MEMBENDAHARAKAN KATA, MEMAKNAI BAHASA

[telisik singkat tentang buku puisi “Jantung Lebah Ratu” Nirwan Dewanto ini pernah dimuat di koran Riau Pos, Juli 2010]

Barangkali ungkapan Hans Robert Jauss dalam Toward and Aesthetic of Reception (1982) mengenai karya sastra seibarat orkestra memberikan resonansi baru, membebaskan teks dari belenggu bahasa, menciptakan konteks penerimaan bagi pembaca masa kini, berlaku untuk membaca perpuisian Indonesia dewasa ini.  Jauss juga beranggapan, sifat diagonal karya sastra yang seibarat orkestra tersebut, memungkinkan pembaca mengapropiasikan penerimaan masa lampau, pengabaian, bahkan penolakan.
Di lain soal, puisi cenderung berusaha menggapai bahasa dengan gairah artistik tertinggi untuk menghadirkan teks beragam makna. Puisi juga menjadi ladang penyemaian hasil observasi, dari pembacaan terhadap teks budaya dari dalam (asal) dan luar budaya penciptanya. Sebentuk usaha untuk menciptakan pola baru dalam gaya perpuisian Indonesia.

Begitulah beberapa pandangan saya setelah berkali-kali membaca himpunan puisi Jantung Lebah Ratu, karya Nirwan Dewanto (Gramedia Pustaka Utama, 2008)—selanjutnya ditulis JLR. Penerimaan ini mengabaikan hal di luar teks dalam  kumpulan puisi tersebut, semisal: puisi tersebut ditulis oleh si anu, menerima penghargaan anu… Jika penerimaan masa lampau, anggapan Jauss, maka tersirat pada bentuk-bentuk dasar permainan bahasa (language game) pantun dan gurindam dalam JLR. Pola perombakan sampiran serta isi pantun dan gurindam, intertekstualitas simbol-simbol di beberapa puisilah yang membuktikan penerimaan dan perombakan tatanan bentuk yang lama ke yang baru.

Dalam JLR, si penyair di beberapa sajak (bahkan dalam satu sajak) seperti berusaha keras menghadirkan percakapan tiga dimensi subjek lirik yang tidak melulu aku, juga tidak melulu kau, tapi menggapai akukaudia—serta sinonim ketiga subjek tersebut mencakup tunggal dan jamak. Usaha yang membutuhkan kejelian dalam membentuk tananan bahasa agar tiga dimensi tersebut bisa saling membuat penerimaan.

Terkadang penerimaan tersebut tidak dibentuk dari kesepakatan tiga dimensi aku-lirik, kau, dan dia tersebut, bahkan dibuat semacam pertentangan (konflik). Lihat saja pada petikan salah satu puisi berikut: Aku tak bisa menangis sebab kulitmu coklat manggis. Kau tak / lagi mampu melompat, sebab parasku hampir berkarat. Sesung- / guhnya sejak kanak aku hanya mengenal bayang-bayangmu: / sebab aku penjinak binatang, kau peniti tali. (Ingatlah. Ketika / aku mengaum tak henti-henti, kau justru tak hendak kembali. / kau penikmat jurang di bawah sana, aku pemuja langit tinggi.) / sampai para peziarah yang tak tahu malu itu menarik kita ke / sepucuk jembatan mawar dan berujar, “Lihat, alangkah sepadan/ dua kembaran ini.” Seutas tali akar padi liar mereka ikatkan ke / kakimu dan kakiku… (Pengantin Remaja, hal. 68)

Si aku-lirik (tunggal) selaku narator, menghadirkan juga kau (tunggal), sekaligus mereka (jamak). Tiga dimensi yang berusaha keras untuk berinteraksi dengan kandungan konflik di dalamnya. Konflik terbaca jelas seketika si “aku” berungkap tentang segala “sebab” yang menjadi penyebab ia “tak bisa menangis”, (diri)mu “tak lagi mampu melompat”, konflik silang-menyilang, saling menimbulkan sebab-akibat. Juga “peziarah” selaku orang ketiga yang dianggap “tak tahu malu” telah menjadi penyebab “kita” ke “sepucuk jembatan mawar”. Aku lirik yang seharusnya tunggal di sini berubah menjadi jamak dengan “kita”, juga peziarah yang berkemungkinan tunggal, berubah menjadi “mereka” yang jamak. Dibutuhkan ketelatenan untuk membentuk narasi dengan subjek tiga dimensi yang setiap waktu bisa berubah dari tunggal menjadi jamak, begitu juga sebaliknya. Agar narasi yang sudah dibangun dan ditata sedemikian rupa tidak menghancurkan dirinya sendiri.

Ketelatenan penyair dalam mengasah narasi imajinatif dalam mengasuh tiga dimensi dan pola perubahan subjek penceritaan juga tampak, dalam kutipan  puisi yang berjudul Kopi (hal. 72) berikut: Di tangan lelaki itu, kami coba bersabar. / Namun betapa cangkir ini gemetar / oleh tubuh kami / yang luas seperti langit Potosi // Menuju kami wajah lelaki itu. // Kami akan naik ke mulut lelaki itu, / aku dan kembaranku, / aku dan seteruku: / kami akan berpisah selepas leher lelaki itu: / dia ke arah malam di usus besarnya / aku ke arah matahari dan peparunya…/

Yang berungkap di dalam puisi adalah ke-aku-an si kopi yang bermula dari “kami”, berarti sekumpulan, secangkir, atau segelas kopi. Si kopi pada suatu waktu bisa sajak menjadi subjek tunggal yang lirih berungkap “aku”, “kembaranku” menjadi keterpisahan di “selepas leher” (seorang) lelaki. Di kelirihan tersebut, orang ke tiga yang diungkap dalam “lelaki”, “dia”, mendapat semacam efek keuntungan dari kelirihan yang membentuk kesakitan ke-aku-an si kopi.

Dalam puisi yang berjudul Peniti Tali berikut (hal. 88): Terlalu segera tepuk tangan membahana, memalingkan aku dari / badai sandi yang menuntun langkah lambai kakiku. // Terlalu lancip sepatunya, ujar seorang nyonya. Ia melihat dengan jantungnya, jantung belaka, dalih seorang serdadu… Terbaca subjek yang bukan (hanya) aku selaku peniti tali yang berungkap. Ada juga ujaran “seorang nyonya”, dan dalih “seorang serdadu”. Pada bagian lain dari puisi Peniti Tali, hadir juga suara “Aum harimau”, seruan “kaum pengagum”, bebisik “pemilik sirkus”: …Aum harimau di belakangku dan kaum pengagum itu meng- / alirkan sebatang sungai bidang nun di bawah jejaring dan / berseru-seru, terjunlah, terjunlah segera, agar kami lebih bahagia, / lebih nyaring. // Tapi dari menara tertinggi si pemilik sirkus tetaplah hanya // meminati bayang-bayangku sambil mengipas kobaran api. // Ia juru peta yang kehilangan seluruh kampung halaman— / Ia kemarin penjinak binatang, kini hendak menyigi kitab suci— / Ia tak tahu bahwa kematiannya sudah tertera di koran pagi— // Kudengar bebisik itu seraya merapikan rambut dan gigi…

Penghadiran subjek seperti ini barangkali seujar dengan pengungkapan Foucault dengan tindak penggabungan diskursus—sebagaimana puisi juga teks budaya. Meski terksesan rumit, tapi tindak ini memebekas dalam penghadiran subjek dalam puisi. Di mana subjek hadir sebagai kemunculan yang biasa dan menjadi kesatuan universal dalam puisi. Ada juga yang membebaskan dirinya dari geronggong pengelompokan dimensi subjek, mereka (aku-kau-dia) merupakan relasi yang saling melegitimasi diri, saling menggemakan suara masing-masing.

Permainan subjek yang terkesan asing dan sebuah kebaruan dalam pola perpuisian Indonesia. Subjek juga berusaha menggapai “diri” di luar suara-suara manusia, bisa saja anasir dari alam yang membentang, binatang, tumbuhan (semisal: apel, semangka, nanas, kucung, ubur-ubur,  harimau, keledai, gara, musim gugur, dll).  Bahkan benda-benda mati yang berperan penting dalam unsur budaya, mengambil peran penting lagi dalam puisi; bentuk lama berusaha mengartikulasikan diri dalam “bentuk” baru.
Lihat juga puisi dengan judul “Mantra Bungsu” (hal. 46) yang bermula dari subjek “kosong”, samar, sesuatu yang tak terpandang mata telanjang: Kuhauskan diriku / agar kau masuki aku. / Kuringankan jantungku / agar kau layarkan aku. / kutanahkan jasadku / agar kau hujani aku. / Kukeringkan mataku / dan kau airmataku… Fitrah puisi bisa saja terlahir dari gerakan alam bawah sadar yang tak bisa diasumsikan dari sebab apa ia dilahirkan. Hanya gema dari bait-baitnya yang menjadi pembuktian bahwa “sesuatu” yang tak bisa disebutkan itu “ada”, ia bergerak, bergelinjang, berjalan, merangkak, bahkan bisa haus selayaknya laku manusia.

Jika ditelisik lagi pemaknaan puisi dalam JLR, sebenarnya apa? Mungkin saja peng-amin-an dari ketakberdayaan bahasa dalam mengungkapkan segalanya gerak yang terbentuk dan bermain di luar bahasa. Misalkan gerakan mantra yang entah berbentuk apa, tapi ia ada, ia merasuk dalam sebatang tubuh yang diserunya. barangkali
Terlihat juga dalam JLR ikhtiar penyair memberi jalan bagi keterhambatan perbendaharaan kata (leksikon) dan melazimkannya dalam puisi. Ikhtiar tersebut dilempangkan dalam penghadiran beberapa teks “asing”—ada dalam kamus  tapi jarang digunakan: zarah, zuhrah, zahir, sembada, wiru, farji, tohor, meru, dll—yang berusaha “menjadi diri”-nya sendiri dan berusaha menghilangkan kegamangan pemakaian bahasa.

Telisik pendek di atas bukanlah pembacaan akhir, bukan hasil, dari seluruh wacana teks (merujuk bahasa) dalam JLR. Hanya saja pola perpuisian yang disuguhkan penyair dalam himpunan puisi tersebut membuat saya untuk terus menziarahi puisi dari “kematian” penyairnya. Dengan semena-mena saya berusaha memaknainya, selepas usaha penyair memaknainya dengan tekun. Ada pola-pola lain dari banyak puisi yang membentuk JLR, dan akan unik jika ditelisik lebih lanjut: Semisal memaknai kehadiran metafor, perombakan pantun menjadi puisi, laku penerimaan bahasa, serata kecendrugan dari puisi-puisi penyair lain yang menjadi epingon dari JLR, dll. Barangkali di kertas kerja lain yang lebih mempunyai ruang lapang kita akan bisa menelisiknya. Setidaknya telisik ini menjadi ikhtiar saya dalam membaca dan menjangkau ke-semu-an “puisi” yang dimaksud penyairnya: …kau tak bisa menjangkauku / jika pun kau seluas langit lazuardi / sebab kata sesungguh kata / tak bisa mengena / jika kau masih juga / separuh-membaca / separuh-buta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s