HERCULES, MITOS BANGUNAN REZIM OTORITER

Hercules Rosario Marscal, namanya terlanjur menjadi ikon atau barangkali mitos kekerasan di Ibukota Jakarta di penghujung kekuasaan rezim otoriter Orde Baru. Ia dikenal oleh orang-orang di seantero negeri ini, meski belum pernah bertatap muka, tapi perbincangan dan media massa terus membangun mitos untuk namanya setelah ia dan kelompoknya di awal 1990-an menguasai area Tanah Abang.

Dalam sebuah liputan majalah Tempo tahun 2010 lalu, salah seorang perwira polisi mengatakan bahwa Hercules selalu dijadikan “sasaran utama pemberantasan preman” setiap terjadi pergantian kepala kepolisian. Tak salah, namanya kadung terlanjur menjadi mitos kekerasan di Jakarta, meski dalam trah perebutan wilayah kekuasaan Hercules dan kelompoknya sebenarnya telah hengkang dari Tanah Abang. Sebab pada tahun 1996 Hercules harus mengakui kalah, ketika terjadi pertikaian antara kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu Kambing dan kelompok Timor pimpinan Hercules.

Sebenarnya banyak nama selain Hercules yang menjadi tampuk pimpinan kelompok preman dan disebut menguasai beberapa wilayah di Jakarta. Misalkan Basri Sangaji (ia terbunuh pada sebuah pertikaian antar kelompok di tahun 2000), Zakaria Sabon yang dikenal sadis, Jhon Key yang membentuk Angkatan Muda Kei (Amkei) pasca kerusuhan Tual (Pulau Kei, Maluku Tenggara) tahun 2000 lalu dan mengklaim dirinya beranggotakan 12.000 orang, Thalib Makarin yang menguasai pusat hiburan elit, Umar Key, Alfredo Monteiro, Logo Vallendberg, dan lainnya. Sebagian besar mereka orang-orang hijrah dari bagian timur Indonesia dimana tingkat konflik dan kesusahan hidup masyarakatnya masih membayang.

Tapi nama Hercules terlanjur besar dibanding beberapa nama di atas. Ia seakan lahir dari sebuah pusaran sejarah penuh pembauran konflik, politik, dan praktik kekerasan di belakangnya. Sehingganya pada waktu Hercules dan 50 orang anggotanya ditanggkap oleh kepolisian karena laporan pemerasan dan ancaman terhadap pengusaha di daerah Kembangan, Jakarta Barat, Jumat, 8 Maret lalu, terjadi gejolak pemberitaan di media. Masyarakat memperbincangkan Hercules, Keraton Kasunan Surakarta mempertanyakan lagi gelar yang diberikan setahun lalu, sampai Ketua Pembina Parta Gerindra Prabowo Subianto angkat bicara dikarenakan Hercules merupakan Ketua Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) yang merupakan organisasi masyarakat bagian dari Gerindra.

Ditambah lagi, dalam kesejarahan hidupnya, Hercules dimuncul dari kemelut Operasi Militer Seroja di Timor-Timur sekitar tahun 1975. Kolonel Gatot Purwanto, anggota pasukan khusus yang pertama kali diturunkan di Timor-Timor sendiri menyatakan bahwa Hercules adalah anggotanya. Ia, menurut Gatot adalah orang kepercayaan tentara dalam menjaga ruang amunisi dan logistik. Hingga suatu kecelakaan helikopter membuat tangannya putus dan Gatot membawanya ke Jakarta sampai pada 1987 Hercules mulai merambah daerah Tanah Abang dan membuat kelompok. Mitos Hercules dikuatkan oleh rezim Orde Baru, ketika ia bergabung dengan yayasan milik anak mantan presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana di daerah Cijantung.

Bangunan mitos tersebut membuat nama Hercules mengalahkan, memisalkan, penangkapan Jhon Kei, tokoh kelompok Kei,  tersangka pelaku pembunuhan bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono pada 2012 lalu. Sebab, sekali lagi, nama pada nama Hercules telah disematkan sebuah kuasa oleh berbagai pihak, termasuk negara, dan kita!

Negara Merawat Preman

Dunia Hercules Rosario Marcal adalah dunia gali, dunia adu otot dan nyali, dunia amuk dan ketakutan sekaligus keamanan orang-orang. Dalam kehidupan Hercules dan “jagoan-jagoan” lainnya kehidupan datang dari usaha menjual jasa keberanian; pengamanan lahan sengketa, penjaga keamanan, penagihan (debtcolector), dan penguasa menggunakan jasa tersebut untuk menggalang suara dan pengalihan isu.

Banyak kasus-kasus perebutan lahan para pengusaha, tidak hanya di Jakarta, menyewa jasa orang-orang semisal Hercules dan anggotanya. Lahan-lahan kota, semisal tempat parkir, terminal, pasar, tempat hiburan malam, dan sebagainya mereka kuasai bahkan usaha-usaha semisal pemungutan karcis di ruang publik. Hal tersebut seakan dilegalkan aparatur negara di berbagai tempat di negeri ini. Seakan abai, karena negara ingin mudah, dan tidak mungkin bagi aparatur negera untuk terjun langsung dalam dunia tersebut. Dan bahkan kelompok-kelompok tersebut dibeli jasanya untuk kampanye dalam pemilihan mulai dari calon anggota legistalif sebuah partai politik, walikota, gubernur bahkan presiden.

Selain mengetengahkan faktor keamanan masyarakat, dalam permainan wacana atau pembentukan isu, penangkapan Hercules penting bagi aparatur negara semisal kepolisian dalam mengetengahkan stabilitas. Sebab memang hal itu dibutuhkan, seperti tekanan bagi penjahat, dan langsung menuju pusat, yang menjadi ikon dari sebuah mitos, yakni Hercules.

Tapi dalam bebeberapa sisi pemerintah mungkin belum tersadar bahwasanya tingkat kriminalitas, baik disebabkan oleh sebagian kecil masyarakat atau kelompok besar, disebabkan oleh sistem yang dibentuk oleh negara itu sendiri. Pemikir seperti Bertrand Russell dalam sebuah catatannya mengenai “Cita-cita Politik” menganggap kejahatan itu sendiri paradoks. Hal tersebut dianggap terjadi dikarenakan aparatur negara tidak mengerti kesukaran masyarakatnya dan tidak bisa mengubah lembaga-lembaga yang mengatur manusis (pemerintah).

Kejahatan dianggap terjadi karena  distribusi yang adil karena pemerintah tidak bisa mengatur dengan adil kekayaan sebuah negara. Russel menyebutkan, dunia penuh “kejahatan-kejahatan” yang sesungguhnya dapat dihindari; seperti diharapkan banyak orang. Namun mengapa “kejahatan-kejahatan” itu tetap ada, tak ada sesuatu yang efektif dikerjakan untuk melenyapkannya. Hal tersebut terjadi karena terpusatnya kekuatan di beberapa tangan orang, sehingga tirani dari pemegang kekuasaan tersebut adalah sumber malapetaka bagi masyarakat. Dan pemerintah belum tersadarkan, bahwa sejauh ini masyarakat belum medapatkan apa yang seharusnya menjadi hak mereka.

Russell mungkin berbicara dalam tataran global, tapi pikiran-pikirannya tentang sumber kejahatan tersebut bisa ditarik sampai permunculan Hercules, Jhon Kei, atau para “jagoan-jagoan” lain di kota-kota besar negara ini. Mereka hadir, dirawat, dibesarkan dalam dunia paradoks. Di satu sisi mereka dibutuhkan oleh beberapa pihak, di sisi lain menjadi ketakutan masyarakat.

Bukan sesuatu yang mustahil, bila ada “pemimpin para jagoan” menjadi anggota legislatif di negeri ini. Mereka yang duduk di kursi tersebut dahulunya, bahkan sampai saat menduduki, mempunyai banyak pengikut. Negara atau bahkan partai politik membutuhkan kekuatan tersebut. Dengan dalih masuk dalam sebuah organisasi masyarakat yang dikuasai sebuah partai politik memilih para pamuncak dari jagoan tersebut untuk didudukkan di kursi tertinggi sebuah organisasi masyarakat. Mereka punya banyak pengikut; artinya banyak suara.

Kita tidak akan kaget di balik kegiatan Hercules yang samar itu ia diangkat menjadi pemimpian organisasi masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia Baru dengan berbagai alasan. Dan kita juga tidak akan kaget bila para jagoan (kita menyebut preman) lain memimpin berbagai ormas di negeri ini. Mereka dibutuhkan negara, dibutuhkan partai politik, dibutuhkan oleh penguasa, dan dirawat dengan baik untuk sesekali kekuatannya digunakan untuk pengalihan isu dalam masyarakat. Bisa jadi Hercules, dan para jagoan lain adalah ketakutan, tapi di sisi lain ia merupakan cermin bagi ketidak-sanggupan pemerintah memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Hercules ditangkap, tapi beberapa pakar kriminologi mengatakan bahwa regenerasi akan terus terjadi. Sebuah sistem telah dibentuk dalam trah seberti jejaring dan akan melahirkan nama-nama baru dalam dunia preman. Untuk wilayah Jakarta, Ahok selaku Wakil Gubernur, menyatakan bahwa premanisme harus ditekan dengan membuka lapangan kerja bagi mereka. Negara harus paham masyarakatnya.***

Dimuat di rubrik opini koran Padang Ekspres, Selasa, 19 Maret 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s