DI BANGKU KEDAI HAU

Dari bunyi decit air mendidih dalam ketel itu aku semakin paham

orang datang orang duduk, segelas minuman panas, obrolan tentang
kereta kandas dan kapal lepas, lagu-lagu terus berhamburan dari
radio seperti gelombang udara berjatuhan sebelum sampai ke telinga.

Oh hari gila, kota dengan bangunan oleng ini membuat kita jadi
setengah penyair setengah penyihir. Mendengar decit  ketel seakan
menikmati maut berhamburan dari sebuah hikayat tentang amuk
di malam buruk. Hari gila, kota dengan jalanan menampung bis-bis
remuk yang bergerak mundur ini telah membuat kita lebih memilih
menulis tentang orang mati terbenam di muara, ketimbang
menulis tentang udara berat atau  migrasi burung yang tak jadi.

Aku duduk menepi, bau basah bangku kayu trembesi, memesan
kopi dalam gelas mini, menyimak lagu cemas tentang angin berkisar
hebat dan kilat beliung bertabrakan di tengah  langit bergabak.

Aku terus menggerutu, kenapa kota ini dibangun dari masa lalu tukang
dendang pengharu-biru, ketimbang petualangan anak datang ke negeri
jauh di seberang? Kota ini telah mengutuk kita untuk menjadi tua dengan
retakan pada tulang rahang dan usus terbelit pada telinga kuali.

Dimuat di koran Indopos, Sabtu, 6 Juli 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s