TENTANG GONDORIAH

Telah aku sesap pati pangkal tebu agar seketika memicingkan mata
aku tahu sedingin apa dasar terumbu. Aku panggil gelombang, aku
seru limbubu, aku tunggangi air gadang, dan kubayangkan maut seakan
burung-burung dengan getar paruh terhisap samudra hitam.

Sebab tidak  kutakut berumah di pangkal pantai, tidak kukalut karang
membenam. Sebab pasang akan susut dan bulan jatuh ditutup awan.

Dendangkanlah lagu itu, lagu tentang beruk pandai berkecapi, tentang
siamang penabuh gendang dan burung kuau dengan paruh lihai
menenun selendang. Sebab kelewang di pinggang akan patah dengan
sendiri, dan kita akan menjerit untuk maut yang tak sudah. Maut yang
terjepit di antara palang pintu hari depan dan hari lalu.

Kandangpadati, 2013

(dimuat di Koran Kompas, Minggu, 30 Juni 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s