BUJANG SELAMAT TUKANG KABAR

Ke langit, mengambanglah, saat bulan hanya seulas limau manis
seruas buluh akan ditiup-hembuskan orang dari arah daratan tinggi
dan tandan pisang akan jatuh dari tampuk, dan rumpun pandan musang
akan tercabut dari pangkal—dan terkutuklah bila dusta tukang kabar!

“Tuanku Haji, cinta atau petakakah? Dalam sepasang badan
ada satu jantung terbelah dua lagi seiring pacuan detaknya?”

Ke langit, mengirablah, saat pintu angin disibak percik api
sebuah dendang pedih tentang orang hilang akan didengungkan
kaum dari utara pesisiran. Kecuali kabar tentang nuri dengan
paruh patah, tenggelam di laut lepas. Tak akan ada lagi cerita
tentang selendang yang dibentang seluas alam dan dilipat
seukuran kuku, tak ada beruk pandai bergitar atau siamang
gemar berjoged—oh, celakalah mulur besar tukang kabar!

“Tuanku Haji, cinta sudah begini membahananya. Tapi darahku
darahnya satu hulu berlainan muara.”

Paraklaweh, 2013

 

Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 6 Oktober 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s