ciuman perpisahan pada
leher dengan sisa kecut aroma alkohol pada pagi,
aku tak benar-benar paham yang beginian.

Langit terus basah, bulan gigil di bawah hujan,
aku mengidap sakit pada gaib saluang. Dendang
penghantar masa lalu pada wangi pandan sepanjang
penurunan Padangpanjang. Aroma kopi, pala,
bau garam di gudang-gudang Padang, aku terjangkit
segala yang begini.

Ini sajak benar adanya, tentang aku yang begini,
ditulis benar di Padang, dalam ritmis gerimis.
Tapi dalam begini, aku tak begitu yakin, seseorang
akan datang pada sajakku, dengan kalimat yang serupa
pelukan jas hujan atau mantel hangat dari belahan dunia lain.

Kelak, jika kau ragu tentang aku yang begini. Cukup diberi
makna sebaris kalimat yang kelak pasti akan kubisikkan benar
ke telingamu:

“Aku ini penyair
Kalah pada kenangan, tapi tidak pada hari depan.”

2010

Iklan

3 thoughts on “SAJAK SENTIMENTIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s