BEDIL ORANG SUNGAI PUAR

Si tua pandai besi yang giginya sewarna emas sepuh itu.
Aku katakan padanya, aku ingin beli bedil buatan tangan
orang Sungai Puar, yang muncungnya sepanjang penggalah
dan lubangnya cukup untuk memasukkan butir telur ayam Arab.
Tapi ia bilang bedil Sungai Puar kurang mantap ditembakkan
ke binatang buruan, muncungnya bengkok di ujung, penenongya
bikin mata juling, pelatuknya sering patah pangkal, dan letusnya
selayak bedil betung. Tapi tetap aku katakan padanya, aku ingin
beli bedil buatan tangan orang Sungai Puar bukan buat berburu.
 
Sebab aku ingat lukisan di ruang tamu rumah Datuk Buahbuah
Panjang Tajulai. Lukisan seorang paderi tua berbaju putih
Semampai, layaknya baju orang berhaji sedang ihram, sorbannya
selebar baskom cucian. Janggutnya panjang hitam berminyak,
tanpa sisungut penyaring dedak kopi, lingkar matanya dalam
tersapuh celak, dan gagahnya minta ampun. Sebab punggungnya
menyandang bedil bermuncung panjang, dan di bawah lukisan
itu tertulis: “Ini bedil, made in Orang Sungai Puar.”
 
Si tua pandai besi yang giginya sewarna emas sepuh itu.
Aku katakan padanya, aku tetap ingin beli bedil buatan tangan
orang Sungai Puar. Ia malah bilang, bedil buatan orang
semenanjung berkwalitas lebih bagus, letusnya lunak, pelornya
tajam menembus dada babi. Lantas aku bisikkan ke pangkal
telinganya, bedil orang Sungai Puar irit biaya, sebab pelornya
serba bisa. Mulai dari kacang-kacang roda sepeda, beling pecahan
piring, telur ayam Arab, atau buah-buah di sela kerampangmu.
Layaknya lukisan paderi tua itu, gagah sangat di pandang mata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s