DI KEDAI HAU

Di luar kedai, air turun membentuk tirai
di antara dingin pohon trembesi
 
angin demam tinggi.
 
Tapi di sini kita tidak mesti tahu
apa arti kuah kaldu dengan
jantung sapi yang disayat seperti dadu. Oh, hari baru!
 
Di luar kedai, air turun bersama sajak seuntai
di antara salak anjing malam hari
 
ada maut bermain belati.
 
Tapi sesekali kita mesti juga bertanya
kenapa mesti jantung sapi dalam mangkuk ini
dan kenapa tidak tumis ikan tenggiri?
 
Aku bicara hari baru padamu
sementara tik-tak jam memutar hari lalu
 
dan maut arahnya begini:
di mana lambung membiru, belati ditanam di situ.
 
Kandangpadati, 2012-13

 

Dimuat Koran Tempo, Minggu, 3 Maret 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s