LIMIN JADI DUKUN

Tiba-tiba tubuh Limin terlentang, rubuh ke tanah, ia terkulai lemas tidak berdaya. Segelas kopi yang baru saja ingin diseruputnya tertuang membasahi pakaian lelaki paruh baya itu. Di genggaman tangan kirinya kulihat batu, pipih seukuran telur ayam kampung, berwarna hitam dan kesat. Batu itu erat digenggamnya.
Orang-orang di lepau tersentak melihat kejadian yang menyiratkan keanehan tersebut. Sesekali tubuh Limin menggelepar seperti ayam yang baru saja disembelih. Dari mulutnya air liur membusa, matanya membelalak. Pandangan dari gelap pupilnya tertuju pada sesuatu yang jauh, sesuatu yang mengarah pada kedalaman alam bawah sadarnya. Arah yang dalam dan hitam, sehitam batu di genggaman tangan kirinya. Aku dan beberapa orang yang duduk di lepau menggotong tubuh Limin yang sedang tidak sadarkan diri ke rumahnya, di pinggiran sawah, tidak jauh dari lepau.
Malam diam membatu, hanya sesekali terdengar cericit murai batu terdengar dari julaian daun pohon kelapa. Cericit yang membuat tengkukku dingin. Sebelumnya sudah kudengar cerita sepintas lalu, tentang batu yang kulihat di genggaman tangan Limin dari orang-orang yang juga duduk di lepau. Ya, setiap hari ada saja yang diceritakan orang-orang tersebut, termasuk aku, pengunjung wajib lepau. Maklumlah, sebagian besar orang yang duduk malam-malam di lepau (seluruhnya laki-laki) adalah peladang dan petani.

Kami berusaha menghabiskan malam setelah seharian bekerja di lahan garapan masing-masing. Dan cuma di lepau, kami bisa mendengar informasi terbaru seputar kampung atau berita tentang luar kampung. Dari mulut ke mulut berita akan disampaikan sambil menyeruput segelas kopi, goreng pisang, menghisap rokok kretek murahan. Tentunya sambil menonton televisi milik si empunya lepau yang berukuran 14 inci dengan saluran terbatas.
Konon kabarnya Limin mendapatkan batu tersebut siang hari ?sebelum kejadian rubuhnya tubuh Limin di lepau? seketika matahari tepat di ubun-ubun, di sekitar kuburan tua dekat ladang tempatnya bekerja. Tapi aku tak bisa memastikan lokasi tepatnya. Limin yang bekerja sebagai peladang upahan sedang beristirahat untuk makan siang. Lalu ia mendengar sesuatu memanggilnya, menyeru namanya, dan menyuruhnya untuk mengambil sebuah batu dekat kuburan tua; panggilan yang konon seperti desiran angin lalu. Hanya itu cerita yang kudengar, muasal Limin yang mendapatkan batu hitam pipih sebesar telur ayam kampung. Oh, sedikit cerita penyambung. Setelah batu tersebut digenggamnya, ada suara lain yang menyeru dari arah yang entah. Seruan itu menyatakan bahwasanya batu tersebut bisa membantu orang banyak dan cuma Limin yang bisa menjadi perantaranya! Cerita ini kudengar dari seseorang yang bersebelahan ladang dengan Limin. Seseorang yang langsung mendengar cerita dari mulut Limin.

Tubuh kurus Limin masih saja menggelejang seketika ditelentangkan di dipan rumahnya yang berkasur tipis. Aku memegang kepalanya, mengusap-usap keningnya, sambil membaca ayat-ayat pendek Alqur?an yang kuhafal di luar kepala. Mungkin saja ia kerasukan, sebab setahuku memang seperti itu gejala kerasukan. Beberapa orang lainnya memegang kaki dan tangannya untuk menghindari gelejang tubuhnya yang tidak menentu. Tapi gelejang tubuh itu makin menjadi sehingga membuat kami kewalahan. Kurasakan gelejang tubuh itu tidak datang dari tenaga tubuh Limin.

Dipan tempat kami menelentangkan Limin seakan mau roboh karena gelejangannya. Rumah kecil, atau lebih tepatnya pondok kayu kecil yang dipinjamkan oleh seseorang juragan sawah agar Limin bisa tinggal sambil menunggui sawahnya itu pun serasa akan rubuh dibuatnya. Kucari segelas air putih di cerek dan kuusahakan agar ia mau meminumnya. Kusuruh ia istigfar, nyebut.

Selang beberapa lama tubuh Limin mulai biasa, tenang tanpa gerakan. Pastinya tubuh itu mulai tidak sanggup menahan kekuatan yang datang dari luar tubuhnya, kukira begitu adanya. Di tanggan kirinya batu hitam pipih sebesar telur ayam kampung masih tergenggam dengan erat. Kami biarkan tubuhnya yang kelelahan itu. Matanya tidak lagi membelalak dan dari mulutnya tidak mengeluarkan buih air ludah. Tapi ceracau yang tidak kudengar dengan jelas digumamkannya. Ceracau yang kukira juga bukan datang dari alam sadarnya, tapi dari luar dirinya, entah siapa itu. Kurasakan kejadian ini benar-benar aneh dan aku belum bisa menebak dengan pasti bahwa penyebabnya adalah batu hitam tersebut.

***

Inilah kejadian aneh selanjutnya yang kulihat dan kudengar sendiri dengan mata kepalaku. Beberapa hari berselang setelah Limin jatuh tergelepar di lepau. Aku mendapat cerita dari salah seorang yang duduk minum kopi di lepau. Ia mengatakan bahwa Limin mendapatkan kekuatan dari sebuah batu yang dikatakan datang dengan sendiri kepadanya. Aku mulai menduga-duga, tapi baru sepintas dugaan, bahwa malam itu benar-benar batu tersebut yang membuat tubuh Limin kehilangan kesadarannya?maksudku sesuatu yang mejadikan batu tersebut perantaranya, sesuatu yang entah, sesuatu yang mempunyai kekuatan yang tidak biasa. Bagiku tidak mungkin sebuah batu bisa datang pada Limin jika tidak didatangkan.

Aku mulai mencari tahu, menanyakan pada orang yang memberitahukan bahwa Limin mendapat kekuatan tersebut. Tentang kekuatan apakah yang didapatkan oleh Limin. Ia menyatakan bahwa Limin bisa mengobati orang-orang dengan menggunakan batu tersebut. Ah, mustahil bagiku. Tidak mungkin Limin dan batu tersebut bisa mengobati orang. Di benakku terfikir hal-hal yang lain, sesuatu yang aneh. Mungkinkah Limin telah mempelajari ilmu hitam? Ilmu yang didapat dari sesuatu yang hitam, dari sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat.

Ah, apa yang kumengerti tentang ilmu hitam. Yang kutahu di kampung ini orang-orang selalu taat beribadah, di surau selalu ramai orang mengaji, setiap perayaan agama selalu banyak infaq yang terkumpul, dan tentunya setiap tahun ?setiap Idul Adha atau bulan haji? orang-orang yang ke Makah selalu ramai. Masih adakah kiranya orang di kampung ini yakin dengan apa yang dikatakan Limin?

***

Dari jarak jauh kulihat mulai banyak orang yang berdatangan ke pondok Limin. Awalnya aku aku tak menduga bahwa orang-orang tersebut datang untuk berobat padanya. Tapi setelah kudengar lagi cerita di lepau kopi, memang benar begitu adanya, orang-orang tersebut benar-benar datang untuk berobat. Ini benar-benar mustahil, tidak bisa kucerna dengan akal sehatku. Limin bisa mengobati orang sekarang? Padahal aku tahu sekali siapa dia. Ia datang beberapa tahun lalu ke kampung ini untuk mencari pekerjaan. Tanpa keluarga dan sanak saudara ia hidup. Bertani dan berladang, itulah pekerjaan yang dilakukannya karena keahliannya sama seperti aku. Sama seperti kebanyakan lelaki di kampung ini.

Tapi memang benar begitu cerita yang keluar dari mulut orang banyak. Sekali lagi: orang-orang pergi berobat ke tempat Limin, ia memberikan obat tapi tak seperti dokter biasa memberikan obat, lebih tepatnya seperti ?orang pintar? atau dukun! Konon Limin telah menyembuhkan banyak penyakit: tumor, kangker, sipilis, masuk angin, angin duduk, dan banyak penyakit lainnya. Ini pernyataan dari pasien yang sudah berobat kepadanya.
Makin hari, makin banyak saja yang datang ke pondok Limin. Mereka semua pergi meminta obat penyembuhan. Berita ini menyebar dari mulut ke mulut, dari kampung ke kampung, dan tersebar ke luar daerah. Sudah tiga pekan lebih semenjak kejadian rubuhnya tubuh Limin di lepau. Makin banyak saja pasiennya. Beragam orang yang kulihat datang ke pondoknya, mulai dari peladang, petani, buruh, pegawai negri, anak sekolahan, pejabat, bahkan orang kampungku sendiri yang tahu pekerjaan Limin sebelumnya juga ikut berobat ?belakangan aku tahu beberapa orang di antara kami yang biasa duduk di lepau juga minta diobati oleh Limin, padahal mereka tahu benar muasal Limin mendapatkan batu tersebut.

Kubayangkan bagaimana cara Limin mengobati pasiennya. Dengan segelas air dari sumur belakang pondoknya. Lalu ia menyiramkannya pada batu hitam yang diletakkannya di atas talam pipih. Dibiarkannya air itu menggenang sebentar di talam, tanpa mantra-mantra, tanpa doa-doa, selang beberapa lama air tersebut dimasukkan ke dalam plastik bening untuk diminum oleh pasiennya di rumah masing-masing. Dan sembuhlah pasiennya tidak beberapa lama setelah meminum air tersebut?begitulah cerita yang kudengar dari orang-orang yang pernah berobat kepadanya. Aku tidak tahu pasti, sebab tidak pernah mendatangi pondok Limin setelah kejadian malam itu. Kejadian aneh yang membuat tubuhnya rubuh tak berdaya dan matanya memandang ke arah yang hitam dan jauh.

Kampung makin ramai oleh pasien Limin dan lokasi di sekitar pondoknya tidak memungkinkan lagi untuk menampung pasien yang antre tumpah ruah. Ratusan, barangkali ribuan orang minta diobati. Mobil-mobil beragam tipe diparkir jauh dari pondok karena tidak mungkin diparkir dekat keramain. Kudengar aparat kepolisian akan mengambil inisiatif pemindahan tempat praktek Limin ke tempat yang lebih luas dan terkondisi. Karena beberapa hari belakangan beberapa calon pasien Limin yang sedang antre banyak yang pingsan sampai terinjak-injak oleh calon pasien lain. Ada yang patah tangan, patah kaki, luka-luka, dan pasien tersebut dilarikan ke rumah sakit ?aku pikir kenapa tidak diobati saja oleh Limin? Begitulah berita yang kudengar di lepau dari orang-orang dan di berita televisi yang kutonton. Bagiku kini ia bukan lagi Limin si peladang, tapi dukun selebritis dadakan yang mengobati orang dengan batunya. Ya, Limin kini jadi selebritis karena tiap sebentar berita tentang pengobatannya muncul di televisi.

Rencana pemindahan tempat praktek Limin pun terlaksana berkat bantuan berbagai aparat, tidak hanya aparat kepolisian, tentara pun turun tangan membereskan. Kini ia praktek tidak lagi di pondok kayu yang dipinjamkan oleh juragan sawah untuk menunggui sawahnya. Tapi di sebuah rumah besar di kampung sebelah, rumah yang di depannya terletak lapangan sepak bola. Konon, rumah ini disumbangkan oleh orang kaya dari kampung sebelah karena Limin berhasil mengobati anaknya yang sakit perut berkepanjangan.

Lapangan di depan tempat praktek baru Limin dalam bayanganku diisi oleh orang-orang sakit. Orang-orang yang tidak sanggup berobat ke rumah sakit karena tidak punya biaya. Dan mereka memilih pergi berobat ke sana, ke tempat praktek si pemilik batu beruah.
Lewat televisi ?karna aku benar-benar tahu sebelum Limin menjadi juru obat dan tidak ingin ke tempatnya? aku melihat orang-orang makin sesak di lapangan depan tempat prakteknya itu. Persis seperti lapangan tempat diadakannya pentas dangdutan, atau barangkali pasar malam ?calon pasien itu benar-benar tangguh, meraka menunggu antrean siang dan malam. Ada para penjual nasi bungkus, penjual makanan ringan, pedagang es, rokok ketengan, mainan anak, mereka membuka lapak yang menjual beragam kebutuhan calon pasien selama antre di lokasi tersebut.

Berita tentang Limin dan cara pengobatannya yang ajaib makin mendengung karena pemberitaan di televisi. Banyak orang yang berdecak kagum padanya, termasuk para pengunjung tetap lepau kopi tempat Limin biasa duduk dan pernah terlentang sebelum jadi dukun selebritis dadakan. Di lain sisi, kubayangkan kerumunan orang-orang di depan tempat praktek Limin mengharapkan semacam penyembuhan pada dirinya. Dari yang kaya sampai yang melarat, kulihat mereka seperti memohon untuk sembuh pada Limin.

***

Terhitung kurang lebih sudah dua bulan Limin membuka praktek pengobatan. Pastinya ia mendapat penghasilan yang lebih, bahkan berlebihan, daripada penghasilannya sebagai petani atau peladang yang sudah ditinggalkannya. Cerita tentang Limin kini tentu sudah menjadi hal yang biasa, tapi tidak basi. Cerita terus didengungkan dari mulut ke mulut dan pemberitaan televisi.

Di lepau tempat aku biasa duduk setiap malam, kupesan kopi, lalu kuhisap sebatang rokok kretek murahan. Ingatanku sampai pada muasal Limin mendapatkan batu bertuahnya. Batu hitam pipih sebesar telur ayam kampung, batu yang kesat. Batu yang kukira bukanlah penyebab rubuhnya tubuh Limin pada malam itu, tapi sesuatu di luar batu itu. Juga bukanlah batu itu yang kukira bisa menyembuhkan orang-orang. Hal yang tidak kumengerti, tidak Limin mengerti, juga tidak dimengerti oleh orang-orang yang minta pengobatan pada Limin.

Kulihat ke arah televisi, berita tentang Limin, tetapi kali ini lain. Wawancara reporter sebuah stasiun televisi dengan salah seorang keluarga bekas pasien Limin yang sakit parah setelah berobat kepadanya. Bekas pasien Limin tersebut diberitakan baru saja meninggal ketika dilarikan ke rumah sakit.

Aku membayangkan batu hitam tersebut terletak di atas talam dan menyiramnya dengan air. Lalu air tersebut dimasukkan ke dalam plastik bening untuk dibawa pasiennya pulang. Kubayangkan jauh ke dalam hitam batu tersebut. Jauh melebihi pandangan gelap pupil mata Limin seketika ia terlentang dan tak sadarkan diri. Segalanya kulihat hitam, legam, beranjak mengesat. Lalu di sesuatu yang hitam dan kesat tersebut kulihat batu itu menjadi banyak. Makin banyak. Hingga setiap orang yang datang ke tempat praktek Limin memilikinya, bahkan aku juga memilikinya.***
Padang, Februari 2009
[Cerpen ini dipublikasikan di Koran Riau Pos, April 2009]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s