DI ANGIN NGARAI SIANOK

Di angin ngarai itu aku masuki masalalumu,
langit hitam tipis dengan bulan menggantung genting.

Aku tahu, percakapan kita tidak akan pernah berubah. Tentang
lelaki pandai emas dengan kangker pada rabu, atau perempuan
tukang sulam benang dengan cekungan pada lingkar mata.

“Kita emas urai, kita tenun sebelum jadi.” Dan masalalu lebih
serupa bis-bis di pendakian dengan asap hitam dan rengek
mesin kelebihan beban.

Aku masuki terus masalalumu, angin ngarai beradu di tebing tipis
suara air melaju beradu batu, dan sebaris sajak tentang ketakutan.

“Sianok, diri kami dibuang atau kami membuang diri?” di sini
anginnya mengaramkan, anginnya membenamkan, aku merasa
kita akan terus didinginkan.

Dimuat di koran Indopos, Sabtu, 6 Juli 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s