PADA TUNGGUL TERBAKAR ITU

Pada tunggul terbakar itu
aku temukan nasibku, Upik.
 
Seakan kudengar sayup-sampai suara tukang
dendang memainkan lagu tentang para pengilang
tebu di pinggang gunung Singgalang, tentang kuda
pacuan patah pinggang, tentang kisah anak dagang
hidup bergantung dari kemarahan induk semang.
 
Hari ke hari adalah patahan nasib baik
seranting demi seranting, dan aku terus
membayangkan ke depan adalah mimpi buruk.
 
Beri aku dendang lain, Upik. Tak ada
maut, tak ada pendakian, tak ada segala
yang buruk. Tapi pada tunggul terbakar
itu terus aku temukan nasibku.
 
Hari baru barangkali seperti kehendak ingin
ke pasar, membeli seulas kain, lantas
menghantarkannya ke tukang jahit. Hari baru
lebih serupa baju baru, sebab kain lamaku
serasa kian tipis di badan, berhujan-berpanas
terus dibiarkan melekat seperti itu.
 
Beri aku dendang lain, seperti tarian selendang
atau gamad orang seberang dengan lagu
berkasih sepanjang hayat. Oh, telah aku temukan
nasibku di tunggul terbakar itu, Upik. Nasib
tunggul kayu berurat singkat, tidak lagi menancap
tidak lagi menggapai!
 
Kandangpadati, 2013
(dimuat di Koran Kompas, Minggu, 30 Juni 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s