KAMPUNG DALAM DIRI

darimanakah terseret mumbang kelapa, jatuhan putik jambu
atau akal yang dibelit akar di balik semedi bertahun.
berharap aku jelmaan kumbang
singgah pada petikan korek api, “mana bulu yang tak ingin
ranggas, mana sayap yang tak hangus, atau jarum ekor
yang tak jadi bikin bengkak daging!”
 
dirimu. jadilah bantal dalam benaman tidurku
jadilah petaka tajam yang menyuruk di runcing duri-duri mataku
sekalian kita bersepakat untuk tidak lagi saling mengumpat.
jika jumpa hanyalah garam dari cairan punggung semediku
apalah artinya mumbang kelapa terseret
atau jatuhan putik jambu
sebab kita cuma kulit ari yang dibalut tanah liat,
liat yang asal dari segala asal.
berikan aku semedi yang ritus, agar menjelma
matamu di retak tahun, agar kita nikmat
saling memandang nantinya
seberapa pun inginmu menjangkau kampung dalam diriku
hanya akan menemu lereng bukit. sebab apa? “ya, rahimmu
telah membentuk arus sungai, menggerus datar tanah,
menikam ujung gunung (dan sisanya cuma lereng bukit pasi
tersiram dingin yang mulai sekarat)” maklumkanlah.
sebentuk gua telah tersisa
untuk kita bersepakat lagi nantinya dengan kelam
 
darimanakah juntaian rambut rimba membentuk utara
dan selatan, timur dan barat. sebab arah cuma
semacam pematang sawah tempat kita duduk-duduk
menyulam jerami untuk tikar, lalu membentangkannya dan
minum secangkir kopi sambil berserikat dengan angin gatal
“di dangkal sungai, dedaun mengurai pada musim padi.
lalu ke mana punai mencari sarang, ke mana
tukang tenung mencari ramuan
buat pengobat demam si perindu yang tiap senja turun
makin parah sakitnya?” kita tidak sedang bergurau
ada yang menikam dari belakang. tersebab itu aku bersemedi
jauh dari arah. jauh dari kemengertian  kita
agar sesekali kau maklum akan kepulangan nantinya.
bahwa rumah,
adalah hati yang disayat bilah, lalu digantung-buai waktu.
kepulanganlah penyebab kita mengerang nantinya
setiap picingan mata, setiap itu pula kita akan menepuk dada
 
darimanakah muasal kita, yang menyebut jumpa
sebab aku telah lebur dalam semedi. dan di manakah kau
meyuruk: dalam mumbang kelapa yang terseret atau putik
jambu yang jatuh?
aku bertanya dan kau tak usah menjawab
akan kering. ya, akan kering lama-lama ingatanku
semedi ini telah melaut telah sempurna garam
hilang adalah kepulangan baru. kau tak akan sanggup
berkata, apalagi menjemput diri yang tak lagi kau lihat

 

Jalan Tunggang, 2008

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s