KAU YANG MENGENDAP DALAM PELEPAH PISANG, YANG LIHAI BERSILAT DI JALAN BAHASA

kau yang mengendap dalam pelepah pisang
yang bergayut pada jantungnya, yang bersuara
pada kerisiknya, yang berdarah pada getahnya
yang memandang dari licin kulitnya
 
kau yang bersetubuh di badan burung pelatuk
yang terikat pada cakarnya, yang menatap
di tajam pandangnya, yang berkelepak pada sayapnya
yang ikut mengasah tajam paruhnya
 
kau yang berdiam di batang jambu tua
yang menanam ulat di buah matangnya, yang mencukil
kayu lapuknya, yang menjalar pada uratnya
yang menentukan matang dan jatuh buahnya
 
kau yang berumah di cangkang umang-umang
yang membuat lembut dagingnya, yang mengkilatkan
mata kecilnya, yang beringsut pelan di kaki gaibnya
yang menuntaskan jarak dan tujuannya
 
kau yang berdoa di tubuh pemancing buta
yang menajamkan mata kailnya, yang menuntun
tangan lihainya, yang diam-diam menyangkutkan umpannya
yang dengan sigap menggambar di picingan matanya
 
kau yang menggema dari puncak gunung
yang berjaga di pintu angin, yang melembabkan
lumut batu, yang bersyukur di lambung rimbanya
yang bertarian dan berloncatan di dingin lembahnya
 
kau yang kosong di dalam badan buluh
yang pelan menanam miang, yang lamban
menajamkan kulitnya, yang menyansam di bunyi daunnya
yang dengan sigap menebang batangnya
 
kau yang berjaga di segala daun pintu
yang menatap orang lalu, yang menerjemahkan
setiap ketukan datang, yang senang bersenandung ala biduan
yang lihai bersilat di jalan bahasa
 
Kandangpadati, 2009
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s