DOA SEBELUM PEMBONGKARAN GAPURA

[dokumentasi pribadi beberapa catatan saya tentang konfil antapa Pemko Padang dan HTT Padang, 2012 lalu]

Image

“Kami bukan melawan, kami hanya menginginkan kebenaran. Kalau pada akhirnya kami dinyatakan salah, maka kami terima. Tapi kami akhirnya sadar bahwa kebenaran bisa disalahkan, tapi kebenaran tidak akan pernah hilang. Suatu saat apa yang dilakukan HTT akan terbukti benar…” Tuako HTT Feriyanto Gani.

 

 

 

Perseteruan antara pihak Pemko Padang dan warga Himpunan Tjinta Teman (HTT) atas dibangunnya gapura Hok Tek Tong akan segera berakhir. Pihak HTT kemarin malam (18/10/2012) memutuskan untuk membongkar gapura tersebut agar masalah tidak terjadi masalah berlarut-larut.

 

pembongkaran mulai dilaksanakan sekitar pukul 10.00 WIB, mundur dari jadwal yang sebelumnya akan dilaksanakan sore hari dikarenakan hujan. Pembongkaran tersebut dilakukan oleh puluhan warga HTT sendiri tanpa campur tangan pihak lain. Dalam pembongkaran tersebut tampak hadir juga Dandim 0312 Padang Letkol Inf. Asep Ridwan dan Kapolresta Padang, Kombes Pol. Moch. Seno Putro.

 

Sebelum melakukan pembongkaran, warga HTT melakukan ritual doa dan sembahyang, sebagai permohonan semoga pembongkaran atas gapura yang dianggap perlambang harga diri tersebut tidak mendatangkan persoalan lain bagi warga HTT, masyarakat kota Padang, dan Pemko Padang.  

 

Sebelumnya di Pujasera Siti Nurbaya, kompleks HTT, Feriyanto Gani selaku Tuako HTT menyampakaian kerelaan hati warganya untuk melaksanakan pembongkaran sendiri. “Pembongkaran akan kami lakukan sendiri, tanpa bantuan siapapun. Kami yang membangun dan kami yang akan membongkar sendiri,” terangnya didampingi Albert Luknam, Bendahara HTT, dan Djuanda Rasul selaku kuasa hukum.

 

Feriyanto juga menyampaikan permohonan maafnya pada warga Padang seandainya memang pembangunan gapura dan konflik yang selama ini berlangsung telah ikut membuat warga risau. “Kita punya kepercayaan, kita percaya Yang Di Atas tahun mana yang benar dan mana yang salah. Dan selaku warga Indonesia yang taa hukum, dengan penuh kerelaan kami akan membongkar gapura,” terangnya atas gapura yang dibangun dengan dana ratusan juta rupiah atas sumbangsih warga HTT tersebut.

 

“Adapun niat kami hanya untuk memperindah Pondok. Ditambahlagi pasca gempa 2009, Pondok porak-poranda, kami hanya ingin gapura itu menjadi semacam ikon untuk menarik wisatawan dam membuat mata orang indah memandang,” tambah Feriyanto.

 

Sementara itu kuasa hukum Djuanda Rasul mengaku kecewa atas surat yang dilayangkan PTUN Padang atas penolakan kasasi dengan nomor surat 03/G/K/2012/PTUN-PDG yang sampai ke tanggannya tanggal 17 Oktober tersebut. Kekecewaan tersebut tak lain dikarenakan pada surat tersebut tertera bahwa putusan PTUN Padang dikeluar tanggal 15 Oktober sementara konflik atas pembongkaran gapura terjadi pada hari yang sama. “Saya merasa aneh di bagian ini, tanggal 17 Oktober menerima surat sementara putusan surat tersebut tanggal 15 Oktober, dan pada tanggal yang sama terjadi konflik dikarenakan Pemko Padang melalui Satpol-PP akan melakukan pembongkaran,” terangnya.

 

 

Djuanda mengatakan jika seandainya saja surat tersebut dilayangkan pada saat putusan PTUN Padang tersebut, tentu pihak HTT akan berbesar hati. “Tapi pada saat eksekusi hari senin (15/10) itu pihak Satpol-PP hanya mengatakan bahwa pembongkaran dilakukan atas perintah Walikota Padang,” katanya. “Di sinilah saya kecewa, atau jangan-jangan ada yang tidak beres, sebab saya tahu baru tanggal 16 Oktober di PTUN Padang ‘ribut’ membicarakan ini,” tambahnya. Akan tetapi Djuanda mengatakan bahwa kekecewaannya tersebut akan didimpannya saja dengan penuh kerelaan karena surat penolakan kasasi tersebut sudah berada di pihak HTT. “Langkah kami sudah terjegal, sudah tertutup, kami pada posisi kalah dan pembongkaran tentu akan dilaksanakan,” katanta.

 

Senada dengan itu, Albert Indra Lukman selaku Bendahara HTT juga mengatakan hal yang sama. Meski dirinya mengaku kecewa dengan surat putusan tersebut akan tetapi selaku warga negera yang baik dirinya akan aikut serta mendukung pembongkaran tersebut. “Kami warga HTT juga warga yang taat hukum, kami ingin membuktikan pada semua orang, terutama warga Padang bahawa sejauh ini kita telah hidup berdampingan dengan damai,” terangnya.

 

Albert menyatakan bahwa sejauh untuk pembangunan kota Padang, warga HTT selalu mendukung dengan sepenuh hati. “Kami sebenarnya merasa didzolimi, karna pembangunan gapura semata-mata untuk pembangunan kota, tapi kami akan taat pada putusan peradilan,” tambahnya.

 

Beberapa waktu lalu pihak Pemko Padang sudah mengeluarkan peringatan pembongkaran gapura atas ditolaknya permohonan kasasi oleh PTUN Padang atas permohonan yang diajukan tanggal 10 Oktober 2012. Dari putusan itu maka Pemko Padang berhak melakukan pembongkaran, namun, tidak akan langsung melakukannya sesegera mungkin, melainkan menung­u itikad baik dari HTT.

 

 “Pemko Padang akan memberikan waktu hingga minggu ini untuk dilakukan pem­bongkaran,” kata Walikota Padang Fauzi Bahar di­dampingi Dandim 0312/Padang, Wakapolresta Pa­dang, Asisten I, dan Sekda Pemko Padang, di sela-sela jumpa pers di Balai Kota Padang, Rabu (17/10). 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s