DI KINOL

Tuhan, pada pangkal kota ini
kuselipkan doa laparku. Kusisihkan
nasib burukku. Kuaminkan hari yang separuhnya
angin ribut merubuhkan batang-batang gadang
menimpa tepat pada tulang punggungku.

Aku tahu. Retakan gedung batu, kusen kayu dahulu
beringin yang tumbuh di tengah rumah
dan aroma cengkeh basah di jalur gudang masa lalu
telah lebih dulu aku aminkan sebagai derau.

Tapi hujan di Kinol
orang-orang bertaruh memutus urat leher dan isi dada
di meja makan, bertaruh tentang tongkang mana yang
akan karam sebelum merapat ke teluk, tentang jalan mana
yang akan dilipat habis ke dalam saku baju.

Kinol adalah hujan setengah badan
maut mengintai dari pecahan kaca jendela
dan lampu yang hidup-padam dengan segera.

Kandangpati, 2013

 

Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 29 Oktober 2013 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s