TENTANG MANGKUTO

Kota lama, kota hitam, malam selalu naik serupa bulan empatbelas
kita memandang hari lalu dari balik jatuhan kersik daun ampalam
ah, lambungku Mangkuto, di dalamnya asam serasa terus diperam.

Tapi aku serupa orang kena tenung, gerabah-gerabah berjatuhan dari
pagu kepalaku, segala api dilarikan jauh dari mataku, siapa kaum yang
membenamkan tinggam dalam ususku! Ah, lambungku Mangkuto
tuah siapa pula yang membuat nasi dingin ditelan serasa sekam.

Kota lama, kota hitam, orang-orang berabad memasang perangkap
untuk menjatuhkan kuda jantan, menggali lubang untuk merubuhkan
induk harimau, membangun kapal-kapal gadang buat menunggangi
air gila; tapi jantung-hati mereka dibuat remuk cerlang suasa.

Kandangpadati, 2013

(dimuat di Koran Kompas, Minggu, 30 Juni 2013)

Iklan

3 thoughts on “TENTANG MANGKUTO

  1. Bukan untuk suatu kesempurnaan, tapi menjadikan goresan tampak jauh lebih merekatkan. Bukan yang bisa kau temukan karena sebuah penantian panjang atau pencarian yang penuh perjuangan, tapi yang kau ciptakan sendiri dan kau pasrahkan kepada keajaiban Tuhan. Maka berbahagialah, kawan, maka tawa merengkuhku pula dengan pelukan yang menghilangkan kepenatan. Bahagialah, jangan kau tepikan tawamu hanya karna butiran debu yang menyelip di matamu. Bahagialah, kawan, karena senyummu alasan terhebatku untuk bertahan dengan kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s