SELEMBAR DAUN KESAMBI

Selembar daun kesambi,
di ruasnya aku membaca hari depan
 
sementara kota menanti kapan bulan busut
sementara kita menjalin beberapa rambut kusut.
 
Dan pada pangkal tebu, pangkal masa lalu
aku membahasakanmu dengan manis tak terperi.
 
Ada hari, seperti seribu tahun batu dibentuk
dan sebentar hujan-panas membuatnya retak.
 
Selembar daun kesambi,
di ruasnya aku membaca hari depan
 
sementara kota menanti bulan jatuh
sementara kita membendung
dada berisi gemuruh
 
Dan di ketenangan sajak, tanpa amuk tuak
aku memaku matamu pada terumbu
dalam-dalam. Sampai segala kuak.
 
Kandangpadati, 2012-13

 

Dimuat Koran Tempo, Minggu, 3 Maret 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s