SAJAK BUAT NASRUL

Memang pada aur serumpun itu kita takjub
sebab tebing tak pernah hirau dan kematian kini bukan lagi derau.
 
Tapi tak ada, Nasrul, tak ada lagi derit panjang rem kreta
di jalur pendakian ke Padangpanjang. Tak ada gadis-gadis mandi
dengan kain basahan, di air tenang membasuh sisa demam pada
renda kutang, di air tenang membilas sisa gaduh semalam pada
lebam punggung yang bengkak menghitam.
 
Kecuali dalam sederet gambar pada potret hitam putih
dan seorang dari utara pesisir bermigrasi ke daratan jauh
 
telah mencatat kembali tentang seteru Palinggam, menulis kabar
tentang perang antar para syekh di Pariaman, dan melukiskan
bandar serta temasik diremukkan air gadang.
 
Memang pada sebatang jarum yang jatuh ke laut itu kita kalut
sebab temali telah ditambat erat-erat tapi kini perahu karam sendiri.
 
Tapi tak ada, Nasrul, tak ada lagi angin bersipusu dan ampalam
jatuh menggedudu, kita mesti kangen pada yang begitu.
 
Kandangpadati, 2013

 

Dimuat Koran Tempo, Minggu, 3 Maret 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s