ANGGUN NAN TONGGA

Nuri dengan paruh bergetar itu bicarakan kita
ia terbang dari  pulau penuh mambang, melintasi tanjung
demi tanjung dalam musim gelombang pasang, mengitari
karang demi karang dalam cuaca panas berdengkang.
 
Ia membicarakan kita, Gondoriah. Dengan luka bakar
pada punggung ditanggungkannya maut hingga terdampar
di pangkal muara ini.
 
“Sebelah hati dan sebelah lagi jantung
aku bungkuskan, terimalah…” dalam mata ganihnya
aku titipkan rangkaian cahaya suar agar sampai padamu.
 
Aku Nan Tongga, kuda kulecut akan menggedudu larinya
gelombang kutunggangi akan beku geraknya. Tapi pisau mana
bisa meraut pangkal dari sepi yang sudah tertancap tumbuh
dan berakar dalam-dalam ini?
 
Nuri dengan paruh bergetar itu bicarakan kita, Gondoriah
bicarakan rumah tanpa palang pintu di daratan paling jauh:
di angin sedikit pintu itu membuka,
di angin besar pintu itu menghempas.
 
Paraklaweh, 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s