SEJAK PUNGGUNGMU HIRAB KE ARAH HUTAN

Sejak punggungmu hirab ke arah hutan,
aku belajar mengamini kematian sebagaimana
maut bermata juling. Mata yang tak pernah
bisa kutebak arah pandangnya.

“Seorang penyair, dalam kesepian yang
teramat, telah menyimpan kemerdekaan
yang teramat sangat.” Kapel ini benar-benar
dingin,sisa aroma setanggi, malam penuh kegaiban
suara peri. Ah, barangkali di antara susunan
batu-batu, ganih matamu masih terperam.

Sejak punggungmu hirab ke arah hutan, aku
selalu berjaga lewat doa. Sebab di antara
jejak pada tapakmu, ada tanah yang selalu
basah, ada bungkah daging yang selalu sirah.

2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s