ANGIN PEDALAMAN

 
Ke arah hitam langit, kecuali keliaran lelawar
bulan telah sepenuhnya susut dan cakwala kini barangkali cuma
kuburan bintang mati.
 
Pada akhirnya aku sajakkan juga, Irma, yang begini
yang seperti ini, seperti bintang mati. sebab malam tinggal biru
suam pada punggung ketika dendang-dendang pelayaran
itu mulai digerutukan, mulai didendangkan. Perlahan.
 
Beginilah cara angin pedalaman mengirim itu sakit, ke arah langit
semua disemburkan, semua diledakkan.
 
Tapi aku tetap memandang ke arah langit. Meski sakit itu
tak bentuk dan aku terus membayangkan jauh di balik lengkung
cakrawala, waktu akan terus menderu dan hari ini akan jadi hari lalu.
 
Kandangpadati, 2013

 

Dimuat koran Riau Pos, Minggu, 17 Maret 2013
 
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s