DALAM SEHELAI CELANA RANDAI [BIENAL SENI RUPA SUMATERA #1]

 

IMG_3969

“PRRI ada bukan ingin lepas dari NKRI tapi karena Sukarno ingkar janji…” sebaris tulisan tertera di antara beragam tulisan lain di sehelai celana randai (galembong) yang menggantung di galeri lukisan Taman Budaya Sumatera Barat, kemarin (6/12). Celana randai berwarna hitam dengan atasan merah tersebut menggantung pada kawat besi yang dibentuk menjadi gantungan kain.

Ada kesan memilukan ketika memandang celana yang merupakan karya instalasi karya Stefan Buana berjudul “Padang Bengkok” berukuran 150 x 100 yang dibuat tahun 2012 tersebut. Apalagi, yang memandang instalasi tersebut adalah orang Minangkabau yang merasa ‘kalah’ atau ‘dikalahkan’ dalam peristiwa PRRI yang berlangsung di Sumatera Barat tahun 1958-1961 tersebut. Dalam beberapa catatan sejarah, orang Minangkabau menghiba-hiba setelah kejadian tersebut, ada yang bilang sebagian merasa rendah diri. Sebuah novel karangan Ayu Utami, berjudul “Cerita Cinta Enrico” bahkan membahasakan peristiwa tersebut dengan revolusi yang ringkih, seperti ceker ayam.

Instalasi karya Stefan Buana adalah salah satu dari sekian banyak karya seni rupa yang dipamerkan dalam agenda Sumatera Biennale #1 2012, dari tanggal 5 Desember – 5 Januari 2012 di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Tak salah jika kurator dalam pameran tersebut, Kuss Indarto memberi tajuk Self-Discovering (Pencarian Diri). “Salah satu hal penting yang dimiliki publik dalam sebuah negara bangsa adalah imajinasi atas kehidupan bersama, dan ikhwal identitas,” terang Kuss.

Identitas itulah, pencarian diri, yang terbaca hampir dari semua karya seni berupa lukisan, instalasi, dan foto tersebut. “Self-Discovering ini berupaya menjadi ruang bersama untuk melirik dan membicarakan ikhwal imajinasi dan identitas ke-Indonesia-an tersebut hingga orientasinya ke depan,” terang Kuss.

Dikatakannya, tentu bukan perkara yang boombastis kalau kemudian para peruba (sebagai bagian penting dari negara bangsa ini) melakukan pembacaan, pemetaan, penyingkapan dan pelontaran komitmen personal atas fakta-fakta sosial. “Tentu bahasa visual akan tetap menjadi perangkat utama para perupa,” terang Kuss.

Selain instalasi Stefan Buana, di antara puluhan lukisan yang dipajang hadir juga instalasi karya Amrizal Salayan bertajuk “Tagaknyo Maukua Bayang”. Instalasi berbahan polyester, acrylic, dan tanah tersebut tampil berdiri seperti sehelai daun yang setinggi badan orang dewasa. Dun yang berdiri tersebut seakan membungkus dirinya sendiri. Dan di bawah daun yang membungkus tersebut, ada bayangan daun yang membuka lebar dengan tulisan-tulisan tertera di dalamnya. Instalasi Amrizal Salayan tersebut seakan membicarakan sebuah hubungan yang Illahiah, antara manusia dan khaliknya. Daun yang berdiri tersebut sekilas dipandang juga seperti kain pembadung bayi, sekilas tampak juga seperti pembungkus kematian.

Selain itu, hadir lukisan Hamzah bertajuk “Tekstur Rumah Gadang” (akrilik di atas canvas, 200 x 200 cm, 2012) dengan gambar-gambar rumah gadang menghampar berkesan buram. Hadir juga lukisan abstrak Iswandi bertajuk “Mencari Bentuk” (akrilik di atas canvas, 150 x 200 cm, 2012). Iswandi di dalam lukisannya bertutur melalui visualisasi makhluk yang pastinya sedang mencari bentuk, barangkali janin yang berkembang, atau makhluk yang tak tampak oleh mata telanjang sedang membelah dan mencari bentuknya yang lain.

Fadly Nasrun dari komunitas Sarueh hadir dengan foto bertajuk “I’m Momon (90 x 330 cm). dari foto tersebut muncul citraan orang-orang, semuanya laki-laki dengan bermacam pakaian, mereka hadir tanpa kepala. Setidaknya ada tujuh penggambaran tentang pakaian yang terlihat di foto tersebut, mereka hadir dengan pakaian, baju, sendal, aksesoris yang membuat mereka tampak berbeda. Di bagian ujung, di antara tujuh foto tersebut hadir sebuah kepala terbelah empat yang seperti puzzle, bersusun tidak teratur.

Setidaknya hadir 32 seniman dengan beragam karya dalam Sumatera Biennale #1 tersebut. Mereka hadir dengan tematik yang berbeda dan penghadirn bantuk yang berbeda. Tapi seperti kata Kuss Indarto, sebagian besar, atau bisa jadi keseluruhan dari mereka bertutur tentang ‘akar’, dari imajinasi masalalu.

Dalam agenda Sumatera Biennale tersebut tidak hanya saja diisi dengan pameran lukisa. Kemarin siang (6/12) diadakan juga workshp seni rupa, melukis bersama, dengan pemateri Djoko Pekik dan Yuswantoro adi.

Muasri, Kepala Taman Budaya Sumatera Barat pada pembukaan agenda tersebut Rabu (5/12) malam mengatakan bahwa agenda tersebut adalah upaya untuk menguatkan perhelatan seni rupa yang sudah ada sekaligus memberi titik beda dengan sifat kompetitif yang bersandar pada kesejarahan, proses kreatif, dan dinamika kreatifitas seniman yang menempuh pendidikan atau ernah berproses di Sumatera. “Mereka (seniman) yang punya kaitan psikologis, sistem pengkurasiannya tidak hanya mereka yang di Sumatera. Bahkan seniman Sumatera Barat yang hujrah ke daerah Jawa masuk dalam pengkurasian,” terang Muasri tentang seniman yang karyanya dihadirkan dalam agenda tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s