DI CANDI MUARO JAMBI

Orang-orang dari selatan telah menitipkan mata kampak di leher
gajah batu itu. Mereka datang dari beratus tahun mimpi buruk
mereka tempuh teluk, parit-parit, hanya untuk sebuah amuk.
 
“Tanda bahasa itu, dinding masa lalu itu, putih adanya,” kau berkata.
 
Tanda bahasa barangkali juga reruntuhan tuah kata-kata. Seperti
musim punai berpindah, dari kulah ke kulah, tak akan tersurat dalam
sejarah. Seperti juga pelarian kaum bertuah, dari lembah ke lembah
tak akan pernah dirapal dalam doa para peziarah.
 
Atau barangkali tanda bahasa cuma pahatan pada andesit aneh, sisa
huruf pada pecahan tempayan, dan logam dingin yang menghitam.
 
2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s