SEUKURAN TUNGAU

Kembali aku kenang kau,
sementara udara masih mengidap tajam bau perendangan kopi
sementara kota memaku peradaban pada retakan panjang dinding
surau lama, derit lantai papan, dan gema lonceng bendi tertahan
di sebuah minggu pagi ketika tungkai-tungkai kaki kuda dipatahkan.
 
Aku atau kau yang kini mabuk seorang!
 
Sudah patut aku kenang kau,
jalur menikung di barisan pohon lambau dengan kulit hijau berlunau
muara dengan air dangkal seakan terus melakukan pengingkaran
bahwa bukan ombak gadang melulu bikin sampan karam, bahwa
bukan salah mercu memberi tanda, dan bukankah lagu tentang
tujuh malam air pasang itu telah membuat kita lupa cara berilau.  

Aku membayangkan kota dengan tasik, dengan temasik, dengan
kulah, dan segala ulah ini adalah sisa masalalu seukuran tungau.
 
Kandangpadati, 2013

 

Dimuat koran Riau Pos, Minggu, 17 Maret 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s