GELANGGANG NANGKODO BAHA

Tapi gelanggang itu terbuka. Pada siang terik seekor elang laut
terbang rendah, berputar, melingkar. Kepak lamban sayapnya
menyeret getar ribuan tungkai kaki kuda perang sedang berlari.

“Pangkal lengan siapa akan patah, punggung siapa akan
dibuat dingin berkepanjangan, Nan Tongga?”

Sebuah miniatur panji tiga warna terikat di ulu parang, seakan
perselisihan belum tunai saat taji ayam aduan berpatahan, seakan
dendam terus tersumbul dari retakan gelas tuak sehabis ditenggak.

“Nangkodo Baha, jangankan kilat beliung atau kilau mata parang
punggung gelombang akan aku tunggangi seorang diri!”

Tapi sebelum gelanggang itu terbuka, mereka paham
perselisihan adalah ngilu pada sambungan tulang.
Dendam adalah ruap air payau yang bergelembung hitam
di liang kulah. Tidak akan ganih bila disuling, tidak akan
menggaram bila diperam bermalam-malam.

Paraklaweh, 2013

 

Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 6 Oktober 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s